Gara gara Taruhan‘Prof’ Kakao, Matali Baru Jadi Kampung Jutawan

SAMAR samar aroma agak pekat mengendus dihantar sejuknya udara kampung

Baunya mengendap ngendap di antara ranting pohon kakao yang berjejer di kiri dan kanan jalan.

Bacaan Lainnya

Semua pohon milik 30 an kelompok tani warga Desa Matali Baru.

Jumlahnya mencapai puluhan ribu pohon. Deretan pohon setinggi 5-10 meter itu membentuk panorama  indah hampir sepanjang jalan raya Desa Matali Baru, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongomdow (Bolmong).

Jarak antara pohon dan  jalan hanya dipisahkan selokan air lebar sekira 50 cm.

Bau khas buah bernama Latin Theobroma cacao makin kuat saat mendekati sebuah  pondok sederhana.

Pondok kecil itu selebar  sekira 3  meter, panjang 5 meter. Tingginya ditaksir 3 meter.

Atapnya ditutup seng, lantainya dibeton. Semua sisi  di bagian atas pondok setinggi 2 meter  dibiarkan terbuka. Di bagian bawah ditutup papan.

Pondok kecil itu tempat pertemuan rombongan pelatihan jurnalistik  yang digelar Tempo Institut di Hotel Sutan Raja Kotamobagu.

Kunjungan ke kebun di Desa Matali Baru berlangsung Jumat pagi (18/09/2026).

Rombongan bergerak dari Sutan Raja Hotel di Kelurahan Kotabangun, Kecamatan Kotamobagu Timur.

Sejumlah wartawan  meluncur lebih awal. Seolah olah ingin beradu cepat dengan sang memtari. Target mereka tiba di Matali Baru sebelum jari jari sang surya memunggungi pundak Gunung  Ambang

Agenda  ke kebun pohon kakao diikuti puluhan orang. Terdiri 20 wartawan Bolmong raya dan Manado. Enam dari Tim Tempo Institut dan tim PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM)).

Direktur Utama PT JRBM Anang Razky Noor ikut serta. Tokoh low profile ini ditemani tim Corporat Communications Lita Regina Lubis, Fauzi Permata dan staf .

Sejumlah wartawan yang tiba lebih awal, bergegas ke kebun pohon kakao. Letaknya  begitu dekat dengan  pondok.

Rombongan lain tiba bersamaan. Take off sekira 06.30 Wita, tiba di lokasi sekira pukul 07.00 wita.

Wartawan yang tiba belakangan, langsung bergabung.

Ada beberapa petani kakao telah tiba di kebun sebelum mentari menjilat embun malam.

Di antara mereka, ada satu pria yang menyedot perhatian. Ada daya tarik  yang merangsang agar banyak mendekat.

Dia menyebut namanya Kamardin Pontoh. Para petani lebih gampang panggil Ladin.  Kamardin kelihatan lebih tua dari usianya. Katanya tahun ini genap 50 tahun.

Ladin penyandang  disabilitas. Sebelah kakinya terlahir cacat.  Kakinya jauh lebih kecil dari ukuran kaki pria dewasa normal.

Kaki kanan bisa sedikit digunakan menopang tubuh. Tapi tidak sempurna. Sebaliknya  kaki kiri tidak berfungsi.  Seperti menggantung kalau berjalan.
Kelihatan agak bengkok menjorok ke sisi luar.

Ladin tak bisa berdiri tegak. Kalau berjalan sangat bertumpu di dua tongkat kayu kesayangannya.(IM)

=== bersambung ==

 

 

Pos terkait