FGD POKDEM-Jurnalislam, Liando: Ada 5 Perilaku Pemilih, Politik Identitas Lebih Subur di Kota

0
Dr FerryD Liando

 Politik Elektoral, Kemana Suara Umat? (2/Bersambung)

TULISAN sebelumnya Dr dr Taufik Pasiak mengupas tentang bagaiman melahirkan mesin pendorong suara umat.
Kata pakar neurosains harus ada tokoh kuat dan narasi yang kuat. Tokoh ini harus didesain. Supaya dia akan terus menerus menyodok emosi umat.
Apa yang dikatakan Taufik, tidak beda jauh dengan pakar politik dan kepemiluan Dr Ferry Liando punya ulasan menarik.
Para pembahas FGD Politik Elektoral Kemana Suara Umat. (Dari kiri): dr Makmum Jafara, Baso Affandi, Ferry Liando, Idam Malewa (moderator), (tak kelihatan) Agus Abdullah, Joko Sutrisno, Troy Pomalingo, Buang Bua, Hadi, Jefry Alibasyah.(foto:dok)

Liando kemudian memetakan tipologi pemilih. Ada empat- lima prilaku pemilih.

Pertama, pemilih politis. Seseorang memilih karena kesamaan kepentingan.
Pemilih merasa calon mampu mewujudkan program yang sesuai kepentingannya.
Bisa karena pertimbangan satu profesi. Dokter atau jurnalis akan pilih sesamanya.
Kedua pemilih sosiologis, memilih lantaran kesamaan identitas. Kesamaan aliran di organisasi. Jadi condong ke hubungan emosional. Bisa agama, suku, etnis atau sama daerah asal.
“Pemilih sosiologis condong militan kepada calon yang punya latar belakang kesamaan agama dan daerah. Mereka ini akan mudah diarahkan jika ada tokoh yang kuat,” katanya.
Ketiga pemilih apatis, adalah mereka yang tidak peduli, lantaran tidak memberi dampak apa-apa.
Biasanya mereka akan memilih dengan banyak pertimbangan.
Mereka sangat kritis. Tidak mudah percaya. Ada penyebab, bisa saja akibat trauma masa lalu.
Pemilih pragmatis. Yang memilih karena imbalan jangka pendek. Terpaksa memilih karena keadaan.
Terakhir pemilih tragis. Terpaksa atau dipaksa oleh kekuatan penguasa. Karena mereka bergantung nasibnya kepada penguasa. Misalnya ASN. orang tua lanjut usia. Penerima PKH atau THL.
“Lima kategori ini bisa lahir dan mati kapan pun. Misalnya pemilih politis bisa jadi apatis. Pemilih tragis akan hilang jika tidak ada kepentingan incumbent. Dan biasanya pemilih sosiologis ada di kota seperti Manado,”tuturnya.
Terkait dengan kemana suara umat, Liando tidak terlalu yakin kalau di Sulut politik identitas akan berdampak besar.
Lantaran sosiocultur pemilih Sulut tidak terlalu heterogen. Karena Kawin mawin dan lainnya.
Sosiolog Nono Sumampow banyak membeber data terkait angka pemilih Muslim tidak serta merta akan menguntungkan calon seagama.
Dia merujuk pada pemilhan legislatif. Seharusnya kata Nono dengan pemilih Muslim sekira 38 persen. Jika dikonversi ke jumlah anggota DPRD Manado  minimal 12 kursi. Dan mayoritas kursi itu disumbang dari daerah Tuminting Bunaken dan Singkil Mapanget. Tapi faktanya hanya 20 an persen.
“Kuat secara demografi tapi lemah untuk satu kepentingan,” katanya.
Hadi P Ketua Pemuda Muslimin Manado sepakat bahwa kepemimpinan di elit Muslim kurang mengakar. Sehingga harapan membawa suara umat mustahil. Mereka lemah karena tidak kuat finansial. Mereka biasanya kelihatan kuat, padahal hanya klaim.

(hm/bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here