harimanado.com
Selalu Ada Yang Beda

Sambut Era Energi Bersih, PLN akan Bangun Pembangkit Listrik EBT

PT PLN sedang merancang produksi energi bersih. Sebagai antisipasi ancaman perubahan iklim global.

Untuk menyongsong energi baru itu, PLN akan lakukan banyak perubahan, termasuk konversi ke energi baru terbarukan (EBT).

Dalam diskusi yang digelar Investor Daily Summit melalui virtual zoom, Zulkifli Zaini, Direktur Utama PLN menyebutkan di berbagai diskusi EBT, banyak pihak hanya fokus pada aspek suplai. Padahal, EBT di Indonesia, perlu mempertimbangkan beberapa hal seperti keselarasan _supply and demand_ , potensi energi setempat, keekonomian, keandalan, ketahanan energi nasional dan keberlanjutannya.

“Mari kita bicara mengenai suplai dan demand listrik secara lebih seimbang sehingga pengembangan suplai bisa dibeli oleh demand yang sesuai. Bagaimana kita mendorong agar kompor induksi dan mobil listrik meningkatkan konsumsi listrik,” ujar Zulkifli,

Zulkifli pun menjelaskan saat ini ukuran dari sektor kelistrikan adalah sebesar 300 Terra Watthour (TWh) dengan kapasitas pembangkit terpasang sebesar 63 Giga Watt (GW). Kapasitas sebesar itu sebanyak 33 persen atau 21 GW menggunakan pembangkit berbahan bakar fosil. Pembangkit ini masuk dalam skema Proyek 35 GW yang akan beroperasi sampai dengan perjanjian jual beli tenaga listrik _(Power Purchase Agreement_/PPA)_ berakhir.

Related Posts

Dengan asumsi pertumbuhan konsumsi listrik 4,6 persen itu, maka kebutuhan kelistrikan pada 2060 sebesar 1.800 TWh. Dari sisi pasokan, akan ada penambahan kapasitas pada 2060 sebesar 1.500 TWh atau lima kali lipat dari kapasitas listrik di tahun ini.

Dengan gap seperti itu, PLN akan menambah kapasitas pembangkit dengan dominasi EBT.

Lokasi Pembangkit PLN

Merespons isu perubahan iklim, lanjut Zulkifli, PLN juga telah menetapkan komitmen untuk mencapai karbon netral pada 2060. Caranya, melalui skema transisi menuju EBT dan pergeseran dari energi berbasis impor menuju energi berbasis domestik.

PLN juga memiliki program Green Booster melalui Cofiring yaitu melalui substitusi sebagian batubara dengan biomasa dari tanaman energy maupun pellet sampah. Inovasi ini akan dilakukan di 53 PLTU eksisting PLN. Langkah ini tidak hanya meningkatkan bauran EBT, namun juga dapat menjadi solusi permasalahan sampah dan menggerakan roda ekonomi daerah.

 

“Kami menyiapkan peta jalan _retirement_ (pensiun) PLTU batu bara untuk mencapai karbon netral pada 2060. Tahapan monetisasi PLTU batu bara sebesar 50,1 GW hingga 2056 akan dilaksanakan dan menggantinya dengan EBT secara bertahap” papar Zulkifli.(adv)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.