Sulut Laboratorium Kerukunan, Worang:Jangan Bawa Isu Rasis dan Agama di Pilkada

MANADO–Banyaknya isu rasial dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) dinilai tidak Pancasilais bahkan cenderung provokator.Bahkan ini dinilai yang mempersoalkan agama adalah provocator.Pengamat ekonomi Frederick Worang mengatakan
di zaman yang sudah maju ini era 4.0, era digital dimana pembeli dan penjual tidak perlu bertemu langsung, lalu apa masalahnya mempermasalahkan agama dan suku/ras ?
Untuk menjadi bangsa yang besar mari kita belajar sedikit dari America adalah negara Adi Daya.” Kita lihat goncangan yang dihadapi saat main hakim oleh petugas hukum kepada warga kulit hitam George Floyd sehingga mati.
Langsung sebagian wilayah-wilayah besar dan penting di America seperti New York, Los Angeles, Chicago terjadi kerusuhan yang memangkas pertumbuhan ekonomi dan menambah pengangguran,”jelas Worang sembari menambahkan
soal rasial ini juga yang menjadi faktor dari Donald Trump tidak terpilih kembali karena dianggap tidak bisa mengendalikan masalah ini.
Lanjutnya, jika isu agama atau suku/ras jadi masalah untuk mencari kepala daerah di Sulut, maka ini adalah titik balik dari apa yang dibuat oleh Founding Fathers negara Indonesia. “Presiden pertama kita Soekarno sudah meletakkan dasar dan ideologi negara yaitu Pancasila. Malahan Putra terbaik asal Minahasa G S SJ Ratulangi juga ikut berperan aktif merancang dasar negara lalu kenapa kita mau mengkhianatinya? “Mereka yang mempermasalahkan agama dan ras hanya golongan kecil saja. Haters jangan dibiarkan, ada sanksi hukumnya,”jelasnya. Sulut yang menjadi laboratorium kerukunan kata Worang telah teruji masyarakatnya tidak terpancing dengan isu-isu rasis dan Agama.
Tidak usah berbicara di tingkat pemerintahan, di tingkat perusahaan pun diskriminasi terhadap ras dan agama tidak boleh ada.
“Kalau kita Indonesia, Sulut mau mengaju ke negara yg sudah maju maka law enforcement diskriminasi dalam bentuk apapun juga (terhadap agama, ras, gender) harus ditegakkan,”terangnya.
Dia menambahkan perekomian di suatu daerah maju. Apabila di sekitarnya aman, tanpa ada diskriminasi rasis dan agama. “Tapi bersyukur di Sulut masyarakatnya welcome terhadap siapa saja yang ingin berbisnis. Coba kalau kita masih menomorkan satukan rasis tak mungkin daerah lain akan bebas berbisnis di Sulut,”tambahnya.
Jadi untuk Sulut kata Worang tak usahlah terpancing soal rasis dan agama.” Karena terbukti kita warga Sulut masih nyaman untuk berbisnis,”tandasnya. (tra )

Pos terkait