Ramadhan, Banyak (Tak) Rindukanmu

BULAN lalu, di sebuah kedai kopi, di depan pintu keluar Pasar Bersehati, terjadi percakapan biasa tapi menarik. Waktu itu jelang Bulan Ramadhan, ada pengunjung iseng bertanya ke pemilk kedai. “Kalau bulan puasa pagi hari buka?”

Sambil tersenyum, ibu muda si pemilik kedai menjawab santai, “Di sini hanya dua tiga hari dorang (mereka) puasa. Setelah lewat tiga hari kembali biasa (bukan bulan Ramadhan).”

Bacaan Lainnya

Seminggu Ramadhan berjalan, kata-kata pemilik kedai berparas manis dengan jilbab modern terbukti adanya. Dia sibuk meladeni pengunjung kedai. Entah dia ikut berpuasa, atau sama-sama larut dengan pengunjung.

Dialog di kedai yang cukup ramai di simpang tig aitu kedengaran biasa saja. Basa basi khas kedai kopi.  Namun, ada yang menggelitik. Antara penasaran dan kurang percaya. Apakah begitu rendah  ketaatan kepada perintah Tuhan.  Yang jelas dan tegas dalil naqlinya. Surah Albaqorah (183 dan 185. Inilah dalil dalam Alquran paling popular untuk berpuasa di Ramadhan. Sangat jelas ayat ini kerap menjadi sumber rujukan para mubaligh.

Dari cerita singkat tadi, mencerminkan tabiat sejumlah kaum muslim di Manado. Bahwa kewajiban menahan hawa nafsu di bulan suci umat Islam bukan karena takut kepada Tuhan.  Mereka lakukan semata-mata lantaran kebiasaan. Boleh jadi, kebiasaan yang salah rujukan. Meski ini baru hipotesa. Bisa benar atau salah. Tapi ada hadits nabi riwayat Abu Daud (2/281), riwayat Ibnu Majah (1/544) dan Nasai (4/255) yang dikutip dalam buku Waktu-Waktu Penuh Berkah  oleh Imam Baihaqi bahwa Rasulullah Saw menyuruh melakukan puasa bidh karena puasa itu bagaikan puasa setahun.

Dari Abdul Malik ibn Qatadah ibn Milhn al-Qaisi  menuturkan dari ayahnya: “Rasulullah menyuruh kami melakukan puasa bidh, yakni hari ke tiga belas, empat belas, lima belas, karena puasa ini bagaikan puasa setahun.

Ada juga yang mengatakan puasa setengah hati itu akibat sinkretisme faham keagamaan. Sisa sisa peninggalan agama lain. Seperti di Agama Hindu, ada jenis puasa hanya tiga hari.

Namun, sekali lagi ini hanya menduga saja. Tidak ada rujukan yang valid, manakala menemukan faham berpuasa tiga hari di awal Ramadhan.

Fenomena ini, mungkin saja ada di semua daerah. Berpuasa tidak berlandaskan Quran. Berpuasa hanya meniru kebiasaan. Dan ini menjadi tugas para ulama. Tugas para dai. Tanggung jawab kaum yang sadar dengan hukum puasa di Bulan Ramadhan,

Mengapa menjadi tanggung jawab kalangan ulama, lantaran mereka punya pengetahuam luas dan dalam tentang hakikat puasa Ramadhan.

Boleh jadi orang yang berpuasa hanya di awal Ramadhan, dan di akhir Ramadhan diduga karena hasrat kebinatangan semata. Bukan karena dilandasi oleh kepatuhan yang taat  kepada ajaran Tuhan.

Puasa ala binatang, lebih banyak dipengaruhi naluri. Ular puasa lantaran akan ganti kulit. Kelelawar puasa sambil bergantungan di dinding gua akibat musim dingin, dan banyak lagi.

Mereka yang puasa tidak utuh 29 ata8 30 hari, sudah jelas ibadah selama Ramadhan sulit diberi ganjaran sebagai manusia bertaqwa (lallaqun tattaqun). Kecuali bagi mereka yang kena uzur.

Bagi mereka, moga-moga tidak keliru, puasa Ramadhan tidak pernah dirindukan. Sebaliknya, hasrat mereka tidak sabar berpisah dengan bulan kemuliaan.  Kedatangan Ramadhan seperti duri yang tersekap di dalam daging. Saat orang lain enggan ditinggalkan Ramadhan, karena berharap mendapatkan berkah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran, mereka terus berharap secepatnya Ramadhan mengholang.

Mereka inilah yang disebut dalam hadits Nabiullah Muhammad berpuasa hanya dapat lapar dan haus. Dari Sayyidina Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali lapar. Banyak orang yang bangun malam, tetapi tidak mendapatkan apapun dari bangun malamnya kecuali keletihan berjaga malam.” (HR Ibnu Majah, Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dan kitab At-Targhib).(*)

 

 

Pos terkait