harimanado.com
Selalu Ada Yang Beda

Pindol, Desa Dekat Ibukota Tapi Belum Nikmati Kemerdekaan Sejati

Perjalanan Menyusuri Desa Terisolir 

SEJATINYA Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke 75 dirasakan seluruh masyarakat.

Tetapi hakikat kemerdekaan di masa sekarang, belum dirasakan semua warga.

Salah satu contoh, masyarakat di Desa Pindol, Bolmong induk. Letaknya dekat dengan ibu kota pemerintahan, namun terisolasi.

Catatan: Alan, Bolmong

JARUM jam di tangan di posisi pukul 13.00 Wita.

Di siang bolong seperti itu,terik matahari panas menyengat.

Seolah lagi memanggang Kota Lolak, ibukota Kabupaten Bolmong.

Bunyi mesin kendaraan terdengar ramai melewati akses Jalan Trans Sulawesi.

Dari kantor bupati, aku memacu motor matik ke suatu desa yang berada di punggung perbukitan.

Di sana terdapat beberapa desa. Punggung bukit itu dijuluki kawasan Pindol. Singkatan Pinolosian Doloduo.

Di Bolmong banyak desa terletak agak di ketinggian. Salah satunya Desa Pindol.

Dari Lolak, Kantor Bupati Bolmong, jaraknya tidak jauh amat. Sekira 20 Km. Waktu  tempuh sekira  30 menit, menggunakan kendaraan roda dua.

Desa Pindol seluas  sekira 14.000 hektar.

Lahannya cukup subur. Dihuni sekira 800 jiwa atau sekira 150 KK. Penduduk Desa Pindol tersebar di dua dusun.

Hampir 90 % warganya sebagai petani. Mereka menanam apa saja. Hanya saja hasil pertanian tidak bercukupan.

Maklum mereka mengaku penghasilan rata-rata Rp1 juta sebulan.

Kondisi Desa Pindol cukup memprihatinkan. Padahal desa ini akses jalan penghubung antara Kecamatan Lolak dan Dumoga.

Namun, akses jalan bisa dilalui andai tidak terjadi hujan.

Pasalnya jalan ini sering bencana longsor dan genangan air.

Desa ini tidak begitu jauh dari pusat Pemerintahan Kabupaten Bolmong.

Untuk sampai di sana, harus melewati sekira lima desa.

Yakni Desa Tombolango, Lolak, Mongkoinit, Pinogaluman, Pindolili dan Pindol.

Ketika berada di Desa Pinogaluman, pengendara harus berjalan dengan penuh kehati-hatian.

Lantaran akan melewati daerah terjal, tikungan tajam, dan jalan rusak berlubang. Brukkkkkkkkk,….

Ketika motor melaju di posisi menurun, sebuah kendaraan proyek ukuran besar berwarna putih bercorak kuning menyalip.

Dari dalam mobil kedengaran seruan.

“Hati-hati jalan berpasir dan licin,” teriak salah satu pengendara roda empat ketika melewati kendaraan kami.

Saat itu berada di belakang kendaraan besar, tepatnya di jalan menurun dengan kemiringan sekira 45 derajat di Desa Pindol.

Ketika melewati beberapa rumah warga, sejumlah anak-anak bermain.

Para orang tua duduk diam di depan rumah melihat kendaraan yang lewat.

Seakan debu yang berterbangan, menjadi hiburan menutupi kesenjangan karena jauh dari keramaian.

”Untuk Desa Pindol berada di sebelah desa ini. Kira-kira sekitar 500 meter dari sini,” jelas salah satu wanita berambut putih.

Wanita dengan wajah kusam itu, menggunakanan kaos hitam, agak robek di bagian tangan dan memakai celana pendek cokelat. Namun tidak memakai sendal.

Perempuan berkulit kecokelatan ini, duduk tepat di depan rumah yang terbuat dari kayu dan triplek. Letak rumah si nenek tidak jauh dari badan jalan yang berdampingan dengan beberapa rumah lain.

Namun rumah di tempat itu, hampir sama bentuknya.

Perjalanan dilanjutkan. Beberapa menit kemudian, di jalan menurun di depan rumah dihiasi dengan bendera di sisi kiri dan kanan jalan.

Related Posts

Tepatnya di depan rumah warga.

“Ya ini Desa Pindol,” sebut seorang pria berumur sekira 50 tahun menggunakan kacamata hitam. Saat itu ia mengendarai Motor Yamaha King.

Orang tersebut terlihat cuek. Gaya bicaranya khas orang Mongondow. Dalam perjalanan tadi, mulai dari Desa Pinogaluman sampai ke Desa Pindol, ada sekira 55 titik jalan berlubang. Ada Enam buah jembatan.

Beberapa jembatan lainnya sudah tak sesuai dengan lebar jalan.

“Inilah kondisi desa kami. Rumah milik warga disini sering kali berdebu, akibat kendaraan proyek yang bolak balik. Jalanpun semakin rusak,”jelas Muhdar Gobel.

Ternyata beliau merupakan seorang sangadi di Desa Pindol.

Sekitar 20 menit di Pindol, kendaraan pribadi hanya empat mobil mini bus dan Enam motor yang lewat.

Selain itu, terlihat seperti kendaraan proyek yang lalu-lalang.

”Diujung desa ini ada proyek terbesar di Indonesia Timur. Yakni pembangunan Waduk Pindol. Mirisnya akses jalan menuju desa ini buruk. Lihat saja sendiri. Jalannya banyak yang berlubang,” ungkapnya.

Dari celana berwarna cokelat milik saya, keluar sebuah handphone Oppo. Dua kali dilakukan restar.

Tetap pada bagian pojok atas tertera tanda silang. Gelisah bercampur kesal tersirat.

“Di desa ini handphone tidak berguna. Tadi saya mau telpon, jadi harus ke Gunung Pindol,” respon Muhdar sambil menujuk arah gunung yang dimaksud.

Dari Tahun 1970 sampai saat ini, masyarakat di Pindol tidak menikmati jaringan internet atau jaringan telepon.

Sehingga bisa dikatakan desa ini terisolasi dari perkembangan zaman modern.

Padahal desa ini tak begitu jauh dari akses Perkotaan Lolak.

“Saat datang kemari lihat saja, sebagian masyarakat hanya duduk di tepi jalan. Mainan tradisional menjadi pelarian anak-anak meski debu berterbangan.

Tidak seperti masyarakat lainnya. Bisa mengenal facebook dan game online.

Sudah 50 tahun tidak merasakan hal tersebut. Padahal di sini ada proyek nasoinal yang sudah beraktiftas selama Lima tahun. Tetapi jaringan telepon aja tidak ada,” ungkapnya.

Ia membeberkan, untuk mendapatkan jaringan telepon masyarakat harus menanjak Gunung Pindol, yang jaraknya sekira 5 kilo dari desa.

Tentunya kejadian ini, menjadi kendala bagi anak-anak SMU dalam melakukan belajar jarak jauh. Karena adanya pandemic Covid 19.

Kalau SMP dan SD, ada sekolahnya. Namun untuk SMU hanya ada di Lolak. Dan mereka sekarang menggunakan system internet.

“Jadi harus ke Gunung Pindol atau pergi ke Kota Lolak yang jaraknya sekira 15 Kilo. Bisa juga ke Desa Pinogaluman dengan jarak 10 Kilo. Kasihan anak-anak kita harus melewati jalan tersebut setiap pagi hari, jika ingin belajar jarak jauh. Kan sangat berbahaya,” jelasnya.

Putri Paputungan (16) bersekolah di SMK Yadika Manado mengatakan beberapa kali ditegur gurunya, karena terlambat memasukkan tugas.

“Kalau hujan kita tidak bisa ke Lolak untuk mencari jaringan. Jadi tugas tidak bisa dikirim. Akhirnya saya dimarahin guru.

Akibat kejadian itu, guru saya datang mengunjungi rumah saya di Pindol ini, untuk membenarkan kejadian tersebut.

Harapan saya semoga desa ini bisa ada jaringan, sehingga bisa menggunakan media social atau melihat perkembangan teknologi lainnya,” ungkap wanita yang duduk di bangku Kelas 12.

Ia membeberkan saat siang hari, daerah ini terlihat sunyi.

Karena banyak orang tua yang mengantar teman-temannya untuk mencari signal di Pinogaluman atau di Lolak.

“Teman saya ada yang sekolah di Lolak dan Kotamobagu. Jadi saat siang begini, mereka diantar orang tua untuk mencari signal. Kami tidak mau ke Gunung Pindol karena berbahaya. Kebanyakan orang-orang tua yang ke sana untuk cari jaringan telepon. Kami memang sering terlambat mendapatkan informasi. Jadi keseharian kami hanya membantu orang tua dan tidur,” bebernya.

Evendy Paputungan menerangkan bahwa semua anak-anak ke Pinogaluman atau Lolak harus diantar oleh orang tua. Sebab akses jalan sangat rusak.

“Tentunya sangat mengganggu. Apalagi masyarakat disini harus pergi ke kebun pagi hari. Mau tidak mau, kami harus mementingkan masa depan anak kami. Meski harus ke kebun atau bekerja sudah siang hari,”ujar Evendy yang saat itu terlihat kaget atas kedatangan kami.

Lanjutnya, saat ini Indonesia telah merdeka. Namun kemerdekaan yang mereka rasakan jauh dari perkembangan zaman modern.

Apalagi ini merupakan zaman modern yang penuh dengan perkembangan informasi.

“Sekarang semua bisa dilakukan dengan internet. Namun kami mau berkomunikasi saja dengan keluarga sangat susah. Lihat saja masayarakat sini memasang bendera berarti sikap nasionalis masih tertanam di hati semua masyarakat. Tetapi apakah pemerintah memperhatikan kejadian ini? Tentu tidak. Pasalnya hingga saat ini tidak ada upaya untuk menyelesaikan masalah ini. Bisa dikatakan kami terisolasi dari perkembangan zaman modern,” tandas laki-laki berumur 46 tahun ini, dengan nada agak keras.

Diketahui bersama untuk Jalan Pindol ada sekira tiga desa yang tidak mendapatkan jaringan. Yakni Desa Pindolili, Pindol dan Totabuan.

Untuk daerah Pindol menurut informasi sudah ada dua kali dilakukan survey titik kordinat pemasangan tiang.

Namun hingga saat ini belum ada yang terlaksana.(alan)

Leave A Reply

Your email address will not be published.