OD: Sila ke 5 Harus Diamalkan di Pandemi Covid
Harimanado.MANADO– Dialog Hari lahir (harlah) Pancasila 1 Juni 2020, Senin (1/6) sore, patut dapat pujian.

Lantaran dialog virtual yang berlangsung selama tiga jam, (pukul 16.00-19.00 Wita) sukses luar biasa.
Jumlah partisipan di zoom meeting menembus angka 420 dan di kanal youtube Kesbangpol menembus 1200 viewer.

Hebatnya lagi, dua petinggi Sulut Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven O Kandouw ikut webinar sampai akhir dari tempatmya masing-masing.
OD sapaan akrab gubernur Sulut menyampaikan poin penting tentang Pancasila sebagai ideologi bangsa yang final.
Sampai sekarang kata OD banyak yang salah artikan sejarah lahir Pancasila.
Bendum DPP PDIP ini mengatakan Pancasila yang disampaikan Soekarno pada 1 Juni 1945 tidak berbeda dengan yang disahkan pada 18 Agustus 1945.
“Kita harus sampaikan ke generasi muda Pancasila itu satu. Tidak ada tiga versi. Seolah yang disampaikan oleh Bung Karno 1 Juni, berbeda dengan 22 Juni dan 18 Agustus. Yang benar adalah Pancasila sudah disampaikan sejak 1 Juni dan terus dibahas oleh panitia 9 dan setelah pertimbangan maka pada 18 Agustus disahkan sebagai dasar negara Indonesia,”tandas gubernur yang populis dan pluralis.
OD menambahkan, Pancasila selama rezim orde baru terkesan ditutupi hari kelahirannya 1 Juni. Baru beberapa tahun terakhir sejarah lahir Pancasila diangkat.
Selama ini hanya hari kesaktian Pancasila disebut sebut.
“Semua harus faham sejarah lahir Pancasila. Di mana dirumuskan oleh tokoh nasionalis dan religius. Jelas rumusan Pancasila lahir dari tokoh nasionalis dan muslim, serta terpenting ada putra Sulut ikut merumuskan Dr AA Maramis. Kita warga Sulut wajib menjaga nilainya,”tutur OD.
Mantan Ketua Komisi Keuangan ini menyentil substansi mengamalkan Pancasila di tengah wabah pandemi coronavirus disaese (covid) 19.
Di saat sekaranglah nilai nilai Pancasila diamalkan. Seperti di sila ke 5, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
”Bentuk mengamalkan di saat pandemi adalah membantu sesama yang terdampak covid 19,” sentil OD dengan mimik serius.
Akhirnya kata nakhoda Sulut ini, nilai filosofi Pancasila harus dijadikan akar teladan siapa saja. Termasuk para pimpinan ormas, pimpinan daerah atau warga Sulut.
”Pancasila adalah pandangan hidup yang menjadikan pemimpin adalah teladan,”ucap OD sambil memetik kata merdeka kepada ratusan partisipan webinar zoom dan ribuan viewer di youtube.
Webinar yang digagas Badan Kesbangpol Sulut, Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Sulut dan INN media Grup bertemakan ‘Pancasila Dalam Tindakan Melalui Gotong Royong Menuju Indonesia Maju Sulut Hebat’
Empat pemateri nasional menyampaikan pandangan tentang sejarah dan nilai Pancasila yaitu Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP, Prof. Dr. F.X.Adji Samekto, M.Hum.
Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko PMK Dr I Nyoman Shuida.
Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama Dr H Nifasri MPd.
Ketua Umum Asosiasi FKUB Indonesia Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet.
Moderator Kabid Bina Ideologi, Wasbang dan Karakter Bangsa Johny Suak memandu diskusi dengan baik.
Suak bersama Ketua FKUB Sulut Pdt Lucky Rumopa dan CEO INN Media Grup Urif Hasan ikut mengawal dari lantai 6 kantor gubernur Sulut.
Diawali sambutan Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw yang mengingatkan bahwa ideologi Pancasila sudah final. Menjadi pemersatu. Sangat kuat jadi perekat bangsa.
“Pancasila menjadi dasar sekaligus pijakan kita bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata SK, sapaan akrab Wagub dalam sambutannya.
Dia menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila harus diamalkan di tengah – tengah masyarakat.
“Bagaimana nilai kemanusiaan dari Pancasila itu. Salah satunya adalah gotong royong. Tentunya, di tengah pandemi covid-19. Bagi yang memiliki rezeki lebih untuk bisa membantu masyarakat yang terdampak. Demikian juga nilai-nilai lainya,” harap Kandouw.
Sementara CEO INN Urief Hasan dalam pengantarnya mengatakan bahwa Pancasila harus menjadi pandangan hidup bersama. Artinya, Pancasila sebagai miniature bangsa.
“Nilai-nilai Pancasila mulai terkikis hari ini. Terutama di kalangan generasi muda kita. Tentunya, ini seiring perkembangan teknologi dan sebagainya,” kata UH sapaan akrab Urief.
Dia menegaskan, Pancasila sebagai penyatu sekaligus perekat dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kita rawat terus spirit dan nilai-nilai Pancasila,” pungkas Hasan.
UH yang menyentil betapa pentingnya memaknai sejarah lahir Pancasila yang telah berusia 75 tahun.
Pemateri pertama FX Adji Samekto menguraikan Pancasila sebagai welstanchaung atau pandangan hidup bangsa.
Yang menjadi cita cita untuk mengisi pembangunan. Yang harus diajarkan secara utuh.
”Sebagai pandangan hidup, paling baik adalah menjelaskan Pancasila secara obyektifikasi bukan indroktrinasi,”kata profesor bidang hukum di Universitas Diponegoro.
Pemateri kedua Dr I Nyoman lebih menitik beratkan kaitan Pancasila dengan revolusi mental.
Pasalnya, Pancasila sebagai ideologi yang final, masih terus dirongrong oleh kelompok intoleran dan ideologi transnasional
”Implementasi dari nilai Pancasila diwujudkan dalam bentuk revolusi mental kepada generasi saat ini,”katanya.
Kemudian Dr Nisfari mengibaratkan Pancasila adalah rumah besar untuk bernaung semua agama.
Semua bisa hidup dengan damai. Karena masing masing agama punya kamar sendiri sendiri.
”Tidak bisa ada pemaksaan untuk menyeragamkan cara pandang. Masing-masing agama dilindungi, tapi tidak bisa dipaksakan pandangannya ke agama lain,”tandas ulama ini.
Dia juga menyentil empat prinsip mulai dari prinsip ketuhanan, prinsip kemanusiaan, prinsip kebangsaan dan prinsip musyawarah.
Terakhir, Ida PA Sukaet lebih banyak memuji keharmonisan di Sulut, yang dia sebut rumah kerukunan dan kemajemukan.
Diskusi yang panjang ini mendapat respon peserta. Ada lima peserta dari sekian banyak yang ingin bertanya.
Di antaranya Kabid Bimas Islam Kemenag Sulut Ulyas Taha MPdI dan Kakanmenag Talaud Yahya Pasiak.
Mereka pada umumnya meminta literasi sejarah dan makna Pancasila lebih banyak dilakukan.
“Memang sudah ada anggota MPR RI yang mensosialisasikan Pancasila, tapi masih perlu tambah. Baik nilai pilosofisnya, historisnya dan landasan negaranya,”kata Ulyas.
Mereka yang bertanya akan diberi doorprize dari beberapa sponsor seperti PT Telkom Manado dan Bank Prisma Dana.
Peserta wibinar ada dari tokoh publik dan pejabat pemerintahan, di antaranya para Kepala badan Kesbangpol, Kakanwil Kemenag Sulut Dr Abd Rasyid, Dekan FH Unsrat Dr Flora Kalalo, budayawan Reiner Ointoe, Anggota DPRD Minut Joune Ganda, para kepala sekolah, ketua OSIS, dosen dan masyarakat umum.
Di akhir diskusi Kepala Badan Kesbangpol Steven Liow mengucapkan terima kasih dengan webinar yang sukses.
Dan berjanji diskusi kolaborasi Kesbangpol, FKUB dan INN Media Grup akan berlanjut.
Setelah menutup dialog, CEO INN Urif Hasan didampingi GM Posko Warni Rahim menyerahkan cinderamata karikatur Gubernur OD kepada Kaban Kesbangpol Steven Liow disaksikan beberapa sponsor pendukung seperti Telkom Manado dan Bank Prisma Dana.(hm)















