harimanado.com
Selalu Ada Yang Beda

SPIRITUALITAS DAN KONSUMERISME RAMADHAN DI TAHUN KEDUA COVID-19

Sebuah Catatan Atas Ramadhan 1442 H/2021

Oleh: Andi Muhammad Nur Bongkang

(Ketua eLPERISAI Manado/Pendiri ODMCC Sulut)

 

RAMADHAN. Bulan ini disebut  yang penuh berkah. Kita umat Muslim tentunya telah menyiapkan  diri   secara   spiritual.   Itu   agar   kita   dapat   merasakan   -sebagaimana disebutkan dalam khutbah Rasulullah Saw- Bahwa kita sedang berada dalam perjamuan Allah SWT– sebuah kado terindah dari langit. Sayang sekali jika kita tak menggunakan kesempatan istimewa ini untuk memperoleh ampunan, keridhaan, rahmat, kasih sayang, dan rezki dari Allah Swt, yang pada gilirannya mengantarkan akal, hati, jiwa, dan hidup kita, selalu dekat dengan Tuhan.

Kedekatan ini penting adanya, karena segala anugerah itu berasal dari Dia semata dan nikmat Allah inilah  yang kemudian menggerakkan kehidupan ini.

Dalam  Surat An-Nahl ayat 33 Allah berfirman,“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, dari Allah-lah (datangnya),dan  bila  kamu  ditimpa   oleh  kemudharatan,  maka  hanya  kepada-Nya  lah   kamu  meminta pertolongan.”

Dalam surat yang sama, ayat 18, Allah juga menegaskan,  “Dan jika kamu menghitung   –   hitung   nikmat   Allah,   niscaya   kamu   tak   dapat   menentukan   jumlahnya.Sesungguhnya Allah benar – benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Simaklah  bagaimana di  tengah kompleksitas  dunia modern ini Ramadhan menjadi  sebuah persinggahan atau   jeda di samping 11 bulan yang penuh noda –noda jiwa,   pikiran, harta, noda jabatan dan lain-lain.

Di sinilah kita melakukan evaluasi dan menyadari bahwa di antara setiap waktu kerja, harus ada sedikit ruang untuk relaksasi dan kontemplasi spiritual.Bahwa semua mesin tubuh kita yang setiap hari tidak berhenti mengonsumsi segala macam jenis makanan perlu diistirahatkan. Tetapi ada sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab saat ini, ketika kita menjalani hari-hari   puasa  dari   terminal  pertama  yang   penuh  rahmat ke   terminal   ampunan (Maghfirah),sebelum akhirnya sampai di terminal terakhir, itqum minannar, pembebasan dari api neraka.Benarkah kita telah menjalankan shaum dengan benar sesuai dengan kehendak Ilahi dan harapan Rasulullah Saw?Tentunya   malu   atau   kelewat   percaya   diri   rasanya   bila   kita   berani   mengatakan   telah menjalankannya dengan  benar. Karena bagi  sebagian kaum muslimin  ramadhan hanyalah bagian dari rutinitas hidup yang harus dilalui, dan satu-satunya yang membedakannya dari bulan   lainnya   hanya   pergeseran   waktunya.   Waktu   sarapan   pagi   bergeser   menjadi   sahur,sementara   saat   berbuka   tidak   lain   dari   makan   siang   yang   tertunda.   Bahkan   tak   jarang,berbuka pun dilanjutkan dengan makan malam, plus kumpul bareng bersama relasi di kedai-kedai kopi.

Related Posts

Sesungguhnya pada ramadhan tahun inilah kita mengalami jeda yang begitu nyata. Sangat boleh jadi kita tak menyadari bahwa pengurangan jam kerja dan jam belajar pada Ramadhan di tahun-tahun lalu ditujukan untuk memberikan kesempatan beribadah lebih besar. Namun sekarang, dengan adanya pandemi covid 19 sejak 2020 yang juga memaksa kita lebih banyak bekerja di rumah,   pengurangan jam kerja dan belajar jadi berlipat. Kendati hal ini tidak berlaku bagi yang bekerja untuk pelayanan publik.

Tapi   apa   mau   dikata,   acapkali   aspek  menahan  diri   di   atas   kemudian   tertelan-terselimuti dengan kecenderungan wisata kuliner yang kian populer itu. Coba perhatikan apa yang terjadi di Msnado tahun lalu. Khawatir dengan perkembangan pandemi covid yang kian memprihatinkan, pemerintah Kota Manado sempat melarang pasar takjil (2020).

Keputusan yang menurut pengamatan penulis tidak tepat, karena resiko penyebaran penyakit yang terjadi di arena pasar takjil masih belum seberapa dibanding pasar-pasar besar yang senantiasa jadi ajang transaksi yang membludak.

Mempertimbangkan   beberapa   alasan,   pemerintah   Kota   Manado   akhirnya   mengkoreksi keputusannya: larangan dicabut, tapi penjual dan pembeli harus mematuhi protap kesehatanyang ketat.

Meski begitu dari kasus ini kita juga bisa menyimpulkan bahwa gairah melakukan wisata kuliner susah dibendung.     Bisa   dipastikan,   pengunjung   pasar   takjil   susah   menahan   diri   manakala   beberapa   jenis hidangan dan kue yang biasanya sulit didapat justru menampakkan dirinya pada bulan ini.Apa boleh buat, fenomena merayakan ramadhan dengan pesta kuliner ini membengkakkan anggaran belanja rumah tangga dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

Ramadhan telah datang, seluruh anggota keluarga menyambut dengan “pesta.”  Mencermati hal tersebut, Walter Ambrust, akademisi yang pernah meneliti budaya konsumsi massa dalam hari-hari besar Islam, mengisyaatkan bahwa gejala semacam itu terjadi hamper di seluruh negeri yang berpenduduk muslim. Bahkan secara jeli, Ambrust juga menjelaskan bahwa   gejala   itu   memperlihatkan   kesenjangan   antara   perilaku   nyata   komunitas   muslim dengan prinsip-prinsip ideal yang diekspresikan dalam wacana hakikat puasa sebagaimanadiajarkan dan menjadi tauladan dari Nabi Muhammad Saw.Bagi penulis, gejala ini sangat aneh dan ironis. Konsumsi makanan justru meningkat selama ramadhan,   padahal   Islam   mewajibkan   penganutnya   untuk   menahan   diri   dari   berbagai kenikmatan, termasuk makan-minum di siang hari bulan ini.

Jika takjil yang dijajakan disepanjang jalan disambut dengan suka cita oleh kalangan menengah bawah dan bawah, kelas menengah-menengah   atas   biasa   melakukan   “wisata   boga”   dari   hotel   ke   hotel,   atau   dari restoran ke restoran.  Menyimak anjloknya aktivitas hotel dan restaurant, serta kedai-kedai kopi lantaran pelarangan dan pembatasan berkumpul oleh pemerintah tahun lalu, sebenarnya kita bisa mempertanyakan kebenaran temuan Ambrust. Namun di tahun kedua pandemi ini,   terlihat   bahwa   penelitian   Ambrust   menemukan   wajahnya   kembali.   Hampir   di semua pelataran jalan-jalan kota Manado (bahkan mungkin di kota lainnya) pasar takjil kembali semarak dan tampak “normal.”

Bahkan di beberapa lapangan/tempatyang baru telah dibuka tenant-tenant untuk berkumpul  berbuka puasa yang manahampir setiap hari selalu ramai dikunjungi sampai larut malam. Kelesuhan ekonomi akibat efek negatif dari pandemi, tidak menjadikan budaya konsumerisme Ramadhan itu berkurang, apalagi lenyap. Mumpung masih   ada   waktu,  sekarang  jadikanlah   paruh   kedua   ramadhan kali   ini momentum bagi ummat Islam untuk sesegera mungkin meninggalkan budaya safari konsumtif   ramadhan   dan   menjadikan   ramadhan   sebagai   bulan   untuk   bersafari spiritual.  Dengan sendirinya, kita bisa menjadikan ramadhan sebagai momentum evaluasidiri,  sebagai   sarana   diri  untuk   membangun  pribadi   yang  mulia   di  mata   Allah   SWT dan bermanfaat bagi manusia lainnya. Marilah kita hiasi sisa ramadhan ini dengan sebaik-baikibadah,   dengan cara saling membantu meringankan beban ekonomi saudara-saudara kitayang jatuh akibat dampak dari pandemi Covid19. Inilah   saatnya   kita   berwisata   ruhaniyah,   dan   mulailah   berbulan   madu   dengan   Tuhan   disamudera lailatul qadr di sisa Ramadhan 1442 H ini. *)

Leave A Reply

Your email address will not be published.