Laut yang Sedot Jembatan dan 15 Bangunan di Amurang Pernah Terjadi Tahun 1970 an, Kata Warga Konon Ada Kaitan Soputan

MANADO- Bencana alam di pesisir sebagian Kelurahan Bitung dan Uwuran Satu, Kecamatan Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, Rabu (15/6)  banyak keanehannya. 

Tidak ada peristiwa alam seperti gempa atau badai laut, tapi tanah disertai bangunan di pinggir laut seperti disedot.

Bacaan Lainnya

Peristiwa yang terjadi Rabu siang sekira pukul 14.00 mengejutkan semua orang. Warga di dua kelurahan dan sekitarnya kaget dan berbondong bondong merekam peristiwa alam itu.

Dari rekaman para warga, awal kejadian air laut dan air sungai mengerus tembok pengaman bangunan warga.  Pondasi mirip talud ini difungsikan untuk melindungi warga pesisir pantai serta jalan boulevard.

Namun talud hancur. Akibatnya jembatan di boulevard Amurang roboh perlahan lahan disedot air. Begitu pun rumah permanen yang berada di tepi dilumat air pantai. Di saat bersamaan cuaca di laut tidak terlalu ekstrem.

Akibat tanah yang diduga kena abrasi air laut, pohon dan tiang listrik dan Telkom roboh melintang di tengah jalan di Kelurahan Bitung.

“Awas lari, jangan mendekati tiang. Masih ada setrum itu,”teriak warga sambil merekam.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Minahasa Selatan, Thorie R Joseph abrasi terjadi pada pukul 14.00 WITA.
Tidak ada korban jiwa maupun korban terluka dari kejadian tersebut.

“Data yang kami himpun, ada 15 bangunan dan satu jembatan di boulevard hancur diseret air laut,”katanya.

Sementara kerugian materil akibat bencana alam tersebut ditaksir mencapai miliaran rupiah. Informasi yang dihimpun  dari berbagai sumber menyebutkan, musibah abrasi yang menimpa warga pesisir pantai itu bukan pertama kali terjadi. Seperti diungkapkan Gubernur Sulut Olly Dondokambey, kepada wartawan.

 

Kata Olly musibah seperti ini pernah terjadi pada tahun 60-an di lokasi yang sama.

” Kepada warga kami minta jangan berkerumun di lokasi itu.  Jangan pergi menonton  karena dikhawatirkan  tanah akan masuk lagi jangan sampai tertimbun tanah,” pinta gubernur.

Kepada jajarannya baik Pemprov Sulut maupun Pemkab Minsel, gubernur meminta untuk segera bergerak dan mengirim bantuan  agar bisa meringankan beban warga disana. ” Pemprov segera kirim bantuan berupa bahan makanan dan lainnya yang dibutuhkan  warga korban abrasi pantai,” tandas gubernur kepada wartawan

Penuturan salah satu tokoh pemuda juga wartawan senior Jimmy Endey, di lokasi kejadian pernah alami hal yang sama tahun 1970 an dan berulang tahun 1980 an. Kenapa bisa begitu, diduga tanah dasar di lokasi abrasi berbentuk pasir yang konon sama dengan pasir Gunung Soputan.

“Kalau orang Amurang asli tahu sekali tidak bisa bangun apa apa di sana. Lokasi itu dulu disebut tanah tapela. Artinya mudah longsor. Apalagi kalau Soputan meletus, tanah di situ seperti disedot air,”kata Endey.(at/hm)

 

Pos terkait