2020,PE Sulut ‘Lampu Kuning’

Idam Malewa

Coretan:

Oleh: Idam Malewa 

Bacaan Lainnya

RAPORT ekonomi Sulut di paruh pertama 2020 kurang menggembirakan. Ini tercermin dari kinerja Pertumbuhan Ekonomi (PE) Sulut untuk  triwulan I 2020.

Secara year on year (YoY), PE tumbuh di bawah ekspektasi, ada di level 4,27 persen.

Masih di bawah PE  triwulan yang sama 2019 sekira 6,57 %.

Tapi, masih bersyukur, lantaran masih di atas angka PE nasional sekira 2,97 %. 

Sektor andalan sebagai penyumbang PE mengalami perlambatan. Seperti sektor pertanian kehutanan dan perikanan hanya menyumbang 2,26 %. 

Beruntung sektor informasi dan komunikasi tumbuh 17 %, jasa kesehatan dan sosial melompat 14 %. Dua sektor ini sebagai penyumbang tertinggi pertumbuhan di triwulan pertama.

Sektor pengadaan listrik dan gas juga tumbuh 8,46 %, pertambangan dan penggalian 7,53 %, perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan motor tumbuh 7,01 %. Yang tumbuh melejit 19,3 % dan jasa kesehatan nasional 14,02 %.

Namun sayang, dua sektor produksi mengalami kontraksi.

Sektor  akomodasi dan makan minum turun 17,91 % dan sektor transportasi dan pergudangan serta sektor jasa perusahaan, masing-masing turun 2 %.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut Ateng Hartono postur PE Sulut bisa di atas 4,27 %, sayang di akhir triwulan pertama, wabah corona virus disaese (covid) 19 merubah keadaan. 

Misalnya, tingkat hunian hotel, makan dan minum hotel dan restoran dan jasa lain yang terkait dengan aktivitas di sektor penopang pariwisata, mengalami kontraksi. Apalagi, di awal tahun, kegiatan pemerintah belum banyak membantu.

“Akibat work from home, sektor transportasi, sektor akomodasi dan jasa perhotelan terpuruk.  Yang meningkat adalah jasa ekspedisi,” kata Ateng.

Lantas bagaimana dari sisi pengeluaran? Kata Ateng, dari sisi belanja, sejumlah sektor tumbuh moderat, hanya satu sektor mengalami tekanan sektor lembaga non profit yang layani rumah tangga  (LNRT). 

Yang patut disyukuri. pasar komoditi ekspor Sulut masih bergairah. Badai covid di China dan beberapa negara Eropa tidak membuat pasar ekpor stagnasi.

Padahal, komoditi ekspor Sulut, minyak dan turunannya dikonsumsi pasar China dan Eropa.

Sektor ini tumbuh 16,2 %, tapi diikuti juga peningkatan impor barang dan jasa sekira 13,9 %. Dua sektor ini menjadi pendorong terbesar PE Sulut.

Data BPS Sulut, pasar luar tetap tinggi permintaan atas bahan minyak nabati. Nilai ekspor minyak nabati naik dari USD 99,04 Juta di triwulan I 2019 menjadi USD 100,31 juta di triwulan 1 2020.

Yang diluar dugaan permintaan emas meningkat dari USD 32,55 juta di 2019 menjadi USD 34,04 juta di triwulan I 2020.

“Kenaikan sektor ekspor dan impor menyumbang pertumbuhan terbesar 4,39 % dan 3,72%,” katanya.

Kenaikan ekspor dan impor diimbangi belanja rumah tangga, investasi (PMTB) dan pengeluaran pemerintah. Ketiga sektor  masih tumbuh di triwulan I (YoY). Masing-masing tumbuh di level 3,12%, 4,19% dan 4,78%.

Masing-masing komponen ikut menyumbang PE triwulan pertama. Rumah tangga menyumbang 1,49%. Kemudian PMTB atau investasi 1,44 % dan belanja pemerintah 0,73%. 

Yang mengalami defisit hanya pengeluaran LNRT,  minus 2,52%.

Sektor ini dipengaruhi oleh kegiatan belanja politik. Maklum di awal tahun 2020, tidak ada kegiatan kampanye seperti halnya tahun 2019. 

PE yang agak moderat 4,27% masih memberikan harapan untuk periode ke depan.

Ini tercermin dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) triwulan I 2020. PDRB Sulut atas dasar harga berlaku berkisar Rp 31,79 triliun, masih di atas periode sama 2019 Rp 29,49 triliun.

Walaupun secara qtq (dibandingkan) triwulan IV 2019 PDRB jauh di bawah Rp36,08 triliun. Sementara untuk PDRB atas harga konstan (HK) meningkat tipis dari Rp20,49 T mendaki ke posisi Rp21,3 T.

 

Dari postur PDRB, sangat jelas belanja masyarakat masih dominan. Konsumsi masyarakat sebesar Rp14,37 T (ADHB) dan Rp 10,06 T (ADHK). Diikuti investasi Rp 10,72 (ADHB) dan ADHK Rp7,35 T. Belanja pemerintah Rp5,11 (ADHB) dan Rp3,2 T (ADHK). Ekspor Rp8,9 T (ADHB) dan Rp6,42 T. Kemudian sisi impor Rp8,08 T dan Rp6,23 T.

Dengan melihat komposisi pembentuk PE dan PDRB,  pemerintah harus kerja keras (inovasi sektor berbasis pangan) menjaga pendapatan masyarakat.

Jika pendapatan tetap terjaga, meski mengalami penurunan, tapi setidaknya untuk belanja keperluan pokok masih ada.

Untuk saat ini, rupa-rupa program subsidi langsung pemerintah seperti bantuan langsung tunai (BLT) akan menstimulus ekonomi masyarakat. 

Kemudian sebagai daerah yang mengandalkan sektor jasa akomodasi, transportasi, hotel dan restoran/rumah makan, pemerintah harus optimis, sektor jasa akan berangsur pulih dengan pelan pelan.

sumbangan di sektor ini sangat diandalkan. Lantaran banyak human resources tersedot di sektor ini. 

Kita berharap wabah pandemi yang memukul semua mata rantai ekonomi, jangan sampai menekan PE di triwulan berikutnya.

Minimal sama di kisaran 4-5 persen. Kalau sampai di bawah 4 persen, maka di akhir 2020, PE akan terseok seok turun di bawah 2019.

Jalan lain yang harus dilakukan pemerintah adalah terus menjaga produksi sektor pangan.

Sektor ini telah teruji menjadi back bone ekonomi Sulut. Mata rantai perdagangan sektor ini yang harus dijaga, jangan sampai membuat gaduh harga di tingkat end user.

Satu hal lagi, adalah menstimulus para pelaku usaha mikro dan kecil yang banyak menyedot tenaga kerja. 

Stimulus itu seperti pemangkas biaya retribusi dan paling ekstrem pemberian insentif pengurangan pajak untuk usaha skala UMK.

Supaya skenario seperti diatas jalan maka pemerintah Sulut mau tidak mau melakukan pendekatan supply side (sisi penawaran).

Konsep yang ditawarkan ekonom Robert Mundell di era Presiden USA Ronald Reagen adalah salah satu stimulan mendorong dunia usaha.

Memang akan mengurangi sisi pendapatan fiskal, tapi dalam jangka menengah dan panjang justri akan membantu pemerintah untuk meningkatkan PE.

Asumsi ini kemudian akan membuat PE berkualitas, tidak sekadar manis di angka-angka.

Ini juga akan menjaga tingkat inflasi. Inflasi yang disebabkan belanja (pengeluaran) masyarakat akan lebih bagus, daripada inflasi diakibatkan penurunan produksi.(*)

Pos terkait