harimanado.com
Selalu Ada Yang Beda

Penghuni Rumah Singgah Diklat Sulut, Beberkan Kisah 16 Hari Dikarantina

Mami Bergizi, Pagi Sore Olahraga, Malam Bisa Karaoke 

Rumah singgah masih distigma negative. Di bawah bayang-bayang kelam. Kesannya mirip gedung isolasi. Suasana agak seram dan para penghuni stress.
 
Apakah benar seperti itu? Simak kesaksian penghuni rumah karantina di Gedung Balai Diklat Provinsi di Maumbi, Minut.
DIPULANGKAN: Para penghuni rumah singgah Balai Diklat Provinsi Sulut dipulangkan setelah karantina 16 hari tanpa ada gejala covid 19, pada Sabtu (6/6) pagi. (Foto: dok pribadi)
Oleh: Idam Malewa
HARI masih pagi. Sisa embun malam belum menguap. Sinar mentari dari ufuk timur mulai nampak. Pelan pelan merangkak di punggung Gunung Klabat.
Walau hari belum terang, keramaian para penghuni telah tampak di gedung Balai Diklat Provinsi Sulut.
SANTAI: Isi waktu dengan main kartu remi

Gedung ini terletak di jalan raya Maumbi. Persis di tepi jalan. Tak jauh dari Kota Manado. Jarak tempuh 10 km dari zero point. Atau lama perjalanan sekira 20 menit. Posisinya agak masuk ke dalam.

Di asrama berlantai dua berwarna cream, rupa rupa kesibukan yang dilakukan sekira 50 an penghuni dua gedung asrama.
Semua adalah warga asli Sulut. Berasal dari beberapa kabupaten dan kota. Seperti Manado, Bitung, Mitra Minsel, Bolmut dan Boltim.
Mereka merasa betah lantaran suasana gedung nyaman dan teduh. Halamannya luas dan sejuk.Dipenuhi pohon pohon rindang.
“Kami sama sama pulang dari Maluku Utara. Karena protap covid 19 dan peraturan pemerintah kami sepakat karantina di rumah singgah,”tutur seorang penghuni Ridwan Olii dengan wajah ceriah Sabtu (6/6) pekan lalu.
Kata bapak asal Ternate Baru, sudah dua minggu atau 16 hari lamanya dijamu di sana. Mulai diisolasi di gedung Jumat (22/5) pagi.
Dipulangkan ke rumah masing masing Sabtu (6/6) pagi.
Akibat sudah berhari-hari berkumpul. Mereka seperti enggan berpisah.
Gedung Balai Diklat Prov Sulut.(foto:dokpribadi)

 

Makanya jelang pulang , mereka merasa ada yang berbeda. Mereka sudah tahu akan berpisah. Entah kapan bisa bercanda lagi.

Penuturan Yeni Kaloh, warga Basaan, Minahasa Tenggara, perasaan kehilangan mulai terasa ketika dinyatakan sehat.
Sambil main kartu remi, Yeni mengaku akan kehilangan suasana.
Ibu paruh baya ini,  merasa enggan keluar. Padahal sudah dinyatakan bebas kembali ke rumah. Alias tidak ditemukan gejala covid 19.
“Kebetulan ada keluarga sama-sama di gedung diklat. Dan beberapa orang kampung. Saya merasa sangat betah ya,”tutur oma Yeny sambil tersenyum.
Alasan mereka selama dikarantina, para petugas covid 19 merawat dengan baik. Mereka dijamu seperti tamu terhormat. Diperlakukan seperti keluarga.
Sudah terjalin rasa akrab. Mulai saling memahami dan kerap tukar pikiran.
Meski berbeda agama, yang muslim dan kristen, tidak ada sekat.
Muslim yang taat, mengerjakan sholat lima waktu. Begitu juga kristiani.
Related Posts
”Alhamdulillah saya dan beberapa teman muslim bisa sholat dengan tenang. Saudara kristiani saling mendukung juga,”tutur ustadz Tony Nau.
Iwan menambahkan setiap pagi, mereka bebas melakukan aktivitas olah raga.
Ada yang lari pagi. Joging keliling asrama. Ada yang main bola kaki.berjemur dan lain lain.
Aktivitas sore, main bola, lomba lari, lomba panco, main game, main kartu remi.
“Kalau malam kita main musik, ada yang bawa mic karaoke,”katanya.
Nah bagaimana dengan makanan dan minuman (mami)? Kalau itu kata tokoh muda Ternate Baru sangat terjamin.
Orang luar jangan kaget. Apalagi heran. Sejak pertama kali injakkan kaki di asrama diklat, mereka sudah diberi asupan makanan dan perlengkapan.
“Perlengkapan lengkap dikasih. Sabun mandi, sabun cuci, odol, sikat gigi sampai handuk dikasih,”ucap politisi Hanura ini.
Untuk makan tiap hari, puji Allah diberi jatah sarapan, makan siang dan makan malam. Itu pun belum termasuk snack pagi jam 9 dan sore hari.
Menu makan lengkap dengan buah buahan. Ada semangka, pisang, jeruk, Suplemen susu, apel dan malkist diberikan sekali kepada yang hamil.
“Menunya sangat asyik dan ganti ganti. Menu ayam, daging, ikang pipi dan ikang goreng bergantian,”ucap Iwan yang nampak brewokan dan rambut tebal.
Untuk air minum diberi Air mineral. Dijatah tiga karton setiap kamar. Setiap kamar dihuni tiga orang. Khusus keluarga dikasih satu kamar. (Bersambung)

Leave A Reply

Your email address will not be published.