‘Hulodu’; ‘Kegenitan’ KG vs ‘Kemarahan Intelektual’ FT

Muhammad Andi Nur Bongkang.(dok: pribadi)

Oleh:Muh Nur Andi Bongkang, SE*

BEBERAPA tahun  lalu pernah mendengarkan penjelasan dari seorang ustadz yang sudah almarhum sekarang (Alfathihah untuk beliau).

Bacaan Lainnya

Dari isi pembicaraannya saya tertarik dengan satu frasa ceritanya yakni; dikisahkan bahwa ada dua orang sahabat berjalan di padang sahara.

Dari kejauhan nampak bagi mereka satu noktah hitam. Mereka berdebat apa (atau siapa) noktah hitam tersebut.

Orang pertama berkata bahwa itu KAMBING, sedangkan orang kedua mengatakan itu BURUNG.

Ketika mereka mendekati objek hitam tersebut mendadak terbang menjauh.

Sontak orang kedua berkata : benar saya bilang itu BURUNG, tapi orang pertama berkata dengan lantang itu ‘ANZA WALAU THARA KAMBING  MESKI DIA TERBANG..!!!!

Akhir-akhir ini sudah sekitar dua bulan jagad medsos dimeriahkan dengan berita-berita terkait covid-19,

apakah itu pasien negatif maupun yang plus-plus serta yang meninggal dunia.

Kita warga Manado khususnya lebih banyak membahas sisi-sisi negatif yang hanya membuat banyak orang stress dan imun turun dan itu sasaran empuk mr. covid-19.

Ali Syariati mengatakan “dunia sekarang tidak membutuhkan orang-orang pintar dan cerdas, tapi dunia membutuhkan orang-orang yang tercerahkan “ar Rausyan Fikr”.

Seharian ini di medsos FB dan WAG di Manado dan juga Gorontalo (6 Mei 2020) ramai dengan berita terkait penanganan Covid-19.

Sebuah tulisan yang di-publish oleh sahabat Idam Malewa di Harimanado.com dan Koran Harian Manado tentang PSBB ‘Hulodusebuah cakaran Katamsasi Ginano (KG).

Cakaran KG terkait penerapan PSBB di Gorontalo;dimana tulisan tersebut kemudian ditanggapi oleh Funco Tanipu (FT) dengan judul Siapa Sebenarnya yang ‘Hulodu’, (Tanggapan atas Catatan Katamsi Ginano).

Tanggapan balik Kandidat Doktor dan SOSIOLOG UNG, sebagai bentuk ketersinggungan dan “KEMARAHAN INTELEKTUAL” terhadap “KEGENITAN” seorang KG dalam catatannya tersebut.

Ini mengingatkan saya pada perdebatan terkait Filsafat antara Ghazali dan Ibnu Rushd.

Bahkan di laman FB silang pendapat mulai dari pembelaan dan kritikan dan upaya mempertemukan dua kutub tersebut dengan cara mengawinkan imajinasi emas seorang KG dengan imajinasi budaya FT menurut Hamid Tome.

Sedangkan menurut sahabat Karyanto Martham banyak generasi setelah KG yang takut mengritik tulisan KG dengan beberapa alasan diantaranya pertama; segan atas nama besar KG di dunia tulis menulis kedua; tidak paham isi tulisan KG dan ketiga; takut dicap kolotidi.

Berdasarkan pendapat dari sahabat-sahabat FB tersebut kemudian saya mencoba menyelami dua imajinasi tersebut.

Bolak balik membaca “kegenitan” KG dan “Kemarahan Intelektual FT”. Bacaan saya bahwa jika kita nomori “kegenitan” KG akan kita dapati 17 nomor, sedangkan “kemarahan Intelektual” FT tertuju pada 3 nomor saja (4,5,6), dan sepertinya sengaja” (semoga saya salah) keluar “OUT OF DEFINED” dari pesan utama KG.

Saya yang tidak banyak mengetahui cakaran serta kegenitan seorang KG tentu tidak bisa mengambil kesimpulan dini yang fatal nanti hanya akan di marahi pak guru Jefry Kadjuju dan sahabat Ichsan Adrias Male (bolo Maafu pak guru dan sahabatku).

Atau nanti akan disebut kolotidi nantinya jika saya salah.

Terlebih lagi imajinasi dari seorang kandidat doktor tersebut yang beliau tumpahkan kemarahan intelektualnya atas dasar socioculture gorontalo.

Dalam pengamatan saya di beberapa kegenitan seorang KG, ada satu karakter tulisan beliau; di setiap tulisan KG pasti ada gaya ecek-ecek MOCK  didalamya sebagai hiasan dalam pesan-pesan besar yang hendak KG sampaikan.

Namun sebagian besar kita aktivis Manado dan Gorontalo justru banyak terjebak pada permasalahan yang ecek-ecek itu (saya tidak tau sebabnya apa) dan meninggalkan pesan-pesan besar yang hendak di sampaikan KG.

Namun sebelum jauh menulis sempatkan diri bertanya ke pakar bahasa Gorontalo di pasar Bersehati saudara Panglima Brigade Masjid AR Noho Poiyo, apa sih makna sebenarnya dari HULODU DAN MOHULODU.

Jika kemudian harus menanggapi MOCK seorang KG secara emosional lewat KEMARAHAN INTELEKTUAL seperti gaya seorang FT, maka yang paling layak melakukan itu adalah minimal saya (atau yang sejenis dengan saya).

Sebab saya yang seorang Putra BUGIS dan GORONTALO (bapak saya Andi Mappaewa Bongkang dan Ibu saya HAWA DATAU) terwakili dalam MOCK seorang KG tersebut.

Soalnya KG sempat menulis BUGIS dan KAPURUNG juga. Tapi lagi-lagi saya tidak mau terjebak pada wilayah MOCK KG tersebut.

Kembali ke DEFINED yakni tentang COVID-19 dan PSBB di Indonesia termasuk Gorontalo. Mengapa kita tidak pernah membahas masalah-masalah positifnya COVID-19, salah satunya dimana covid19 telah menjadi antitesa dari penelitian yang cukup lama dari Walter Ambrust terkait konsumerisme Ramadhan (liat tulisan saya di https://exposemedia.id/edisi-selasa-5-mei-2020/).

Di samping itu juga tentunya kita harus tahu bagaimana cara terbaik penanganannya dengan berkaca ke Vietnam dalam penanganan pandemi atau paling tidak ke pulau kecil TAIWAN dimana sekarang mereka telah membuka semua akses sosial di Taiwan.

Bahkan Negara Kecil yang belum diakui dunia tersebut mampu membantu 17 juta masker ke beberapa negara besar, mulai dari Amaerika Serikat sampai ke pulau terkecil di kepulauan fiji; Taiwan menghadapi sendiri covid19 tanpa bantuan luar, tanpa penularan lokal, tanpa wabah,dan mereka tidak panik dan Taiwan menjadi pahlawan; TAIWAN CAN HELP. https://www.facebook.com/NasDailyBahasaIndonesia/videos/2632771533709422/

Pada akhirnya saya hanya bisa menyampaikan Pesan saya teruntuk KG :

ISTIRAHATLAH SEJENAK (kalau boleh) dari KEGENITAN-KEGENITAN ITU, karena tidak semua orang mau digenit-genitkan oleh MOCK tersebut.

Dan kepada FT sang kandidat Doktor janganlah terlalu cepat meluapkan KEMARAHAN INTELEKTUAL, karena hanya akan melahirkan “(Mo)Hulodu” yang baru bagi sebagian orang yang tak pernah santai di pinggiran pantai imajinasi intelektual kalian.

Socrates mengatakan marah itu gampang, tapi marah kepada siapa; dengan kadar kemarahan yang pas, pada saat dan tujuan yang tepat, serta dengan cara yang benar itu yang sulit serta “cobalah dulu baru cerita, pahamilah dulu baru menjawab, pikirlah dulu baru berkata, dengarlah dulu baru beri penilaian, bekerjalah dulu baru berharap:

Amirul Mukminin berkata : “sekiranya aku hadir di saaat itu, niscaya akan aku damaikan Musa as dan Hidhir as” ketika mereka berdua berdiri di dua tepian tak berpadu bahraini yal takiyan.

  1. Semoga torang samua tidak menjadi dan menambah daftar orang-orang Hulodu atau kaum Ahmak. Saya tunggu KG dan FT untuk ngopi sejenak di Manado. Jefry Kadjuju jaga benteng dulu. Wallahu alam.(hm)

Pos terkait