harimanado.com
Selalu Ada Yang Beda
PLN
how to make a woman squirt.like it https://www.weneedporn.online
like itjav the thai massage.
nude milfs

Polemik Dua Anak Negeri, (Tanggapan atas Dialektika Katamsi Ginano dan Funco Tanipu)

Oleh: Samsi Pomalingo*

KAGET  tidak seperti biasanya, ketika membuka notifikasi di facebook (FB) begitu banyak yang masuk salah satunya yang menarik adalah tulisan seorang Sosiolog Universitass Negeri Gorontalo (UNG) Funco Tanipu  berjudul Siapa Sebenarnya yang Hulodu yang diposting (6 Mei Pukul 14.45) di FB.

Saya bertanya-tanya gerangan apa yang terjadi. Siapa yang mohulodu (bodoh).

 

Related Posts
dlm artikel

Tidak biasanya Funco Tanipu menulis dengan judul seperti itu. Saya membaca begitu banyak pernyataan yang menurut saya kurang etis ditulis disaat berpuasa.

 

Mungkin lebih dari 20 orang yang sepekat dengan apa yang ditulis oleh kandidat doktor Antropologi UNHAS (Universitas Hasanuddin) Makassar.

Saya makin bingung dan penuh tanya. Apa yang sedang terjadi, sebuah perdebatan di wiliyah publik melalui Facebook.

 

Saya makin penasaran, ternyatakemaraahanFunco Tanipu adalah sebuah reaksi dan tanggapan atas tulisan seorang wartawan senior asalManado Sulawesi Utara Katamsi Ginano yang menulis di salah satu media online di Manado. Judulnya ”PSBB Hulodu” yang dimuat di Harimanado.com pada 6 Mei 2020.

Kritikan dan cemoohan dari sahabat-sahabat Funco Tanipu  kepada Katamsi Ginano membanjiri kolom komentar FB Funco Tanipu.

Hanya selang beberapa jam kemudian muncul lagi tulisan dari Katamsi Ginano yang berjudulTafsir Ngeres’ Covid-19 dan PSBB (Tanggapan Balik atas Tulisan Funco Tanipu) yang dimuat di media yang sama.

Saya yakin sudah banyak yang membca kedua tulisan mereka termasuk para pengkritik yang mendukung Funco Tanipu.

 

Saya pun harus hati-hati dan cermat bahkan lebih dari dua kali membaca tulisan dua anak negeri tersebut.

 

Mencoba memahami diksi dan frasa yang digunakan, semua biasa-biasa saja tanpa harusdiproblematisasi.

 

Tapi disatu sisi ini menarik untukdiamati dan direfleksi sebagai bagian dari polemik pemikiran (perdebatan) yang harus didokumentasikan dalam memori kolektif masyarakat Gorontalo.

Saya sendiri tidak ingin menulis tema yang jadi perdebatan kedua anak negeri tersebut.

 

Karena secara intelektual dan jam terbang (aktivitas) saya masih dibawah level mereka berdua.

Sehingga saya tidak mau ikut-ikutan mengkritik atas apa yang mereka tulis.

Biarlah itumenjadi konsumsi pengetahuan orang-orang yang berkompoten dalam ilmu kesehatan, farmasi, lingkungandan sebagainya.

Saya hanya ingin menulis sesuatu apayang saya sebut sebagaiPolemik Pemikiraan”.

Gorontalo sebenarnya secara sosio-religius memiliki sejarah panjang mengenai polemik pemikiran sekitar tahun 1970an.

Perdebatan di wilayah public yang senantiasa mengedepankan adab sehingga tidak berujungkonflik kelompok, golongan, aliran atau madzhab.

Polemik yang terjadi justru sangat sarat dengan etika yang menjadi modal sosial dalam mengatasi polemiktersebut.

Kedua kelompok sadar bahwa berbedapendaapat adalaah rahmat.

Tengoklah bagaimana polemik pemikiran keaagamaan yang terjadi di Minagkabau yang justru berakhir konflik karenaketerbatasanpemahaman agama dan juga pengaruhgerakan puritanisme yang dimotori oleh gerakankelompok Wahabi.

Gorontalo patut bersyukur karena kedewasaan dalam beragama sangat kuat dan mengakar dalam mindset tokoh-tokoh agama Islam ketika itu.

Soal berbedapendapat adalah sesuatu yang wajar dan tidak perlu adaketersinggungan yang berlebihan.

Sebab sesuatu yang berlebihan biasanya mendatangkan kemudhorotan disana sini.

Dilain pihak karenaa kuatnya nilai-nilai kearifanlokal Gorontalo yang tidak hanya ditulis dalam karya-karya orang, tapi juga terinternalisasi dengan baik dalamdiri orang-orang Gorontalo, seperti sikap mowema, motidu’oto, molimomoto dan molumboyoto.

Apa yang terjadi di antara dua anak negeri saat ini, mengingatkan saya pada tulisan Michel Foucault (1984).

Ia menulis seperti ini;

Saya suka diskusi, dan ketika saya ditanya tentang sesuatu, saya mencoba menjawabnyaMemang benar saya tidak suka terlibat dalam polemik. Jika sayamembuka sebuah buku dan melihat bahwa penulis itu menuduh  musuhkiri kekanak-kanakan“, saya langsungmenutupnya. 

Itu bukan cara saya melakukansesuatuSaya bukan milik dunia orang yang melakukanhal-hal seperti ituSaya menegaskan perbedaan inisebagai sesuatu yang penting: seluruh moralitasdipertaruhkan, menyangkut pencarian kebenaran danhubungan dengan yang lain”.

Mungkin suatu hari nanti kita harus menulis sejarahtentang polemik di Gorontalo, baik itu polemikpemikiran agama, politik dan lain-lain sebagainya.

Apakah itu polemik sebagai tokoh parasit dalam diskusiuntuk mencari kebenaran. Sebab di negeri ini (mungkinkarena mental malas) catatan-catatan penting tentang polemik pemikiran jarang ditulis terutama yang bersifat lokalitas.

Sehingga kita mengalami keterbatasan dalam melacak suatu peristiwa yang penah terjadi di daerahkita.

Tidak sedikit orang-orang yang terlibat dalampolemik tapi jarang orang mendokumentasikan secaaravisual maupun non visual.

Secara skematis, bagi saya tampaknya hari ini kita dapat mengenali kehadirandalam polemik dalam tiga model yakni; pandemic covid-19, budaya dan etnosentrisme yang terjadi antara duaanak negeri yang berdiri di atas kebenarnnya masing-masing (ego). Seperti dalam heresiologi,

polemikmenentukan titik dogma yang tidak berwujud, prinsipmendasar dan perlu yang diabaikan, atau dilanggar olehlawan dalam polemikbahkan lebih parah denganmengecam kelalaian ini sebagai kegagalan moral.

Pada akar kesalahan ia menemukan gairah, keinginan, minat dan serangkaian kelemahan dan keterikatan yang tidakdapat diterima yang menjadikannya sebagai kesalahan

Polemik mendefinisikan aliansi, menyatukan kepentingan atau pendapat, mewakili dirinya sendiri.

Dalam polemik, seseorang akan menetapkan yang lain sebagai lawan, penopang kepentingan yang bertentangan yang dengannya seseorang harus berperang sampailawan ini dikalahkan dan menyerah atau menghilang.

Apakah ini yang terjadi pada dua anak negeri itu. Kita akan lihat sampai sejauh mana mereka bisa bertahan dalam berpolemik. Saya kira tergantung dari amunisi pengetahuan kedunya.

Dalam berpolemik (jika satu sama lain saling bertahandengan tidak sehat) maka hanya ada satu gerakan yang mungkin akan muncul dari alam bawah sadar yaknimenang atau kalah.

 

 Menang atau kalah dalam perdebatanitu hal yang biasa. Yang terpenting dari itu semua adalahadab dan etika yang dikedepankan. Bukan emosi yang membabi buta dan tak berdasar.

 

Namun, dalam urutanwacana, mereka juga bertindak bukan tanpakonsekuensi. Ada efek sterilisasi. 

 

Adakah yang pernahmelihat atau membaca ide baru yang keluar dari polemikdi antara mereka berdua? 

Mudah-mudahan adaBagaimana bisa sebaliknya, mengingat bahwa di sinilawan bicara (melalui tulisan) semacam dihasut (daridalam diri sendiri) untuk tidak mengambil risiko lebih banyak dalam apa yang mereka tulis, tetapi klaim danlegitimasi mereka, yang mereka pertahankan, dan padapenegasan ketidakbersalahan di antara mereka berdua

Kita bahkan tidak harus membayangkannya. Apakah inihanya penyimpangan dari apa yang seharusnya menjadidiskusi atau perdebatan yang benar?

Tidak samasekali, mereka berdua adalah konsekuensi nyata darisikap polemik yang efeknya biasanya tetapditangguhkan.

Saya teringat kalimat singkat yang ditulis oleh sahabatdekat “Virus kita adalah jarang tuntas dalam artikulasigagasan, penuh jargon dan tendensi, sehingga jika tibawaktunya dengan orang yang berkelas dengan nalaryang lurus, akhirnya kita mencari-caripembenaranpublikdan menjauhi argumentasi yang solid.

 

Gagasan atau pikiran bukanlah apa yang mendiami perilakutertentu dan memberinya makna, melainkan, itulah yang memungkinkan seseorang untuk mundur dari carabertindak atau bereaksi ini, untuk mempresentasikannyakepada diri sendiri sebagai objek pemikiran danmempertanyakannya tentang makna, kondisi, dantujuannya.

 Pemikiran adalah kebebasan dalam kaitannyadengan apa yang dilakukannya, yang digerakkan olehyang satu melepaskan dari hal itu, menetapkannyasebagai objek, dan mencerminkan sebagai masalah.Semoga bermanfaat.

*Penulis adalah Peneliti pada Pusat Studi DokumentasiH.B. Jassin Provinsi Gorontalo.

jrbm

Leave A Reply

Your email address will not be published.