HENDRO BOROMA BESERTA RAKYAT BOLTIM,MELAWAN HOAX DAN FITNAH

0

Oleh: Arifin Labenjang

(Jurnalis Senior, Pengamat Komunikasi Politik)

 

Sekencang apapun kebohongan berlari, kebenaran akansanggup melampaui

Pertarungan politik kerap melahirkan kegaduhan. Mengganggu dan merusak konsentrasi rakyat, yang kini sedang menghadapi banyak masalah. Padafaktanya, rakyat saat ini berhadapan dengan problem genting. Mulai dari soal Pandemi Covid 19, kesulitanekonomi, hingga gonjang-ganjing politik.

Tetapi di tengah kerumitan itu, selalu munculkebohongan dan dusta yang luar biasa. Orang-orang yang waras, tentu akan memilih sikap bijak. Takterpengaruh. Berpikir jernih. Masalahnya saat iniberbagai perangkat komunikasi justru menjadipanggung terbuka bagi para pendusta. Menyerangpihak lain. Mengolok-olok. Menyebar dan merekayasaberita palsu.

Pilkada di Boltim pun tak lepas dari suasana itu. Sejatinya kontestasi Pilkada adalah ajang menampilkangagasan. Menjadi wadah mengadu argumentasi. Mengangkat isu-isu publik yang dibutuhkan. Mendorong perubahan ke arah lebih baik. Serta mengkampanyekan politik yang cerdas bermartabat.

Syukur moantopermainan celaka itu ternyata takterlalu berpengaruh. Masih banyak rakyat waras yang memilih cerdas. Sedikit saja sebenarnya para pihakyang terlibat dalam membuat provokasi.

Suhendro Boroma dan Rusdi Gumalangit, sebagaiCalon Bupati dan Wakil Bupati Boltim, tegasmenentukan sikap. Keduanya berada pada garis lurus. Melakukan pendidikan politik yang santun, bermartabat, dan mengedepankan ahlak. Bukan hanyatidak akan terlibat dalam kampanye hitam sertapropaganda dusta. Melainkan melawan semua rekayasafitnah dan kebohongan.

Mengapa?

Pertama, setiap gelontoran dusta dan fitnah selalumelebar ke mana-mana. Jika didiamkan, resikonyaakan dianggap benar. Atau justru diramaikan. Menjadibahan pergunjingan. Ini tak sehat. Rakyat butuhinformasi factual, akurat, serta mengandung solusi ataspermasalah di Boltim.

Kedua, rakyat Boltim saat ini menghadapi sejumlahpersoalan mendasar, yang berkaitan dengankemaslahatan bersama. Mulai dari soal pertumbahanekonomi; keluhan petani; persoalan nelayan; masalahsampah; sulitnya akses terhadap kesehatan; perhatianterhadap kaum miskin; terbatasnya lapangan kerja; danbanyak lagi. Isu-isu ini jauh lebih penting didiskusikan. Bukan malah meramaikan opini publik dengan olok-olok, hinaan, dan caci maki.

Ketiga, dusta dan fitnah adalah kejahatan. Kejahatanharus dilawan. Kecil atau besar, tindak menyebarkandusta dan kebohongan adalah teman dari kejahatan. Pranata hukum dan tertib sosial akan rusak jika kitapermisif (membiarkan) tindakan culas berlangsungterus menerus. Suhendro Boroma dan RusdiGumalangit, memutuskan mengikis habis penyakit anti kebenaran ini.

Keempat, perilaku dusta dan kampanye fitnah adalahpenyakit sosial akut. Merusak norma dan nilai-nilaikemanusiaan. Tertib sosial, harmoni, dan perdamaiansulit terwujud jika terjadi pembiaran terhadap praktekkeji seperti itu.

Saat ini titik sasar propaganda bohong itu memangterarah ke kubu Suhendro Boroma dan RusdiGumalangit, tetapi bisa jadi lain waktu ke pihak lain. Itikad Suhendro Boroma dan Rusdi Gumalangitmelawan semua itu patut kita dukung, agar tertib sosialbisa tercipta.

Itulah beberapa poin argumentasi untuk melawan Hoax dan Fitnah. Memang pada dasarnya, bisa saja kubuHendroRusdi memilih diam, atau bahkanmemanfaatkan situasi. Tetapi itu adalah pikiran licikdan memancing di air keruh. Sebab pilihan yang benaradalah melakukan yang terbaik untuk masyarakatBoltim. Termasuk melawan penyebaran hoax dandusta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here