oleh: Munazar Mu’arif SE M*
SEJAK awal kehadiran kedai kopi menjadi tempat untuk bersosialisasi. Ruang bersilaturahmi. Wadah berdiskusi ataupun hanya sekadar bertemu.
Dari kedai kopi kerap mengorbitkan pemikiran- pemikiran cemerlang. Kedai kopi bukan sekedar tempat untuk minum kopi namun menjadi alat penggerak sosial.
Rumah kopi modern melahirkan ruang debat, para filsuf, kelompok aliran musik dan skena- skena musik tertentu. Sehingga kini Kedai Kopi makin banyak ragam peminat dan segala usiapenikmatnya.
Hari ini kedai kopi menjadi bisnis menarik yang ingin digeluti anak muda. Trend sejak dimulainya film Filosofi Kopi Tahun 2015 begitu banyak Anak muda yang termotivasi memulai bisnis ini dan mempelajarinya dari hulu kehilir.
Mulai dari menanam, memetik, mensangrai dan pada tahapan penyeduhan. Bagitu banyak lomba dan pelatihan- pelatihan kopi yang tersertifikasi maupun hanya sekedar sharing sudah di lakukan.
Fenomena menjamurnya Kedai kopi di Manado, baik itu street coffee dan cofee shop di Manado menjadi warna baru dunia bisnis di Manado.
Selain menambah pendapatan daerah tentunya dengan maraknya coffee shop ini berhasil merekrut angkatan kerja yang pada umunya adalah Milenial dan Gen Z masuk di dalamnya. Tentu dengan banyaknya milenial Gen Z terlibat dalam Industri ini akan menambah soft skill mereka supaya bisa sama- sama mewujudkan Visi Kota Manado dalam ekonomi dan pariwisata.
Minat untuk membuat bisinis kopi ini menjadi giat positif di lingkaran anak muda, tercatat di Kota Manado terjadi pertumbuhan 5,77 persen pelaku UMKM di Tahun 2025.
Pertumbuhan ini menandakan bahwa sektor Informal juga berkontribusi positif untuk pertumbuhan daerah di antaranya adalah industri kopi.
Pertumbuhan yang positif seringkali tidak berimbang dengan bertumbuhnya pendapatan pada Industri tersebut. Market yang kian kompetitif dan makin menjamurnya industri ini makin mendekatkan ia pada gelembung besar yang mungkin dalam beberapa waktu kedepan akan pecah.
Beberapa orang hanya berfikir bahwa faktor comunity dan skill penyeduhan adalah faktor inti untuk mengembangkan industri ini.
Beberapa hal yang mungkin tidak di perhatikan baik itu dari segi majemen stock, COGS,
Operasional dan pemenuhan Sumber daya manusia di dalamnya yang seringkali membuat new commer sering kelabakan ketika masuk di dalam.
Ditambah Lonjakan bahan baku utama di akibatkan krisis iklim El Nino Godzila di negara produsen kopi membuat harga tak terkontrol.
Kondisi Geo politik yang lagi tidak stabil juga turut serta menjadi faktor gonjang ganjing perubahan harga baik itu dari harga plastik yang cenderung naik 40 sampai 50 persen,
Harga minyak yang juga turut membuat kenaikan bahan pelengkap lain.
Beberapa kelangkaan juga terjadi pada susu walaupun data menunjukan belum ada pengurangan impor susu secara signifikan di tahun 2026 tapi sempat terjadi kelangkaan susu sedari bulan Maret. Ketergantungan bahan baku pada Impor ini mungkin akan membuat banyak UMKM masuk pada survival mode.
Membuka bisnis kopi di Tahun 2026 mungkin menarik karena suguhan data beberapa Perusahaan besar terjadi lonjakan laba sampai 50% pada industri ini.
Tapi tidak semenarik ketika anda membukanya dengan skala mikro di karenakan pesaing- pesaing di industri ini sudah bukan lagi berskala mikro melainkan Enterprise yang terkoordinasi secara profesional dan sistemik.
Anda akan bersaing dengan segala keunggulan enterprise yang sudah menguasai rantai pasok dan tentunya akses terhadap modal yang lebih besar. Sehingga hanya ada beberapa pilihan
Menargetkan Lower class dengan keterbatasan daya belinya dengan mengorbankan margin sedikit atau menargetkan middle atau upper class dengan fasilitas dan kualitas layanan yang membuat mereka mau mengeluarkan biaya untuk belanja(*)
Penulis: Dosen FEB UMMA















