Debat Pilkada Boltim, UKP Angkat IPM Buruk, SSM Sebut Rasio, SB Simpulkan Kesejahteraan Guru

0

Harimanado.com- Debat publik pertama calon Bupati dan wakil bupati Bolmong Timur (Boltim), sudah digelar, Jumat (13/11).

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Boltim menampilkan tiga pasangan calon (paslon) nomor 1 Amalia R. Landjar (ARL) dan Uyun Kunaifi Pangalima (UKP). Paslon nomor 2 Sam Sahrul Mamonto (SSM) dan Oskar Monoppo (OPPO) dan nomor 3 Suhendro Boroma (SB)-Rusdi Gumalangit (RG).

Untuk debat putaran pertama kali ini, dilaksanakan di Hotel Mercure Kabupaten Minahasa.

Setelah pembukaan dan sambutan Ketua KPU Boltim Jamal Rahman, moderartor Susan Palilingan memandu debat.

Giliran pertama paslon nomor 2.

Pertanyaan terkait program pendididikan. Sektor ini salah satu indikator mengukur indeks pemabangunan Manusia atau IPM.

Uyun dengan sadar mengakui IPM di Boltim masih rendah, di angka 65,21 atau ranking ke 14 di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Ditambah lagi sarana fasiliatas dan pembelajaran yang terbatas. Apalagi, dengan kondisi covid-19 guru dan siswa banyak yang kurang menguasai teknologi pembelajaran.

Paslon nomor 2 SSM menegaskan masalah mendasar pendidikan di Boltim adalah rasio guru dan murid ini sangat jauh.

Seharusnya satu guru mengajari 15 atau 17 murid.

“Ke depan kami akan melakukan penambahan untuk guru yang terutama pendidikan yang jelas. Selain itu, tenaga kontrak melalui lewat tenaga honorer, yang memang mereka adalah guru. Nah, mungkin akan meningkatkan pendidikan terhadap murid-murid,” kata Sahrul.

Lanjutnya, di Boltim ini anggaran pendidikan sesuai kebijakan  minimal 10% dari APBD.  Namun tidak semua anggaran 10% digunakan.

Seperti digunakan untuk tempat kursus di sekolah dan memanfaatkan lahan di sekolah dan bangunan-bangunan

“Akan tetapi bagaimana, untuk memberikan pendidikan pada guru mengikuti sertakan pelatihan. Agar benar guru itu, mempunyai kemampuan luar biasa untuk dapat mendidik Anak-anak itu, problem yang utama di Boltim,” ungkapnya.

Sementara Paslon nomor 3 menanggapi mengakui IPM nya  rangking 14 se Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) nomor 4 se BMR.

Sedangkan, Sulut 72,2 dan Nasional 71,9 persen.

untuk menyamai Sulut, masih cukup tinggi. Karena Jaraknya dari 65 ke 72 jadi masih sekitar 7 angka.

“Oleh, karena itu sektor pendidikan sangat begitu penting di Boltim, tentunya kami inginkan mewujudkan 7 Sekolah unggulan di setiap Kecamatan dan 3 Sekoalah unggulan di wilayah se Boltim,” kata Suhendro.

Lanjut SB, kenapa SD dan SMP kerena yang dicakup dalam IPM itu adalah usia sekolah SD dan SMP, dan rata-rata usia sekolah  di ukur dari SMP dan SD.

Sehingga, sangat penting untuk membenahi pendidikan tingkat SMP- SD. Apalagi SMA, SMK sudah merupakan kewenangan Provinsi.

“Oleh kerena itu, bukan terletak di angkankesediaan guru. Sebab, kalau rasio guru ini, sudah sangat baik SD 12,7 dan SMP 8,3. Jadi, setiap guru melayani 8 murid di SMP serta SD, 12,7 pada prinsipnya di pemerataan bukan jumlahnya dan yang terpenting kesejahteraan guru,”ungkapnya.

Kemudian UKP menanggapi pertanyaan numor urut 2, soal data yang ditampilkan, bahwa Boltim memiliki IPM ke 14 di Sulut.

UKP mengaku ada kekeliruan. Dan persoalannya adalah kesalahan data. Karena mestinya, perhitungan IPM itu, diupdate diambil dari desa kemudian diambil dari kecamatan dan kolaborasi oleh Dinas Pendidikan serta diajukan ke Bappeda kemudian dijadikan item penentu kebijakan pemerintahan.

“Sehingga, persoalan IPM urutan 14 kalau data valid dari desa ke dinas pendidikan. Maka, posisi ini akan terdongkrak.(jux)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here