harimanado.com
Selalu Ada Yang Beda
PLN
how to make a woman squirt.like it https://www.weneedporn.online
like itjav the thai massage.
nude milfs

Habis Buton, Dua Kelompok Perguruan Silat Bentrok di NTT

 

Foto: Suasana bentrok dua kelompok perguruan silat di NTT. (Ist/HM)

MANADO – Bentrokan dua kelompok perguruan silat terjadi di Naibonat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis (6/6) dini hari tadi. Akibat bentrok itu satu orang tewas.

Kejadian itu berawal ketika Ramos Horta Soares (19), korban tewas, mendatangi tempat pesta di lokasi seratus Desa Manusak sekitar pukul 02.00 wita. Korban kemudian diajak duduk beberapa orang yang tidak dikenalnya.

Beberapa saat kemudian, terjadi keributan mengakibatkan korban tertikam menggunakan benda tajam. Pelaku diketahui berinisial MAB. “Korban meninggal dunia di RSUD Naibonat,” Kasat Reskrim Polres Kupang, Iptu Simson Amalo

Menurut Simson, kejadian itu mengakibatkan dua kelompok perguruan bela diri terlibat bentrok. Dua kelompok itu, yakni Perguruan Kera Sakti dan PSHT.

Ramos merupakan murid dari perguruan PSHT. Sedangkan terduga pelaku berasal dari perguruan Kera Sakti.

Bentrok pun meluas. Kelompok massa yang diduga dari pihak korban pagi harinya melakukan aksi balas dendam. Bentrok itu terjadi hingga pukul 10.24 Wita.

Aksi balas dendam itu mengakibatkan rumah milik Gaspar Dos Santos, 65 tahun, dirusak massa. Sejumlah barang hancur dan satu unit sepeda motor dibakar.

Bentrokan itu menyebabkan korban berjatuhan dari kedua kelompok. Tiga warga dari kelompok penyerang diketahui mengalami luka akibat terkena senjata tajam. Sementara satu dari kelompok yang diserang mengalami luka.

“Tiga korban dari kelompok penyerang mengalami luka panah. Sedangkan dari kelompok yang diserang, satu korban dengan luka lemparan batu,” ujarnya.

Aparat gabungan TNI-Polri diterjunkan mengamankan lokasi bentrokan. Situasi saat ini berangsur kondusif.

Related Posts
dlm artikel

Sebelumnya, 87 unit rumah di Desa Gunung Jaya, Kecamatan Siotapina, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, habis dilalap si jago merah. Terbakarnya rumah tersebut dilakukan oleh sekelompok pemuda dari Desa Sampuabalo, Kecamatan Siotapina, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara.

Kejadian tersebut bermula, pada Selasa (4/6) sekitar pukul 21.00 WITA, sekelompok pemuda dari Desa Gunung Jaya melakukan pawai motor melintasi Desa Sampuabalo dengan cara menggas-gas sepeda motornya. Sehingga memancing kemarahan masyarakat dari Desa Sampuabalo.

Lalu, pada Rabu (5/6), sekitar pukul 13.00 WITA, pemuda dari Desa Sampuabalo menggunakan motor hendak menuju ke SP1 atu Ambuau untuk menemui keluarganya dalam rangka sirahturahim.

“Pada saat melintasi Desa Gunung Jaya pemuda tersebut langsung dibusur dan mengenai dada sebelah kiri, dan pemuda tersebut langsung kembali ke Desa Sampuabalo melaporkan kejadian tersebut,” kata Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara, AKBP Harry Goldenhart Santoso saat dikonfirmasi merdeka.com, Kamis (6/6).

Masih dihari yang sama, sekitar pukul 14.00 WITA, sekelompok pemuda berjumlah kurang lebih 100 orang dari Desa Sampuabalo melakukan penyerangan ke Desa Gunung Jaya dengan melemparkan batu ke rumah-rumah warga. Sehingga masyarakat Desa Gunung Jaya membalas dengan lemparan batu tersebut.

“Karena banyaknya pemuda dari Desa Sampuabalo, sehingga masyarakat Desa Gunung Jaya langsung lari dan mengamankan diri di Desa tetangga dan beberapa pemuda dari Desa Sampuabalo langsung membakar rumah dengan menggunakan, bom molotov dan bensin,” ujarnya.

Atas kejadian tersebut, sebanyak empat unit kendaraan sepeda motor, satu unit mobil milik warga Desa Gunung Jaya, hangus terbakar. Dan satu warga dari Desa Sampuabalo terkena panah pada bagian dada sebelah kiri.

“Masyarakat Desa Gunung Jaya masih berjaga-jaga dan sebagian juga mengungsi di desa-desa tetangga. Kejadian ini tidak ada (banyak korban jiwa) hanya warga Desa Sampuabalo saja yang terkena panah,” ungkapnya.

Situasi Kondusif, Ratusan Personel Gabungan Tetap Berjaga

Saat ini, untuk situasi di Desa Gunung Jaya, Kecamatan Siotapina, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Sudah mulai aman dan kondusif kembali.

Meski begitu, personel gabungan masih terus melakukan penjagaan di desa tersebut. Hal itu agar tak ada lagi bentrokan, sampai melakukan pembakaran rumah kembali.

“Sudah ada 1 Satuan Setingkat Kompi (SSK) atau 100 personel Brimob, 30 personel gabungan Intel dan Serse Polda Sultra,” pungkasnya. (**)

Merdeka.com

jrbm

Leave A Reply

Your email address will not be published.