SAMAR samar aroma agak pekat mengendus dihantar sejuknya udara kampung
Baunya mengendap ngendap di antara ranting pohon kakao yang berjejer di kiri dan kanan jalan.
Para pemilik pohon adalah 34 kelompok tani. Satu kelompok tani beranggotakan 10 petani.
Tiap petani memiliki 1000- 2000 pohon kakao. Kalau ditotalkan jumlah pohon mencapai puluhan ribu batang.
Semuanya penduduk Desa Matali Baru,Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongomdow (Bolmong).
”80 persen penduduk Matali Baru menanam pohon kakao. Mereka tanam di kebun masing masing . Yang tidak ada lahan, terpaksa kerja sama dengan pemilik kebun dengan cara Bagi hasil,”tutur eks Sangadi Oslan Paputungan
Deretan pohon setinggi 5-10 meter itu membentuk panorama indah yang terlihat sepanjang jalan raya Desa Matali Baru.
Jarak pohon dan jalan hanya dipisahkan selokan air sekira 50 cm.
Bau khas buah bernama Latin Theobroma cacao makin kuat saat mendekati sebuah pondok sederhana.
Pondok kecil itu selebar sekira 3 meter, panjang 5 meter. Tingginya ditaksir 3 meter.
Atapnya ditutup seng, lantainya dibeton. Semua sisi di bagian atas pondok setinggi 2 meter dibiarkan terbuka. Di bagian bawah ditutup papan.
Di pondok kecil itu rombongan beristirahat sejenak. Anggota rombongan terdiri dari 20 wartawan Bolmong raya dan Manado.
Mereka baru selesai ikut pelatihan jurnalistik yang digelar Tempo Institut di Hotel Sutan Raja Kotamobagu.
Selain para wartawan, ada juga rombongan dari tim Tempo Institut dari Jakarta sebanyak enam orang
Kunjungan ke kebun di Desa Matali Baru berlangsung Jumat pagi (18/09/2026).
Rombongan bergerak dari Sutan Raja Hotel di Kelurahan Kotabangun, Kecamatan Kotamobagu Timur.
Sejumlah wartawan meluncur lebih awal. Seolah olah ingin beradu cepat dengan sang memtari. Target mereka tiba di Matali Baru sebelum jari jari sang surya memunggungi pundak Gunung Ambang
Direktur Utama PT JRBM Anang Razky Noor ikut serta. Tokoh low profile ini ditemani tim Corporat Communications Lita Regina Lubis, Fauzi Permata dan staf .
Sejumlah wartawan yang tiba lebih awal, bergegas ke kebun pohon kakao. Letaknya begitu dekat dengan pondok.
Rombongan lain tiba bersamaan. Take off sekira 06.30 Wita, tiba di lokasi sekira pukul 07.00 wita.
Wartawan yang tiba belakangan, langsung bergabung.
Ada beberapa petani kakao telah tiba di kebun sebelum mentari menjilat embun malam.
Di antara mereka, ada satu pria yang menyedot perhatian. Ada daya tarik yang merangsang agar banyak mendekat.
Dia menyebut namanya Kamardin Pontoh. Para petani lebih gampang panggil Ladin. Kamardin kelihatan lebih tua dari usianya. Katanya tahun ini genap 50 tahun.
Ladin penyandang disabilitas. Sebelah kakinya terlahir cacat. Kakinya jauh lebih kecil dari ukuran kaki pria dewasa normal.
Kaki kanan bisa sedikit digunakan menopang tubuh. Tapi tidak sempurna. Sebaliknya kaki kiri tidak berfungsi. Seperti menggantung kalau berjalan.
Kelihatan agak bengkok menjorok ke sisi luar.
Ladin tak bisa berdiri tegak. Kalau berjalan sangat bertumpu di dua tongkat kayu kesayangannya.(IM)
=== bersambung ==















