LIBERALISASI PERS dan JURNALIS KEBERPIHAKAN, Posisi Jurnalis di Pilkada Tomohon

0
COFFE MORNING: Diskusi jurnalis Kota Tomohon yang difasilitasi KPU Tomohon, pekan lalu. Dari kanan: Vocke Lontaan, Idham Malewa, Hariyanto Lasut (Ketua KPU),Robby Golioth (Komisioner KPU) dan Livya.(foto:dok)

Oleh:

Idam Malewa

JUMAT pagi jelang siang akhir pekan lalu, (2/10), tidak ada gerimis di Kota Tomohon. Langit cerah. Di ufuk timur, matahari tidak terlalu garang. Membuat udara kota bunga terasa hangat.

Ke kota sejuk itu, lantaran memenuhi undangan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tomohon. Hari itu, KPU menggelar coffe morning bareng puluhan wartawan pos liputan Kota Tomohon.

COFFE MORNING: Diskusi jurnalis Kota Tomohon yang difasilitasi KPU Tomohon, pekan lalu. Dari kanan: Vocke Lontaan, Idham Malewa, Robby Golioth (Komisioner KPU) dan Livya.(foto:dok)

Acara agak molor. Harusnya pukul 10.00 Wita, tapi komisioner KPU Tomohon terpaksa minta diundur. Lantaran menunggu kawan-kawan jurnalis.

Kami bertiga diundang KPU Tomohon. Ketua PWI Sulut Vocke Lontaan, Ketua AJI Manado Lynvia Gunde dan kami sendiri bukan siapa-siapa.

Ketua KPU Tomohon Harryanto Lasut bersama para narasumber saat acara diskusi dan coffee morning bareng wartawan se-Kota Tomohon.

Hanya salah satu perkakas media. Yang dijuluki jurnalis senior. Disebut senior, lantaran  menjadi wartawan mulai 2002.

DI depan puluhan jurnalis. Baik media cetak. Media digital online, tv chanel dan media elektronik, kami bertiga hanya simptom. Pemantik pengalaman. Karena bicara kemampuan relatif. Bisa saja yang di depan kami, lebih faham.

Acara dibuka oleh Komisioner KPU Tomohon Robby Golioth dan dipandu komisioner KPU Divisi Parmas Stenly Kowaas.

Saya giliran pertama. Alasannya, untuk antisipasi salat Jumat. Materi yang saya siapkan, tidak dibaca runut dan lengkap. Hanya garis-garis besar yang saya sampaikan.

SHARING LIPUTAN: Para komisioner KPU Tomohon dan para jurnalis di Kota Tomohon, Jumat pekan lalu. (Foto:dok kputomohon)

Sengaja diringkas, supaya dua pemateri berikutnya meringkas juga presentasi. Dengan harapan, masih sempat diskusi bareng jurnalis Tomohon.

Namun, takdir berkata lain. Bertepatan jelang waktu Jumat, dua pemateri selesai. Saya berharap, materi yang disampaikan  didebatable kawan-kawan jurnalis. Namun, acara ditutup, sebelum kami balik Jumatan di masjid di Kota Tomohon.

Tema yang saya sorot sesuai pesan yang diharapkan KPU Tomohon. Memantik profesionalitas wartawan, seperti independensi dan penyejuk suasana politik pilkada Kota Tomohon yang panas.(*)

LIBERALISASI PERS dan JURNALIS KEBERPIHAKAN.

SHARING LIPUTAN: Para komisioner KPU Tomohon dan para jurnalis di Kota Tomohon, Jumat pekan lalu. (Foto:dok kputomohon)

INDUSTRI sedang mengalami disruption (diganggu/dirusak). Mengutip kata pakar marketing FE UI Rhenald Kasali, semua industry  konvensional mengalami disrupsi begitu cepat dan massif.

Fenomena ini sedang dialami dunia jurnalistik. Entah medianya maupun wartawannya.

Di Sulut, pasca UU Pers 40/1999 membuka kran liberalisasi, di awal 2000, media mainstream sangat sedikit. Berbanding lurus dengan pembacanya. Secara segmented, pembaca kebanyakan para pejabat. Ada pebisnis. Pedagang menengah. Politisi tak ketinggalan akademisi dan aktivis.

Nyaris opini massa waktu itu lahir dan diarahkan dari media seperti Manado Post dan Cahaya Siang. Menyusul kemudian Komentar, Posko dan sempat Telegraf.

Di era tahun 2010 an, media konvensional mulai diusik media elektronik dan online. Walau sebatas media online nasional, tapi perannya mulai mengusik.

Awalnya biasa saja. Banyak wartawan tidak bervisi jauh. Menganggap seperti jentik nyamuk di musim hujan. Tadinya online sekadar dianggap pengganggu. Dengan keyakinan akan disedot arus kebutuhan.

Ternyata salah. Rezim digitilasasi ikut memompa media. Dengan cepat media membalikkan semuanya. Akhirnya media online menjadi pemain mainstream.

Era ini media mengalami liberalisasi. Media-media Konvensional mulai kewalahan. Kehadiran new comer tidak terbendung. Akhirnya pertempuran dan kompetisi yang keras melahirkan consensus. Salah satu consensus adalah media konvensional dibiarkan masuk mengikuti jejak media digital. Kalau tidak akan masuk ke jurang disruption.

Konsekuensinya dari liberalisasi adalah yang kuat akan memakan yang lemah. (Contoh Trans Corp) membeli Detik.com.

Dan satu hal lagi. Liberalisasi condong membuat wartawan silau untuk berpihak kemana. Seperti oase di tengah padang pasir.

Nah, untuk menyelamatkan arah para jurnalis adalah kembali memegang teguh kode etik. Karena jurnalis adalah profesi. Sebagai profesi harus ikut rambu-rambu. Ini beberapa kompas para jurnalis.

INDEPENDEN

Tidak berpihak. Yang dimaksud independent adalah berpihak kepada kepentingan yang benar. Berdasarkan fakta.

Saat ini agak sedikit mencari jurnalis atau media yang fure tidak berpihak. Kita pasti maklum. Karena kondisi eksternal. Seperti ekonomi dan politik.

AKURAT

Media dibesarkan oleh pembaca. Detiknews. Kompas.com. dan media mainstream adalah contoh. Salah satu yang membuat pembaca loyal adalah mereka andalkan fakta. Namun, fakta harus akurat dan cepat. Apa yang diindrai adalah fakta paling valid. Dari sumber yang kredibel dan benar seperti apa yang dilihat. Didengar dan dirasakan.

BERIMBANG (Coverboth side).

Tidak berpihak. Menulis berdasarkan fakta dari beragam sumber. Ketika menulis satu sumber yang mengarang ke subyek lain,  maka jangan menghakimi. Jurnalis selalu meniru hukum positif azas praduga tak bersalah.

HINDARI ITIKAD BURUK.

Jurnalis dipercaya karena tulisannya. Puncak kepuasan jurnalis adalah karyanya. Kalau karya tulis mengandung kebohongan, fitnah, dan provokasi maka kiamat telah dekat. Baiknya malu menjadi wartawan.

HINDARI HAL SENSITIF.

Salah satu peran penting jurnalis adalah sebagai peneduh. Bukan sebaliknya, penghasut di ruang publik. Ketika karya tulis menjadi biang kerok, maka sebagai orang beragama, kita turut menodai ajaran agama. Entah apa agama kita.

OLIGARKI PERS

Istilah ini agak hyperbola kata kawan saya. Tapi, setelah menimang dan mencocokkan, oligarki juga diamalkan sejumlah komunitas wartawan.

Tanpa sadar, kecenderungan jurnalis atau media adalah ingin membentuk koorporasi yang kuat dan eksklusive.

Awalnya bagus.Karena rasa kebersamaan. Lantaran dibentuk oleh frasa memiliki. Sudah sekian lama bersama-sama. Suka dan duka bersama. Rasa senasib ini kemudian membentuk ikatan batin.

Semua wartawan membentuk grup sesuai pos liputan. Ada sisi manfaatnya. Salah satunya bisa saling menolong membagi-bagi berita, jika seorang jurnalis ada halangan. Ada lagi, menjadi barier dari tekanan pihak lain. Bahkan, mampu menjadi corong kebijakan.

Namun, ada sisi kurang baik. Jurnalis jadi pasif. Apatis. Tidak ada fighting spirit dan akhirnya kehilangan elan menulis yang baik.

Lebih mengkhawatirkan lagi. Jurnalis  telah membentuk oligarki. Mereka membentuk komunitas istimewa di pos liputan.

Mereka membuat aturan sendiri. Jurnalis dari pos liputan lain, akan dianggap kompetitor. Malah, pendatang baru akan diposisikan orang asing.

Tanpa memandang kawan. Tanpa melihat berasal dari satu perusahaan.

Oligarki ini makin kuat, dan overacting setelah bersekutu dengan lembaga lain. Entah pemerintah atau swasta.

Lebih dari itu, ada pos liputan memosisikan corong kekuasaan. Nyinyir sana sini jika ada berita menyinggung sejawat. Bully di media sosial dan media masing-masing. Dan endingnya adalah memutuskan ‘silaturahmi’.

Bahkan, terkadang memegang kendali untuk menjadi algojo atas sesama rekannya. Dan banyak lagi kepentingan.

Bagi saya, rezimentasi jangan dibiarkan. Harus senantiasa dikritik dan diingatkan. Membentuk koorperasi atau komunitas untuk tujuannya kebaikan. Memberi manfaat bagi semua pihak.

JURNALIS TOMOHON dan ‘PEMADAM KEBAKARAN’

PERANG antar tim pemenangan di Kota Tomohon tidak terlalu panas. Khususnya di media mainstream (media cetak, dan online).

Kenapa tidak kelewat panas. Lantaran demografi pemilih sangat homogen. Baik agama dan etnis tidak kelihatan heterogen.

Yang marak malah perang di langit melalui media sosial (FB, Instagram dan lainnya). Ini kalau dibiarkan sangat berpotensi membakar emosi. KPU dan Bawaslu yang menjadi wasit dan hakim akan terganggu kepentingannya.

Di sinilah tugas jurnalis di Tomohon jangan menjadi bahan bakar dari bara isu yang diangkat di media sosial. Jurnalis apapun alasannya, harus jadi pemadam kebakaran. Bukan sebaliknya.

Semua media bertanggung jawab untuk menjaga thermometer suhu politik.

Suhu politik bisa panas jika media tidak cermat dan matang memahami kultur dan karakter.

APA YANG HARUS DILAKUKAN?

1.Jangan menulis isu benturan politik identitas dan politik aliran.

  1. Jangan menunjukkan keberpihakan berlebihan kepada kelompok tertentu atau pasangan calon tertentu. Meski ada ikatan kerja sama.
  2. Sekali kali jangan menulis angka dukungan tanpa berdasar fakta dan sumber yang jelas.

4.Hindari black campaign atau bad Campaign (di AS dibolehkan). Kalau pun ada, harus akurat, jelas sumber data dan coverboth side di saat bersamaan.

  1. Hilangkan sentiment berlebihan kepada sesame jurnalis.
  2. Jangan mengejar kecepatan tapi minim data. Tidak akurat. Dan mengandung unsur hoax. Lebih baik agak terlambat, tapi 5 W 1 H dan coverboth side.
  3. Menulis berita merujuk pada Rukun IMAN.

Akhirnya semua wartawan harus bertanya ke HATI NURANI. Bahwa apa yang ditulis saat ini, akan menjadi jejak yang sulit dihapus di masa depan.

Media harus menjadi katalisator, Dinamisator, Mediator, literator dan mesin pendingin.Jangan coba-coba menjadi ‘satpam kepentingan.

Selalu berpijak ke Kode Etik pasal 1;  Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

Pasal 6; Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

Referensi: (Buku Saku Dewan Pers,Kode Etik Jurnalistik, Pers Berkualitas Masyarakat Cerdas).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here