MANADO- Ratusan pengunjung Plaza Ramadhan ke 11 di Lapangan Ketang Ternate Baru dibuat takjub oleh Senator asal Sulut Djafar Alkatiri, pada Sabtu (23/4) malam.
Selama tiga jam peraih suara tertinggi DPD di Kota Manado berbincang bincang di atas panggung.
Dengan lugas, tegas dan cerdas mantan Ketua PPP Sulut menguraikan problem kebangsaan dan kerakyatan. Bahwa secara konteks, bangsa Indonesia lahir dari kesekapatan para raja yang mendiami sekira 17.504 pulau. Ada 1340 suku dan 300 an etnik.
Kondisi kebangsaan dalam nation state sudah begitu kuat dengan ideologi Pancasila. Namun dalam konteks nation community, bangs aini belum dikatakan baik.
“Ada dua konteks kebangsaan, dan bangsa secara komunitas, kita ini dalam keadaan tidak baik,”tandas Alkatiri yang mengenakan kaos oblong dari Inggris.
Dialog berbentuk podcast maki hangat ketika moderator dari wartawan A-Times Idham Malewa menyentil soal kondisi tidak baik-baik itu hanya di akar rumput, tapi di level elit termasuk Lembaga DPD RI dalam keadaan baik. Misalnya harta kekayaan bertambah di saa pandemic.
Wakil Ketua Komite ! yang bidangi pemerintahan, otonomi daerah dan hukum mengakui bahwa terjadi kenaikan aset para pejabat negara dan anggota DPD dan DPR RI.
Hebatnya Djafar, dengan terbuka dia menyebut fasilitas yang dirasakan anggota DPD RI. Mulai dari anggaran SPPD, anggaran reses yang besarnya ratusan juta sekali turun, hingga fasilitas kesehatan.
Namun, dia tidak mau menggunakan semua itu, jika tidak sangat dibutuhkan.
Dia menjelaskan bahwa tugas mereka sebagai anggota parlemen adalah bicara.
“Kami dibayar digaji negara untuk bicara. Tapi bukan asal bicara. Karena ada yang berani bicara, tapi sayang tidak punya data dan Analisa. Ada juga yang pintar tapi payah di bicara. Dan lebih parah lagi, tidak tahu analiasa dan tidak tahu bicara,”sentilnya.
Dialog dengan tema kebangsaan Sejam Bersama Senator Djafar Alkatiri ikut dihadiri Wakil Ketua DPRD Sulut Victor Mailangkay SH MH. Politisi ulung dari Nasdem.
Bertepatan Victor ada malam itu, Djafar menyentil nostalgia saat dia masih mahasiswa Fakultas Pertanian Unsrat.
Sebagai dosen ilmu politik Unsrat. Yang banyak memberikan ilmu politik dan hukum.
Djafat mengaku sudah masuk PPP saat masih mahasiswa. Pilihan menjadi politisi nyaris membuat dia drop out. Tapi, dengan kecerdasan dan alasan kemanusiaan Dekan Fakultas Pertanian alm Joppie Paruntu yang saat itu tokoh penting Partai Golkar tidak jadi mengeluarkan dari kampus.
“Saya pun akhirnya bertemu mener Victor saat KKN. Sebagai ketua kelompok. Mener Victor penanggung jawab kami waktu itu. Dan kami akhirnya bertemu di DPRD Manado dan DPRD Sulut,”katanya.
Victor pun membenarkan bahwa Djafar sebagai ketua kelompok KKN di Minsel yang terbaik se kecamatan waktu itu. Karena kecerdasan Djafar dia akhirnya bisa melenggang di anggota DPD RI.
“Semoga bung Djafar akan terus melanjutkan sampai dua periode di DPD RI, mari kita doakan,”katanya.
Setelah sejam lebih, ada beberapa pertanyaan yang sangat bagus, terkait kebangsaan, vaksin dan isu yang diciptakan negara tapi dampaknya membingungkan rakyat. Mereka bertanya apa yang dilakukan DPD RI.
Ada lagi masalah kebijakan subsidi minyak goreng, vaksin.
Senator menjawab dengan panjang lebar dan menarik kesimpulan bahwa vaksin, PCR dan lainnya adalah bisnis para konglomerat. Yang diuntungkan adalah kelompok oligarki. Termasuk ada oknum pejabat selevel menteri punya relasi dengan pengusaha yang mengelola bisnis PCR sampai vaksin.
Senator juga menyentil soal kiprah dia sebagai anggota DPD RI. Termasuk mengkritisi Ketua KPK Komjen Firly Bahuri. Saat itu Firly lagi rapat dengar pendapat dengan Komite I DPD RI, tanpa sadar nyeletuk bahwa orang beristri dua potensi koruptor.
“Saya pun kaget. Sambil mengatakan penyampaian dari awal sampai akhir bagus soal Pendidikan pencegahan dan penindakan. Tapi kalimat terakhir tidak pantas. Harusnya dia bicara jangan pakai asumsi. Sebagai ketua KPK bicara berdasarkan aturan dan hukum. Malah saya menyebut yang korupsi itu punya dua SK,”tukasnya.
Mantan wakil ketua DPRD Manado 2004 itu juga menyentil sisi kelebihan Presiden Jokowi juga kelemahan.
Di akhir dialog tunggal, Senator memberi doorprize berupa kaos oblong dua warna. Warna putih bertulis Selamat Idul Fitri dan kaus hijau selamat Ramadhan.(*)















