Krisis Etika Bangsa di Tengah Pandemi

0
Dr Syaiful Bahri Rurai

Dr Syaiful Bahri Ruray

 

KITA  seakan disuguhkan pemandangan miris akhir-akhir ini. Acapkali subuh hari, setelah berdzikir, lalu membuka layar televisi, gadget dan media nasional kita dibanjiri oleh berita yang menyesakkan dada.

 

Seperti baru-baru ini terjadi penyerangan ulama santun seperti Syekh Al Jabeer di depan umum. Syekh yang sedang berdakwah di halaman sebuah masjid di Lampung yang tengah merayakan khataman Al-Qur’an, diserang tiba-tiba.

 

Untung saja Syekh Al Jabeer adalah seorang pendekar Muhammadiyah karena pernah mengikuti pelatihan kanuragan pada perguruan silat Tapak Suci tersebut.

 

Berikutnya aksi vandalisme di semua mesjid di Tangerang yang luar biasa, dilakukan di siang bolong pula.

 

Dan 30 September 2020, lagi-lagi suguhan tak elok kita saksikan, ketika para purnawirawan TNI dari berbagai matra hendak berziarah dan berdoa ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

 

Seketika ada massa pendemo yang mengacaukan acara berkhidmat kepada arwah para pahlawan bangsa tersebut.

 

Sebuah angkot dihancurkan massa pendemo. Terlepas dari pro dan kontra, siapa dan apa motif politik dari tokoh-tokoh yang hadir dalam acara berkhidmat tersebut, membuat kita terkejut.

 

Seluruh kejadian ini, terjadi ditengah kita menghadapi musuh bersama yaitu ancaman pandemi global Covid-19, yang hingga kini masih belum satupun negara menemukan solusi efektif untuk mengakhirinya.

 

Karena vaksin yang di kalim berbagai negara, belum satupun menunjukkan efektifitasnya karena barulah sebatas uji coba belaka.

 

Sementara ekses lain dari pandemi global ini, adalah hadirnya resesi ekonomi yang akan melanda dunia. Pandemi dan resesi adalah efek berantai yang tak terpisahkan. Dunia pernah mengalami hal yang relative sama pada 1918 setelah Perang Dunia I dengan hadirnya pandemi global Flu Spanyol yang menewaskan 50 juta manusia pada berbagai negara. Perang Dunia II juga diawali dengan zaman malaesa, krisis ekonomi global sebagai prolog Perang Dunia II tersebut.

 

Berbagai suara  untuk ‘stay at home’ agar dapat memutuskan mata rantai penyebaran virus oleh WHO dan Pemerintah, malah membuat ekonomi kolaps, karena ikut mematikan kegiatan ekonomi masyarakat.

 

Namun kita dihadang pula dengan pilkada serentak pada 270 daerah d Indonesia, dimana efek kerumunan massa akan tak terhindarkan. Pandemi dan Pilkada memang dua hal yang relatif bertabrakan, satunya mengharuskan masyarakat berdiam diri di rumah, sementara yang lainnya harus berkumpul untuk mendengarkan janji-janji politik kandidat-kandidat pilkada tersebut.

 

Saya jadi terhenyak ilmuan seperti Azyumardi Azra, resmi memilih golput, karena ia lebih memilih menjaga satu-satu nyawanya daripada menyalurkan hak-hak politik, yang konon konstitusional tersebut.

 

Ini mengingatkan Arif Budiman,sosiolog Satya Wacana di era Orde Baru yang mempelopori GOLPUT pertama kali dalam sejarah politik Indonesia, karena mengkritik sistem demokrasi yang tak berpihak pada kedaulatan rakyat. Seakan hanya mengekalkan oligarki belaka.  Ada adagium lama dari filsuf Romawi, Marcus Tullius Cicero yang mengatakan salus populi suprema lex esto- keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Bahkan ia melampaui konstitusi apapun. Riset LP3ES menyebutkan angka 34 juta orang akan terpapar virus pada pilkada jika tak melaksanakan protokol kesehatan dengan disiplin ketat.

 

Intinya ada etika yang ikut terdistorsi dengan dahsyatnya dalam padangan akal sehat kita. Gunnar Myrdal, telah lama mencermati mengapa negara-negara dunia ada yang kaya dan kuat dan ada yang lemah dan miskin. Myrdal dalam Asian Drama, An In Inquiry into the Poverty of Nations (1968) tersebut mengatakan bahwa etika bangsalah yang membuat suatu bangsa kuat dan tidak. Kita bangsa Asia lemah karena memiliki etika yang lemah kata Myrdal.

 

Jauh sebelumnya Max Weber pun menulis tentang etika Protestan dan spirit kapitalisme sebagai landasan etika sosial bangsa-bangsa Eropa Barat dan Amerika Utara yang mengantar mereka menjadi kuat. Mungkin di Asia Timur kita menemukan pada Jepang dan Korea Selatan, yang oleh Robert N. Bellah disebut memiliki etika confucianisme yang kuat tersebut. Beberapa kali melihat negara eks komunis Pakta Warsawa, yang setelah berakhirnya era Perang Dingin, mereka perlahan merangkak menjadi maju, bergabung dengan Uni Eropa yang dulunya musuh bebuyutan mereka secara ideologis. Ada sistem pendidikan mereka yang sangat baik, melahirkan SDM terbaik untuk mengantar bangsa-bangsa itu menjadi sejajar dan sejahtera dengan bangsa Eropa lainnya.

 

Bagi kita di Indonesia, masih bergelut dengan soal etika sosial kita yang relatif terdistorsi, dimana disiplin sosial yang rendah, menyebabkan merebaknya pandemi semakin menggila. Sementara diskursus elite masih terjebak pada politik kekuasaan yang menelantarkan keselamatan sosial.  Pemilu 2019 yang serentak tanpa pandemi saja telah menewaskan kurang lebih 800 petugas pemilu, semoga pilkada tidak menjadi klaster baru. Jika tidak, kita sementara menuju kepunahan sistematis. Karena disiplin sosial sebuah bangsa sangat menentukan bangsa tersebut dapat keluar dari disrupsi global yang dihadapinya. Jepang dan Jerman kalah dalam Perang Dunia II, namun merekalah sesungguhnya pemenang paska perang. Karena disiplin sosial yang baik. Dan itu terbentuk melalui pendidikan. Jerman hingga runtuhnya Tembok Berlin (1998), telah menjadi tulang punggung bagi Uni Eropa dari berbagai krisis yang melanda benua biru tersebut. Fukuyama menyebut, Amerika Serikat, berhasil mengatasi zaman malaise atau depresi ekonomi global (1929), pada era sebelum perang, dengan menerapkan New Deal tersebut, dan itu mengantar mereka menjadi global power hingga 75 tahun sekarang. Apa yang dilakukan Franklin Delano Roosevelt, awalnya dikritik, namun ternyata membuat Amerika menjadi kuat. Saya kira Putin juga tengah melakukan hal yang sama bagi kebangkitan Russia setelah runtuhnya Soviet dan Pakta Warsawa. Ia membangun Katedral Mosque di termegah di Moscow, yang selama 70 tahun era Soviet ditutup. Lalu mengakomodir negara-negara sekitar dengan membangun kerja sama regional. Bahkan merambah Turki yang masih berstatus anggota NATO dan memiliki pangkalan pasukan NATO di daerah Turki tersebut.  Putin juga menyarankan Erdogan, agar jangan menyiram bensin dalam konflik Nagorno-Karabah antara Armenia dan Azerbaijan sekarang ini. Putin seakan menunjukkan karakternya sebagai pemimpin. Memilih dialog dan menghindari konflik.

 

Sekali lagi poorly leadership akan mengakibatkan sebuah negara menjadi dysfunctional state, kata Fukuyama. Dan itu adalah jalan pintas menuju negara gagal. Bangsa beretika kuat seperti Jepang, perdana menterinya Shinzo Abe, memilih mundur, agar bangsanya tidak mengalami disfungsi negara.

 

Kita perlu membuka mata, belajar dari realitas global didepan mata sekarang, agar Indonesia tidak menjadi bangsa minus etika sosial. Karena masih saja ada pimpinan DPRD lokal yang membuat konser dangdut, acara selamatan sunatan anaknya, dan mengakibatkan seorang Kapolsek dicopot. Waduuuuh.. !!

 

Dikaki Gamalama, 1 Oktober 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here