harimanado.com
Selalu Ada Yang Beda
how to make a woman squirt.like it https://www.weneedporn.online
like itjav the thai massage.
nude milfs

Kisah Dramatis dr Sadly Berjuang Melawan Covid-19, Dzikir Hadapi Masa Sulit

harianmanado.com – Kepala Dinas Kesehatan (dinkes) Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), dr Sadly Mokodongan, ternyata punya cerita pilu di akhir tahun 2020 kemarin. Dia positif terpapar Virus Corona.

Dr Sadly berbagi pengalamannya ini ketika ditemui di ruang kerjanya, di lantai 2 Kantor Dinkes Pemerintah Kabupaten Bolsel, Kamis (11/2) siang.

Dituturkannya, ini salah satu fase terumit dalam sejarahnya. Covid-19 yang menggerogoti tubuhnya menyerang dengan ganas hingga menimbulkan gejala-gejala yang menyakitkan. Saking tersiksanya, saat itu dia mengira ajalnya sudah di depan mata.

“Hampir kehilangan kesadaran. Saat itu seolah-olah ada sesuatu yang akan terlepas (dari badan),” akunya.

Kendati seluruh raganya sudah tidak berdaya, tapi ingatannya masih ada. Sehingga tetap berpasrah kepada Sang Khalik.

“Saya tetap dzikir,” jawabnya, singkat.

Kisah ini dimulai pada medio november tahun lalu. Waktu itu Sadly melakukan perjalanan ke Ambon, Maluku. Sepulang dari Bumi Pattimura itulah ia mulai merasa ada yang janggal pada fisiknya.

“Pulang dari Ambon saya tiba di sini hari minggu. Besoknya senin saya masih ngantor. senin malam itu saya mulai demam tinggi,” kata mantan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bolsel ini.

Langkah pertama yang dilakukan adalah Test Antigen Demam Berdarah Dengue (DBD). Hasilnya positif. Tapi, gejala yang dialami tak kunjung membaik. Padahal ia sudah melakukan tindakan medis dengan melakukan infus mandiri di rumahnya. Selain dia dokter, kebetulan istrinya juga seorang perawat kesehatan. Tapi katanya, dari awal ia sudah menduga kalau dirinya terifeksi Virus Corona.

“Saya infus sendiri di rumah, karena DBD ini butuh cairan. Tidak ada perubahan. Tapi, saya memang menduga ini covid. Sebab, Covid-19 kadang tersembunyi di DBD. Dan benar saja, begitu hasil swab keluar, saya positif,” ungkapnya.

Panas tinggi konstan sampai hari ke-4. Ditambah sesak nafas selama kurang lebih tujuh hari. Di hari ke-4 itu Sadly dirujuk ke Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Prof. Kandouw.

“Sesak nafas 24 jam sehari sepanjang sepekan. Dada ini serasa sakit sekali,” ujarnya.

Saat itu kondisi badannya terus melemah. Ia tak kuat lagi menghela nafas sehingga butuh bantuan oksigen. 8 hari dr Sadly dirawat di ICU. Selama 3 hari ia bergantung dengan oksigen.

“Kadar Saturasi Oksigen saya turun sampai 70. Jika turun lagi, maka secara medis akan sulit tertolong, karena orang normal (sehat) kadar oksigen dalam darah berada di rentang 95-100,” terangnya.

Selain rasa nyeri di dada akibat susah bernafas, ia mengaku fase yang menyakitkan lainnya adalah ketika kulitnya berulang-ulang ditembus jarum suntik.

“Mulai dari lengan, pangkal paha dan perut. Pokoknya hampir satu badan. Mungkin hanya leher yang tidak disuntik,” ungkapnya.

Sebulan lebih ia menjalani masa perawatan. 21 hari di rumah sakit, sisanya dirawat di rumah oleh istri tercinta. Anehnya, kendati sering kontak langsung tapi hasil swab sang istri negatif. Ini fenomena Covid-19 yang barangkali bikin sebagian orang masih kurang percaya dengan virus asal negeri tirai bambu tersebut. Ada yang kontak langsung kontan positif, ada juga yang tidak (negatif).

“Hampir setiap saat dia (istrinya) di samping saya karena merawat saya di rumah. Dan alhamdulillah, swabnya positif,” tuturnya.

Lebih lanjut, dr Sadly mengaku sangat bersyukur karena bisa melewati masa sulit itu. Meski sudah pulang ke rumah, namun ia tetap mengisolasi diri sambil menjalani masa pemulihan dengan istrahat yang cukup, komsumsi makanan bergizi, dan berolahraga.

Nanti merasa sehat total baru kemudian ia kembali beraktivitas normal seperti biasanya, keluar rumah dan ngantor lagi. “Itu setelah satu bulan lebih,” kata dr Sadly.

Ia lantas mengatakan, ceritanya ini bukan bertujuan untuk menjatuhkan mental orang lain. Justru niat besarnya ingin lebih membangkitkan gairah masyarakat dalam upaya mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Mari terapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, cuci tangan dan jaga jarak. Selain diri sendiri, upaya ini demi keselamatan keluarga dan orang-orang di sekitar kita,” kata mantan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Manado, ini, mengakhiri kisah yang dialaminya pada November hingga awal Desember tahun 2020 lalu.

(qs)

Leave A Reply

Your email address will not be published.