Harimanado.com- Seruan stop politisasi umat dikumandangkan. Maklum mahar SK lagi hangat dibicarakan di pemilihan kepala daerah (pilkada) Kota Manado.
Ada yang pakai mahar tunai atau dengan kompensasi.

Praktek politik ini membakar harga diri Anggota DPD RI dapil Sulut Djafar Ir Alkatiri MM MPdI.
Wakil Ketua Komite I DPD RI ini mulai gundah. Resah mendengar politik transaksi sejumlah partai. Setelah mencium ada praktik ‘balante dukungan, senator vokal secara tegas menyatakan pilkada Manado telah dicederai. Telah merampas suara rakyat yang direbut di pileg.

“Saya nyatakan saat ini Pilkada tidak menarik dan tidak relevan lagi dalam perspektif keumatan,”tandas Djafar saat diskusi di grup WA, Selasa siang.
Rasa prihatin legislator DPRD Sulut 2009 ini sulit disembunyikan. Sindirannya mengarah kepada elit partai. Yang dia anggap perkaya diri pribadi, tapi mengecewakan harapan pendukung.
“Biarkan mereka yang bermain politik untuk kepentingan pribadi dan gerbongnya,” sindir Djafar tanpa menyebut elit dan partai apapun.
Seruan Djafar direspon sangat positif. Hampir semua tokoh dan aktivis muda mendukung. Mereke menunggu dipandu peraih 50 an ribu suara DPD RI dari Manado saat pileg 2019.
“Kami siap mendukung apa yang pak Djafar niatkan,”kata Abid Takalamingan dan Ayub Ali Albugis.
Gayung bersambut. Djafar merespon dorongan para tokoh masyarakat. Dia pun berjanji akan kembali jadi singa panggung, asalkan kwartet ULAAMA (Ulyas Abid Ayub Machmud) dilamar partai pemilik tiket.
Djafar akan all out andai kwartet Ulyas Taha, Abid Takalamingan, Ayub Albugis dan Machmud Turuis, dipinang salah satunya.
“Tapi saya masih berharap AT, MT, UT dan AA bisa masuk dan mengembalikan kepercayaan kita semua. Saya akan berdiri di antara mereka,” janji mantan ketua BKPMI Sulut ini.(hm)















