“WAHAI Jibril AS junjungan para mailakat. Hamba yang paling disayangi Allah. Sungguh amat mulia umat Nabi dan Rasul Muhammad si ‘kekasih’ Allah yang doanya dirindukan para malaikat.” Demikian pujian para malaikat pencatat amal kurang bermanfaat di bulan suci Ramadhan.
Yang ditanya membalas dengan senyum merendah. Jibril dan lainnya hanya mengundangkan tasbih tahmid dan takbir, sambil menunggu petunjuk dari Allah penguasa langit dan bumi.
Kelompok malaikat seperti dapat pencerahan. Mereka yang awalnya protes alasan Jibril dan lainnya menunda melaporkan rekapitulasi amal umat Muhammad SAW, akhirnya maklum dan memberi tanda setuju.
Dan Subhanallah. Kalam Alllah yang ditunggu para malaikat akhirnya tiba. Si pemilik alam semesta memerintahkan semua malaikat dan para ruh untuk turun bergembira bersama sang hamba hingga fajar masuk di Kamis 27 April jelang tengah malam hingga Jumat 28 April Subuh. “Tanadzalul malaikat wa ruhfiha bidzinillah”.
Hitungan hisab, Kamis malam itu, orbit Ramadhan telah mengitari bumi selama 29 hari.
Sementara di bumi, berkas sinar sunset Jumat sore mulai meredup. Tidak lama kemudian seruan adzan Magrib saling bersahutan. Pengeras suara sengaja dikeraskan. Mau berlomba adu cepat dan kencang. Supaya melesat tembus langit sidratul muntaha.
Di sela dengung adzan, di serambi masjid yang berada di Manado bagian utara, orang menelan sajian buka puasa. Rupa-rupa menunya. Ada balapis, cantik manis, pangku, gorengan, lampu lampu hingga bubur. Ada juga sebungkus kurma. Semua sumbangan jamaah berkelebihan.
salah satu hamba yang dirindukan malaikat ikut bersama batal puasa. Dia mengunyah tiga butir biji kurma dan minum air putih. Setelah itu dibasahi dengan teh hangat.
Tak sadar, kelopak mata teduh si pria mulai basah. Matanya mulai berjelaga. Dinding kelopak matanya jebol. Dua butir air mata meluncur. Dia buru-buru masuk ke dalam masjid. Malu ketahuan. Bergegas pria beristri dua yang rukun menepi di dekat dinding ujung utara masjid. Tidak di shaf pertama. Dia memilih di shaf tengah. Dia mengusap rambut mulai berwarna perak yang dipangkas pendek. Wajahnya bahagia. Ada riak teduh di dalamnya. Dia menangis lantaran kepergian Ramadhan kareem. Bulan dia bermunajah kepada Allah. Dia yakini ini bulannya Allah.
Setelah sholat Magrib, ayah tiga anak ini sholat sunnah dua rakaat. Di penghujung sholat sunnah, saat dahinya menyentuh sajadah tua, jauh di atasnya para malaikat telah bersiap. Mereka akan tur ikuti perintah sang Maha Kuasa. Ketika perintah pintu langit dibuka, tiba – tiba ada suara kelompok malaikat lain berseru. Suasana yang tadinya ceriah dengan seruan tasbih tahmid dan takbir jadi terusik. Semua malaikat dan ruh mencari arah suara. Si penginterupsi melanjutkan seruannya.
“Maha suci Allah dengan segala keagunganNya. Kita para malaikat tidak tahu tabir masa depan kecuali izin Allah. Mengenai hamba di pesisir utara Manado, kita harus menunggu dia selesai sholat tarawih.”
“Bisa saja, wahai junjungan para malaikat, si hamba berdoa tidak sesuai harapan anda,”tandasnya.
Malaikat Jibri dan yang lainnya tidak menanggapi. Mereka tetap sabar, meski malaikat pencatat amal kurang baik, masih meragukan. Jibril yakin, doa si pria yang tidak suka pamer kesalehan, tetap istiqomah sampai ujung perpisahan Ramadhan.
Setelah konsultasi dengan penguasa alam semesta, akhirnya musyawarah pemberian anugerah lailalatul qadar untuk si pria usia 50 an dipending.
Jibril dan lainnya bisa menerima alasan, karena di ujung Ramadhan banyak hamba yang tadinya dimuliakan, tergelincir di tangga Megamall. Tenggelam di lautan Mantos. Terpeleset di bibir riya. Terbakar emosi desakan istri dan anak.
Pada pukul 19.30 saatnya Sholat Isya dan Taraweh tiba. Kebetulan masjid yang terletak di jalan Pogidon raya mewarisi kebiasaan sholat Nabiullah Muhammad. 11 rakat. Terdiri dari 8 sholat Taraweh dan 3 rakaat witir.
Bagi Malaikat Jibril dan lainnya, doa si pria yang jarang pakai peci akan menjadi medan magnet pertaruhan. Sekaligus kepercayaan Allah kepadanya.
Akhirnya sholat witir berakhir. Di sujud terakhir rakaat ketiga. Hamba yang tidak berjenggot, dahinya tidak hitam, akan memulai ritual doanya. Semua malaikat menanti isi doanya. Ada ketegangan di sana. Jibril dan lainnya terus bertasbih. Yang lain juga lafadz pujian kepada Allah. Detik yang ditunggu pun tiba.
Pelan bibir mulai bergerak. Melafadzkan syair doa. Doa yang dirindukan malaikat dan disukai Allah. Begini desiran doa si hamba…
“WAHAI ALLAH…
(lanjut usai sholat)















