Testimoni dan Kebahagiaan Djafar Alkatiri di Milad ke-56

Manado.Harimanado.com- Di syukuran perayaan Milad ke-56, Selass 3 Januari 2026, untuk kali pertama Ir Hi Djafar Alkatiri MM MPdI memberikan testimoni tentang kondisi kesehatan yang dialaminya.

Cerita berawal saat mampir di salah satu restoran di Jakarta, sepulang dari syukuran HUT Gubernur Sulut Yulius Selvanus (YSK) di Serang, Banten 3 November 2025 lalu.

Bacaan Lainnya

Di restoran ini, mantan ketua PPP Sulut melahap seporsi gulai dan 10 tusuk sate kambing. Usai makan, dirinya menuju Hotel Sari Pan Pacifik. Di tempat ini, ia kembali memesan roti dengan lapisan selai srikaya.

Sekitar tiga menit setelah makan roti selai itu, dia langsung memperlihatkan sikap yang agak lain. Gambar yang dilihat pada tab ipad-nya sudah terbalik.

“Itu terbalik,” begitu ia menegur “anak buah” yang memegang Ipad dimaksud.

“Tidak, Pak!” jawab si pemegang Ipad itu.
Dengan nada tinggi mantan senator ini kembali mengingatkan bahwa Ipad dimaksud terbalik.

Sang pemegang Ipad pun jadi heran. Sebab posisi Ipad itu sudah benar. Tidak terbalik. Djafar mencoba memanggil orang lain yang ikut rombongannya saat itu.

“Coba kamu lihat ini,” kata Djafar kepada lain sambil menunjuk gambar pada ipad itu. Tapi jawabnya : “Tidak, Pak! Tidak terbalik,” kata orang yang diminta melihat gambar di ipad itu.

Di saat itulah ia sadar dan merasa ada sesuatu yang tak beres. Kepalanya memang mulai terasa pusing. Kaki dan tangan kirinya sudah sulit digerakkan secara normal.

Maka Ia pun dibawa ke rumah sakit. Dan, dalam
pemeriksaan awal, tensi darahnya cukup tinggi. Ia juga mengalami hiperglikemia.

Kadar gula dara 500 mg/DL. padahal normalnya di bawah 200 mg/DL. Dokter pun segera memberi pertolongan secara optimal dan premium.

“Beruntung saya belum masuk kamar,” kata Djafar. “Kalau saya dalam kamar, tidak ada lagi orang yang melihat dan membantu,” kata Djafar sedikit me-rewind awal stroke yang dialaminya.

Ini diungkapkan Mantan Pimpinan DPRD Kota Manado di acara perayaan Milad-nya yang berlangsung Selasa sore 3 Januari 2026, di kediamannya, Kompleks Perumahan Simfoni, Kecamatan Tuminting Manado.

“Saya tidak segagah-berani seperti dulu,” katanya sambil memohon doa kesembuhan yang tengah berproses.

Dibanding awal-awal, kondisi Djafar saat ini sudah semakin membaik. Bicaranya lancar. Dirinya juga sudah bisa berjalan, meski kaki dan tangan kirinya masih lemah. Hanya saja, postur tubuhnya agak turun. Berat badan sebelum sakit 77 Kg. Turun 12 kg, menjadi 65 Kg saat ini.

Di papan papan ucapan yang memenuhi halaman rumahnya, semua tertulis angka 57. Tapi dalam kesempatan itu, Djafar meluruskan, bahwa sebenarnya ia lahir tahun 1970. Hanya saja, ia masuk sekolah masih di bawah umur. “Aba (bapak) saya menyesuaikan dengan syarat usia masuk sekolah saat itu,” ungkapnya.

Ia pun mengungkapkan kebahagiaannya di acara ulang tahun itu. Kebahagiaan pertama, hadirnya dua anak perempuan yang membuatnya suprise. “Mereka baru datang dari Malaysia. Mereka datang tanpa sepengetahuan saya. Datang bersama suaminya, kata Djafar sedikit terharu. Kedua anak perempuan —yang berdiri di sampingnya, Nasmi (psikolog) dan Mirja (dokter) langsung mendekap dan memeluknya. Mata Djafar diusap dengan tisu.

Komisaris Independen Bank Sulut Gorontalo (BSG) ini dikaruniai tiga orang anak. satunya anak laki-laki, Jafid Ababil. Dia tak sempat hadir karena kesibukan studi S-2 nya di Madinah.

Kebahagiaan berikut adalah kehadiran para tokoh masyarakat, tokoh agama, rekan-rekan sejawat, kerabat dan handai-tolan. “Kehadiran bapak dan ibu benar benar jadi kebahagiaan tersendiri,” katanya sembari memohon doa hadirin untuk proses pemulihannya.

Sejumlah tokoh ikut memberi testimoni seputar sosok Djafar

Di antaranya, rekan Djafar yang juga duduk di Komisaris BSG Dr Syahrul Mamonto, Kakanwil Kemenag Sulut Dr Ulyas Taha, Kakanwil Haji dan Umroh Hi Wahyudin Ukoli SAg, MPd, Tokoh Muslim Ayub Ali SE, tokoh wanita Muslim Sulut Prof Dr Hj Rukmina Gonibala, serta tokoh toleransi Sulut Pdt Hanny Pantouw.

Semua testimoni pada intinya melihat dan menilai sosok Djafar sebagai figur yang memiliki integritas, berkarakter, peduli, konsisten dan tegas dalam bersikap.

Dirinya juga tak kenal lelah dalam memberi dakwa di pelosok. “Saya mengenal beliau sudah lama. Kita pernah sama sama menjalankan dakwa sampai pelosok, saat Gorontalo masih bagian dari Sulut,” kata Prof Rukmina.

Ayub Ali sendiri sepakat dengan kesaksian sejumlah tokoh yang mengaku kegiatan Djafar sejak.muda sudah padat. Baik di organisasi keagamaan maupun organisasi politik.

Saking padatnya kesibukan itu, Ayub sendiri pernah menyarankan, agar di rumahnya perlu dipampang pemberitahuan soal waktu istirahat dan jadwal menerima tamu.

“Rumahnya Pak Djafar tidak pernah tutup. Tamu-tamu datang silih berganti tanpa mengenal waktu. Kapan istirahatnya? Saya pernah menyarankan soal pengaturan pola istirahat lewat papan pemberitahuan, ” kata Ayub yang juga mantan anggota dewan Sulut ini.

Hadir acara Milad Djafar, para jajaran komisaris dan direksi serta keluarga besar BSG.
Gubernur dan rombongan hadir di malam hari, setelah menjalankan kegiatan di Langowan.

Djafar, di tengah ikhtiar melakukan rawat jalan dalam proses pemulihan, tetap menjalankan tugas-tugas sekaligus kongribusi sebagai komisaris di BSG.

Insha Allah, semua doa bagi pemulihannya diijabah Allah SWT. Aamiin (tauhid)

Pos terkait