harimanado.com
Selalu Ada Yang Beda

Menjadikan Diri sebagai Kurban, Pengganti Kibas

LO0NTAR JUMRAH: Ibadah lontar jumrah di Mina. (foto: dokumen)

SAMUDERA Pasir-pasir bata’ al-haramain mengenal betul sosok sayidil imam Sajjad as, tapak kaki suci itu memijakkan penuh kelembutan nembelah sepi baqqa. Dalam munajatnya beliau berucap dengan gemuruh di dada ketika cinta itu menyelimuti dirinya;

ilahi……

si miskin milikMu di pekaranganMu

Si faqir kepunyaanMu di pekaranganmu

Ilahi bintang bintang di langit mulai memudar

Mata hamba-hambaMu masih terlelap dalam tidur malamnya

Inilah hambaMu…

Datang mengetuk pintuMu.  Ampunilah Hamba yang lemah ini dan pertemukanlah hamba dengan datukku Rasulullah SAWW.

Munajat yang menggambarkan sebuah totalitas penghambaan.

Perlahan asy-Syibli mulai mendengarkan pengajaran dari sang Maha Guru…

TANYA : Apakah Anda melewati dua bukit Al-Alamain dan menunaikan shalat dua rakaat sebelumnya? Apakah setelah itu Anda melanjutkan perjalanan menuju Muzdalifah, mengambil batu di sana, kemudian berjalan melewati Masy’aril Haram?

JAWAB : Ya, semuanya sudah saya lakukan.

TANYA : Ketika melakukan shalat dua rakaat, apakah Anda meniatkan shalat itu sebagai shalat Syukur, shalat untuk menyampaikan rasa terima kasih pada malam tanggal 10 Dzulhijjah, dengan harapan agar tersingkir dari semua kesulitan dan mendapat kemudahan?

JAWAB : Tidak.

TANYA : Ketika melewati dua bukit itu dengan meluruskan pandangan, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, apakah Anda benar-benar bertekad tidak akan berpaling pada agama lain, tetap teguh dalam agama Islam, agama yang hak yang diridhai oleh Allah SWT.? Benarkah Anda memperkuat tekad untuk tidak bergeser sedikitpun, dalam hati, ucapan, gerakan maupun perbuatan?

JAWAB : Tidak.

TANYA : Ketika berada di Muzdalifah dan mengambil batu di sana, apakah Anda benar-benar bertekad membuang jauh-jauh segala maksiat dari diri Anda, dan berniat mengejar ilmu dan amal yang diridhai oleh Allah swt?

JAWAB : Tidak.

TANYA : Saat melewati Masy’aril Haram, apakah Anda bertekad menjadikan diri Anda sebagai teladan Islam seperti orang-orang yang bertakwa kepada Allah swt?

JAWAB : Tidak.

KESIMPULAN : Kalau begitu, Anda belum melewati Al-Alamain, belum melakukan shalat dua rakaat, belum berjalan menuju Muzdalifah, belum mengambil batu di tempat itu, dan belum melewati Masy’aril Haram.

TANYA: Apakah Anda telah sampai di Mina, telah melempar Jumrah, telah mencukur rambut, menyembelih hewan kurban, menunaikan shalat di masjid Khaif; kemudian kembali ke Mekkah dan melakukan thawaf ifadhah?

JAWAB : Ya, saya sudah melakukannya.

TANYA : Setelah tiba di Mina, apakah Anda menyadari bahwa Anda telah sampai pada tujuan, dan bahwa Allah telah memenuhi semua hajat Anda?

JAWAB : Tidak.

TANYA : Saat melempar Jumrah, apakah Anda bertekad melempar musuh Anda yang sebenarnya yaitu iblis dan memeranginya dengan cara menyempurnakan ibadah haji yang mulia itu?

JAWAB : Tidak

TANYA : Ketika mencukur rambut, apakah Anda bertekad untuk mencukur semua kehinaan diri Anda sehingga diri Anda menjadi suci seperti baru lahir dari perut ibu Anda?

JAWAB: Tidak.

TANYA : Ketika melakukan shalat di masjid Khaif, apakah Anda benar-benar bertekad tidak merasa takut kepada siapaun kecuali kepada Allah swt dan dosa-dosa yang telah Anda lakukan?

JAWAB : Tidak.

TANYA : Ketika menyembelih binatang kurban, Apakah Anda bertekad memotong belenggu kerakusan diri Anda dan menghayati kehidupan yang suci dari segala noda dan dosa? Dan apakah Anda juga bertekad untuk mengikuti jejak nabi Ibrahim (sa) yang rela melaksanakan perintah Allah meski harus memotong lehe rputeranya yang dicintai?

JAWAB : Tidak.

TANYA : Ketika kembali ke Mekkah untuk melakukan thawaf ifadhah, apakah Anda berniat untuk tidak mengharapkan pemberian dari siapapun kecuali dari karunia Allah, tetap patuh kepada-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan selalu mendekatkan diri kepada-Nya?

JAWAB : Tidak.

KESIMPULAN : Jika demikian, Anda belum mencapai Mina, belum melempar Jumrah, belum mencukur rambut, belum menyembelih kurban, belum melaksanakan manasik, belum melaksanakan shalat di masjid Khaif, belum melakukan thawaf ifadhah, dan belum mendekatkan diri kepada Allah swt.

Sayidil Imam as pun berkata kepada sang murid asy-Syibli : LAKUKANLAH HAJI LAGI KARENA ANDA BELUM BENAR-BENAR MENUNAIKAN HAJI..

Asy-Syibli pun tersungkur seperti sahara gersang tak dikunjungi setetes embun….

Wahai ‘pewaris Habil’, ‘penuntut balas kematian bapakmu’,

Kabil tidaklah mati..!

Wahai ‘pewaris Adam’, ‘kepada siapa para malaikat bersujud’, setan sedang membalas kekalahannya sekarang.!

Menjauhlah dari kejahatan ini yang memiliki tiga wajah, tujuh warna kulit, tujuh puluh ribu trik dan “membisikkan ke dalam hati manusia”.

Berlindunglah kepada Allah, “Tuhan Penguasa Fajar”, “Pemilik Manusia”, “Raja Manusia” dan “Kekasih Manusia”.

Dan engkau, wahai Haji, tetaplah di Mina setelah Ied Kurban (Adha), dan tembaklah ketiga berhala itu tujuh kali setiap hari.

Setiap hari bagaikan hari ‘pengorbanan, setiap bulan bagaikan Zulhijah, dan…

setiap negeri bagaikan Mina dan seluruh kehidupan bagaikan haji. (Ali Syariati)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.