Pidato Kenegaraan Ketua DPD RI Angkat Falsafah Mapalus di Sidang MPR RI, Begini Respon Tokoh Budaya Sulut

Jakarta,Harimanado- Sidang tahunan MPR RI jelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke 81 RI di gedung DPD/DPR/MPR RI mengejutkan warga Minahasa Sulut.

Terjadi peristiwa langka saat pidato kenegaraan Ketua DPD RI Sultan Bachtiar  Najamuddin  di
sidang tahunan juga sidang bersama DPR RI dan DPD RI pada Jumat (14/08/2026).

Bacaan Lainnya

Di momen bersejarah untuk Minahasa, Semator Sultan menyebut falsafah luhur asal tanah Minahasa, yang disebut Mapalus.

Para tokoh Minahasa dan warga Minahasa  kaget yang saksikan sidang paripurna kaget bercampur  senang.

Pidato kenegaraan juga memantik gelombang respons positif dan rasa bangga dari berbagai lapisan masyarakat adat serta komunitas Minahasa.

Salah satu budayawan kenamaan Sulut Prof. Dr. Kamajaya Al Katuuk salah satu yang gembira.

Prof Kamajaya yang juga akademisi Unima bersama segenap elemen masyarakat Minahasa menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih yang tulus kepada Ketua DPD RI.

“Pengakuan ini dinilai sebagai bentuk penghormatan nyata terhadap kearifan lokal daerah yang mampu berkontribusi pada pembangunan karakter bangsa di tingkat nasional,”tuturnya.

Dalam sidang yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto, para menteri, Ketua DPD RI menegaskan nilai penting dari falsafah ini:

“Di tanah Minahasa, falsafah Mapalus hadir bukan sebatas tradisi gotong royong, melainkan sebuah etika kerja komunal yang menyatukan seluruh daya, waktu, dan pikiran demi kemaslahatan bersama.” 

Nilai ke-mapalus-an ini membuktikan bahwa kemandirian sejati lahir dari kemitraan yang setara dan kesetiakawanan yang melampaui sekat sosial. Dari Sabang sampai Merauke, denyut kearifan seperti inilah yang menghidupi keutuhan Republik Indonesia,”sambungnya.

Falsafah Mapalus yang didefinisikan sebagai etika kerja komunal melampaui sekat sosial dan primodialisme.

Budaya Mapalua membentuk kemitraan  yang setara, masih sangat relevan dengan tantangan kebangsaan saat ini.

Melalui momentum ini, seluruh elemen kemasyarakatan diajak untuk kembali menghidupkan dan mendiskusikan nilai ke-mapalus-an tersebut di ruang-ruang publik.

Respons positif yang meluas ini membuktikan bahwa daerah memiliki modal sosial-kultural yang kuat untuk memperkokoh ketahanan nasional.

Apresiasi kolektif ini harus menginspirasi daerah-daerah lain di Nusantara untuk terus menggali, merawat, dan menggaungkan kearifan lokal masing-masing.

Sebab, keutuhan Republik Indonesia sesungguhnya dihidupi oleh denyut-denyut kearifan lokal yang luhur dari Sabang sampai Merauke.(*)

Pos terkait