MANADO- Aksi saling bela kubu Palestina dan Israel di Sulut masih terus terjadi. Masing-masing kelompok kukuh meyakini baik Palestina atau Israel sama-sama harus dibela.
Pandangan dua kelompok ini dikhawatirkan akan memperkeruh suasana kekeluargaan di Sulut. Untuk meminimalisir aksi saling caci dan bela, harus ada langkah dialogis. Secepat mungkin ada pertemuan para tokoh agama dan tokoh masyarakat tiga agama samawi. Kristen Islam dan Yahudi.
“Makin banyak ruang dialogis antara pemimpin agama, khususnya kami pemimpin agama Yahudi di Sulut, saya kira akan meneduhkan suasana,” kata Rabi Yaakov Baruch ditemani ayahnya Toar Palilingan Sr dan ibunya Dr Donna Setiabudi di lebaran ketupat di Kelurahan Maasing, Kamis malam (20/5)
Imam Agama Yahudi di Sinagoge Shaar Hashamayim di Tondano, Minahasa akan sangat senang jika dilibatkan di ruang dialog antartokoh agama. Makin sering ruang dialog antaragama dilakukan, maka persepsi masing-masing penganut akan lebih obyektif dan lebih besar nilai positif.
Dia dan penganut Yahudi di Sulut siap untuk menjelaskan Zionis Israel sebagai negara dan Yahudi sebagai agama. Kata Rabi yang bernama asli Toar Palilingan Jr, umat Yahudi tidak semua Zionisme. Tidak semua penduduk Israel mendukung aksi kelompok Zionisme yang sekarang berperang melawan kelompok Islam Hamas Palestina. Karena di Israel hidup juga beberapa aliran agama Yahudi dan umat Islam keturunan Arab.
Mereka pun komunitas berdarah dan keturunan Yahudi, menolak untuk dikaitkan dengan perang Zionisme Israel dan Palestina. Karena urusan Israel tidak ada kaitan dengan komunitas penganut agama Yahudi di Sulut yang semua warga negara Indonesia asli.
“Kami kelompok Ortodoks Yahudi tidak mau masuk campur perang Israel dan Palestina, serta kami tidak ada kaitan dengan Zionisme. Kami sama dengan agama samawi lain, ada faksi-faksi,” tandas dosen di Unsrat ini.
Rabi yang memiliki jenggot ini menginginkan ada dialog yang cepat dan sering dilakukan pimpinan organisasi keagamaan dan lebih baik dimediasi pemerintah. Karena dia yakin dengan jalan dialog, maka hubungan persaudaraan antarumat beragama di Sulut tidak akan terhasut dengan peristiwa seperti di Israel dan Palestina.
Tokoh ormas Islam Abid Takalamingan menyambut baik pintu dialog. Ketua Baznas Sulut ini punya pandangan mirip bahwa aksi membela Palestina harus dilakukan atas nama kemanusiaan. Meski ada yang berpandangan bahwa ini konflik ideologi Agama Islam dan Yahudi.
“Saya sepakat aksi damai harus dilakukan atas nama kemanusiaan, bukan karena semata-mata keberpihakan berlandaskan agama,”ujar Abid di tempat yang sama.
Abid dan Yaakov komit akan mewujudkan ruang dialog, supaya sentiment anti Yahudi di Sulut tidak berlebihan. Karena mereka berdua sepakat, dua agama Samawi ini lahir dari moyang sama Ibrahim atau Abraham.
“Dalam Riwayat Khalifah Umar bin Khattab menunjukkan penghormatan kepada Agama Yahudi dan Nasrani ketika dia menolak sholat di gereja kemudian membantu membersihkan sisa kotoran yang menutupi tempat suci umat Yahudi. Umar memilih sholat di jejak Nabi Muhammad saat Isra,” katanya.
Rabi Yaakov mengakui bahwa Yerusalem adalah tempat suci tiga agama Samawi. Olehnya dia sepakat harus perbanyak dialog untuk meminimalisir prasangka.
“Saya mengutip kata-kata dalam Islam, bahwa janganlah kamu membenci sehingga kamu tidak bisa berlaku adil,”ujar Rabi yang ditemani ayahnya Toar Palilingan.(faj)















