Lurah dan Pala Berharap Nama Kampung Pulih
Harimanado.MANADO– Rasa penasaran Lurah Kelurahan Ketang Baru, Kecamatan Singkil Muhammad J Awal akhirnya terjawab.
Pasalnya, lurah berserta 18 warga di Kelurahan Ternate Baru dan Kelurahan Ketang Baru menjalani rapid test dari gugus tugas Covid 19 Kota Manado dan Dinkes Kota Manado, Senin (15/6) siang.

Raut wajah, dari lurah yang ketiban cobaan kelurahannya diterpa bully pandemi covid-19 kelihatan ceria.
Ia sangat bersemangat mengabarkan hasil rapid test yang NON REAKTIF alias tidak terdeteksi benih coronavirus disease (covid) 19.
”Lega rasanya mendapatkan hasil rapid. Walau pisik dan psikis terasa lelah menangkis isu dan kritikan selama dua minggu terakhir,”tutur lurah kepada sejumlah wartawan di Warkop Harmoni, Komo Luar, Selasa malam.
Pengakuan serupa dari pala di Ketang Baru Zainal Palamani, saat dihubungi semalam melalui telepon menyatakan hasil rapid non reaktif.
Sembari menunjukkan sebuah kertas dari Dinkes Manado bertuliskan NON REAKTIF, tokoh masyarakat ini merasa lega dengan hasil rapid.
”Alhamdulillah hasil rapid telah saya jemput. Dan membuktikan kalau kami tidak tertular virus corona,”tuturnya.
Hal serupa dilontarkan dua pala di Ternate Baru.
Pala lingkungan 2 Vicky Harun dan Friscilia Pontoh Pala lingkungan 1 Ternate Baru mengakui hasil rapid negative.
Keduanya memberikan bukti hasil test melalui lurah Ketang Baru.
Panjang lebar, lurah terlama di Ketang Baru menceritakan dinamika di kelurahan yang diapit sungai di sisi selatan.
Pasca penjemputan jenazah warga Ternate Baru dari RSPK awal Juni, lurah dan warga Ketang Baru jadi sansak bully.
Berbagai upaya dilakukan lurah dan tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Aneka cara ditempuh tokoh pemuda untuk menetralisasi nama Ketang Baru.
Namun para netizen terus menerus memberondong kecaman dan hate speech yang dialamatkan ke Ketang Baru.
”Salah satu upaya menghilangkan stigma negative adalah menyerukan warga untuk rapid test. Apalagi, rapid tidak ada biaya,” ujar birokrat yang disenangi warganya.
Namun, kata Awal keinginan dia dan sejumlah tokoh masyarakat seperti Syahrul Poli, dan tokoh agama seperti Sofyan Lapasau yang menggugah warga supaya ikut rapid test dapat tentangan sejumlah oknum di dalam kampung.
Berbagai provokasi dan isu dimainkan melalui spanduk dan hasutan ke warga agar menolak rapid test.
Dan memang, akibat spanduk bernada perlawanan menolak rapid, nama Ketang Baru kena bully lagi.
Paling fatal, saat rapid test kepada 18 warga di Ketang Baru dan Ternate Baru, ada beberapa warga menggelar spanduk penolakan di depan Masjid Nurul Huda.
”Padahal hasil kesepakatan, tujuan rapid untuk menghilangkan stigma. Dan tidak ada paksaan untuk rapid massal. Tidak ada itu. Siapa yang bersedia itu yang diambil sampel darah,”katanya.
Memang, kata tokoh pemuda yang tinggal di rantau Jeffry Kadjuju kejadian ini tidak berdiri sendiri.
Warga Ketang Baru jadi bereaksi berlebihan lantaran jadi korban salah pengucapan nama kampung dari kadis Kesehatan Manado dan wartawan salah satu media.
”Makanya kami di rantau mencari cara menghibur sekalian menetralisir nama kampung yang jadi korban bully,”tuturnya.(hm)















