Maju Pilgub Sulut, PDIP Nilai Elly Belum Kelas Olly

Ilustrasi/Oleh: Usama harimanado.com

Harimanado.com, MANADO — Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulut 2020 mendatang menemui babak baru. Bupati Kabupaten Talaud terpilih Elly L Lasut dikabarkan ngotot untuk bertarung. Jika ini terjadi publik menilai bakal mencemaskan kubu PDI Perjuangan. Nakhoda partai berlambang moncong putih itu yakni, Olly Dondokambey yang dipastikan maju lagi ke periode kedua akan mendapat lawan sepadan. Keseriusan E2L jargon akrabnya itu terlihat saat sejumlah kelompok masyarakat yang berdatangan untuk memberikan dukungan maju di Pilgub. Ditambah, perayaan Lebaran Ketupat yang digelar warga Muslim Manado Elly aktif turun membaur.

Terkait ini, Ketua Bapillu PDIP Sulut Lucky Senduk mengatakan PDIP tak akan takut jika ada calon yang akan maju pada pilgub nanti. Dengan munculnya sejumlah nama ini bukan merupakan ancaman bagi PDI Perjuangan. “Hal ini dibuktikan dari 15 kabupaten /kota se Sulut dalam pileg dimenangkan oleh PDI Perjuangan, Talaud saja dimenangkan oleh PDI Perjuangan,”ujarnya.
Senduk menambahkan Elly bukanlah lawan OD. Pilkada Talaud saja Elly hanya menang tipis dari calon PDI Perjuangan.

Bacaan Lainnya

“Jadi kalau disandingkan jauh sekali OD. Dan bukan mau melebih-lebihkan kapasitas OD dipusat sudah terbukti untuk kemajuan Sulut,” tambahnya.

Dia menambahkan Elly belum nampak perbuatannya untuk Sulut, sedangkan OD sudah banyak berbuat untuk Sulut.

“Dan masyarakat Sulut sudah pintar dalam menentukan figur dalam membangun Sulut, “tutupnya.

Sementara itu, kubu Nasdem yang disebut-sebut bakal mengusung E2L di Pilgub nanti enggan berkomentar lebih. Ketua Bapillu DPW Partai Nasdem Sulut Moktar Parapaga menuturkan tidak elok jika saat ini Partai Nasdem membicarakan figur-figur dalam Pilgub 2020.

“Karena membicarakan figur-figur sejak dini dapat merugikan partai,” singkat Parapaga.

Terpisah, Pengamat Politik Unsrat Ferry Liando mengatakan, hal pertama yang harus dipastikan Elly Lasut adalah apakah ada parpol yang bisa digunakan untuk mengusungnya sebagai calon. Tiga parpol yang paling siap saat ini untuk pilkada hanyalah PDIP, Nasdem dan Golkar. Ketiga parpol itu, sejauh ini sudah memiliki jagoan masing-masing, sehingga menutup kemungkinan untuk membuka pintu bagi kader eksternal.

“Cara lain yang tentunya bisa dilakukan jika Pak Elly serius untuk maju adalah melalui jalur perseorangan. Kedua, pada Pilkada 2010 Pak Elly memang dianggap menjadi lawan terbesar Pak SHS, namun demikian poltik itu selalu mengenal momentum. Hingga kini banyak ilmuan politik meyakini bahwa kemenangan Jokowi pada saat Pilkada DKI Jakarta kemudian pada Pilpres 2014 disebabkan karena momentum. Momoentun itu selalu berkaitan dengan kondisi psikologi pemilih saat pemilihan, siapa lawan politik dan siapa pasangannya,”ungkap dosen pascasarjana itu.

Lanjutnya, jika lawan Jokowi bukan Prabowo, hasilnya mungkin bisa lain. Saat itu Jokowi merepresentasikan wong cilik, sementara Prabowo datang dari kalangan elit yang belum terlepas dari cap Orde Baru. Pada Pilkada 2010, memang tidak ada figur lain yang menonjol yang bisa menyeimbangi SHS. Sehingga Elly menjadi lawan yang paling ditakuti saat itu. Kini kondisi politik tahun 2010, momentumnya sudah jauh berbeda. Politisi hebat yang dimiliki Sulut saat ini makin banyak sehingga kompetisinya tentu akan berbeda pada pilkada 2020.

Saat ditanya mengenai Elly juga dianggap ancaman OD pada Pilkada 2015, dan itu masih dinilai sama oleh publik pada helatan Pilgub 2020 mendatang, Liando menyebutkan,tergantung apakah ada parpol yang bisa mengusung Elly. Itu duluh yang di pastikan baru bisa menilai apakah jadi ancaman atau tidak.

“Kemudian berapa pasangan yang berkompetisi. Karena itu juga bisa jadi acuan untuk membaca peta kekuatan. Setelah itu siapa pasangan mereka sebagai calon wakil,”terang Liando.(**)

Pos terkait