Laporan:
Cindy Tombeng
RASA penasaran Brigjen Mukhlis, SAP MM dengan sosok pengasuh Ade Irma Nasution sudah terjawab. Danrem 131 Santiago Kodam XIII Merdeka akhirnya bersua Nenek Alpiah Makasebape di rumahnya yang sederhana di Kelurahan Dumuhung, Kecamatan Tahuna, Sangihe, Selasa (7/6/2022).
Jenderal bintang satu ditemani istri Okti Nusufa Mukhlis memeluk hangat. Sedikit bercanda dan sekali kali mengorek masa silam.
Terbersit raut tidak percaya bisa bertemu dengan saksi hidup peristiwa 30 September PKI tahun 1965,
Keduanya kagum melihat kondisi oma Alpiah. sang pengasuh anak bungsu pahlawan nasional Jendral Abdul Haris Nasution.
Fisik sang nenek terlihat masih kuat. Padahal tahun ini Nenek Alpiah berusia 86 tahun. Ketuaan tampak memancar dari wajah yang keriput. Rambutnya yang semua beruban. Dipangkas pendek sampai pangkal leher. Ia tinggal bersama cucunya di jazirah utara Indonesia.
Meski tidak terlalu lama, Danrem cepat akrab dengan nenek yang akrab disapa Nene Tintang, Maklum tujuan utama Danrem adalah konsolidasi ke Kodim 131 Santiago, setelah dilantik tiga bulan lalu.
Nenek Alpiah tidak canggung dekat dengan Danrem dan istrinya. Dia bicara apa adanya. Apalagi menguak masa lalu di tahun 1965. Jenderal Mukhlis dan istri amat tertarik dengan kisahnya. Sang nenek menceritakan sekilas kehidupannya mulai dari kedatangannya di keluarga Jenderal A. H Nasution hingga peristiwa kelam 30 September 1965.
“Pada tahun 1960, Ibu Johana Sunarti Nasution mencari seseorang untuk mengasuh anaknya yang baru saja lahir (Ade Irma) pada 19 Februari 1960. Saya kala itu berusia 24 tahun akhirnya dipilih. Ade Irma Suryani merupakan anak bungsu Kepala Staf Angkatan Perang (saat itu) Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Ade Irma tertembak senjata pasukan pro PKI ketika sedang mencari Nasution untuk dibawa ke kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, pada malam 30 September 1965”. Jelas nenek Alpiah
“Kala itu Ibu Johana, Yanti kakaknya, saya (nenek Alpiah) dan yang lainnya ikut tinggal dan menemani Ade Irma saat dirawat selama beberapa hari di RSPAD Gatot Soebroto sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
Gadis 5 tahun tersebut saat menghembuskan nafas terakhirnya di pelukan saya pada tanggal 6 Oktober 1965. Karena saat itu, Ibu Johana sedang tidak ada di tempat”. Tambah nenek Tintang.
“Saya masih mengabdi hingga tahun 1969. Setelahnya saya memilih untuk pulang kampung dan menetap di Tahuna Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kami masih menjalin komunikasi yang baik dan masih beberapa kali datang ke Jakarta untuk menghadiri acara-acra spesial Keluarga Nasution”. Pungkas Sang Pengasuh.
Disela-sela obrolan tersebut, Danrem 131/Santiago yang penuh sahaja itu menyempatkan canda dengan bertanya kepada nenek Alpiah, apa saya seganteng Piere Tandean.
Dengan mengerutkan wajahnya nenek Alpiah menjawab “Hidung Piere lebih tinggi/mancung,” yang kemudian tertawa lepas sehingga mengundang gelak tawa Danrem dan semua yang hadir saat itu.
Pada kesempatan itu Danrem mengatakan jika kedatangan dirinya bersama Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 131 PD XIII/Merdeka merupakan bentuk penghormatan kepada nenek Alpiah sebagai bagian dari sejarah keluarga Jenderal A.H Nasution.
“Kita bersilahturahmi disini, karena bagaimanapun Pak Nasution merupakan sesepuh kami di TNI Angkatan Darat,” sebut Danrem.
“Beliau (nenek Alpiah) adalah saksi sejarah yang masih hidup. Jadi bukan sekedar ‘katanya’ tapi dialami secara langsung. Sangat susah mencari saksi seperti nenek saat ini, yang mengalami langsung kejadian tersebut, dengan usia 86 tahun namun nenek ingatan masih sangat kuat,” tambah Danrem.
Kami memberikan apresiasi kepada nenek Alpiah karena sampai saat ini masih mengingat dengan jelas peristiwa yang menimpa Ade Irma. Saya berharap kepada generasi muda jangan pernah melupakan sejarah. Bagaimanapun juga ini peristiwa besar dalam sejarah bangsa Indonesia.
Nenek Alpiah Makasebape adalah salah satu saksi sejarah peristiwa 30 September 1965 yang masih ada di pulau ujung Utara Indonesia Kabupaten Kepulauan Sangihe. Pungkas Danrem.
Turut hadir Kepala Seksi Operasi Kasrem 131/Santiago, Kolonel Inf Aris Windarto besrta Istri, Dandim 1301/Sangihe serta Letkol Inf Lukas Meinardo Sormin beserta Istri. (cindy)















