Kekurangan dan Kendala di TPS Diketahui Saat Simulasi

0
PANTAU: Suasana simulasi pemungutan dan perhitungan suara untuk Pilkada Sulut 2020 yang digelar di Benteng Moraya, Tondano Minahasa, Senin (2/11)
Harimanado.com MINAHASA – Senin (2/11) Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulut menggelar simulasi pemungutan dan perhitungan suara, di Minahasa. Dari simulasi yang dilakukan, ditemukan berbagai kendala. Hal ini pun menjadi perhatian untuk KPU sebagai penyelenggara. Ketua Bawaslu Sulut Herwyn Malonda mengatakan, dalam simulasi ini pihaknya turunkan tim. “Ada beberapa catatan kami temukan di simulasi. Pertama, jadi masalah bersama soal kerumunan di seputaran TPS.
Nah, siapa yang menertibkan? Ini perlu dibicarakan. Apakah pokja atau siapa. Kita harus bicarakan itu. Petugas keamanan kan hanya di pintu masuk dan keluar TPS. Kedua, kita saksikan penerapan protap, butuh lokasi yang luas. Kami ingin KPU rancang itu,” ujar Herwyn. Secara khusus kata dia, pihaknya temukan dua orang tak pakai masker di lokasi TPS. “Pengawas TPS sudah ingatkan. Kemudian ada pemilih yang tak cuci tangan.
Nah, siapa yang akan mengontrol. Terkait di luar protap, ada larangan mambawa HP di TPS. Tapi kami lihat masih ada yang membawa HP. Itu catatan kami dari simulasi ini. Tapi kita akan bicarakan bersama,” ucapnya.
Terkait hal itu, Komisioner KPU RI Ilham Saputra yang hadir dala simulasi itu mengakuinya. “Tentu ini kan simulasi. Ada masyarakat yang tak menggunakan masker, nanti prinsipnya kita akan sediakan masker sebanyak 20 persen dari DPT. Kalau tak bawa kan kita berikan. Karena salah satu prosedur, masker itu sudah kewajiban.
Jadi warga juga harus gunakan masker. Tapi catatan itu jadi pertimbangan kami untuk membuat peraturan tentang pemungutan dan perhitungan suara di TPS,” terangnya.
Lepas dari itu, Plt Gubernur Sulut Agus Fatoni memberi apresiasi kegiatan simulasi itu sebagai bentuk komitmen supaya pilkada lancar, aman damai dan sehat.
“Artinya terhindar dari covid 19. Pilkada tahun ini adalah pertama dalam keadaan pandemi covid. Ini tantangan bersama.Di semua negara juga terdampak tanpa terkecuali. Sebab covid menyebar. Namun pilkada tetap berlangsung sebagai komitmen pemerintah dan stakholder. Ini tugas bersama,” tuturnya. Menurutnya juga, simulasi sangat penting dan strategis. Supaya bisa diketahui kekurangan kendala, suasana yang perlu diperbaiki.
“Kalau semua daerah laksanakan simulasi, ini akan perkaya kita dalam rangka selesaikan persoalan yang terjadi di saat pencoblosan. Mungkin ada persoalan ditemukan. Tapi kita tahu bagaimana mengatasinya. Sehingga dari seluruh persoalan yang ada di 15 kab/kota bisa diinventarisir, antisipasi bagaimana mencari solusinya. Perlu dukungan dari semua piha,” jelasnya. Pihaknya menegaskan akan mendukung sepenuhnya pelaksanaan tahapan pilkada. “Kami terus mengikuti perkembangan untuk sukseskan pilkada.
Mudah-mudahan dengan simulasi dan pertemuaan-pertemuan, pilkada Sulut tak hanya lancar dan sehat, tapi bisa berkualitas,” tuturnya sembari mengajak masyarakat yang punya hak pilih untuk datang ke TPS 9 Desember gunakan hak pilih dengan tetap memperhatikan protap. “Masa depan daerah memilih pemimpin ada di tangan masyarakat,” kuncinya.
Ditambahkan, Ketua KPU Sulut Ardiles Mewoh, simulasi ini pertama di Sulut dan akan dilakukan di 15 kab/kota dengan harapan semakin dekat dengan masyarakat luas. Pemilihan ini, lata dia, dilaksanakan di masa pandemi. Sehingga ada ketentuan yang harus dipatuhi. “Kami ingin dilakukan berulang supaya banyak orang yang tahu bagaimana mekanisme ketika datang ke TPS. Pemilih tak perlu khawatir. Sebab petugas dan peralatan sudah sesuai protap. Itu target kami,” pungkasnya. (An1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here