Oleh: Endi R Biaro
Vitamin Alam
Hidup yang akrab dengan alam, selain membuat daya tahan tubuh lebih imun dari segala jenis penyakit fisik dan jiwa, juga menghasilkan sifat kooperatif, interaksi hangat, berkelanjutan, serta meningkatkan kadar bahagiaan.

Buku ini menyebutnya dengan Vitamin Alam, atau Vitamin N (Nurtured by Nature, halaman 122).
Kontak dengan alam bersifat terapeutik (menyembuhkan), restoratif (memulihkan, menyegarkan), rileks, dan bermanfaat untuk jiwa.
Masalahnya: bagaimana kita yang hidup di kota, sesak, dan jauh dari rerimbunan pohon atau gemericik air sunga yang bening?
Dosis interaksi dengan alam, atau Green Experience (bergaul dengan alam), senyatanya bisa diatur.
Pun dari balik jendela rumah kita. Merawat bunga, menyiram tanaman dalam pot, jalan santai ke ruang terbuka, bersepeda, dan sesekali mendengar kicau burung langsung, adalah hal-hal yang bisa kita lakukan.
Menurut buku ini, durasi (berapa lama), frekuensi (seberapa sering), dan intensitas bergaul dengan alam, menjadi factor penentu.
Jadi, sejauh kita mengalami kontak yang kuat dengan alam terbuka, meski jarang, akan berpengaruh terhadap rasa damai dan lepas. Disebut dengan nature in self (keterkaitan dengan alam, halaman 146).
Keajaiban Makanan
Tak asing benar, sepanjang sejarah manusia, para Nabi, Filsuf, dan nasehat bijak bestari, mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan makanan (atau pola makan, seperti konsep halal haram dalam Islam, atau Kosher dalam tradisi Yahudi).
Namun soal makanan berkait langsung dengan otak, kecerdasan, dan kebahagiaan, rasanya baru ada di buku ini.
Atau pernahkah Anda sebelumnya mendengar bahwa semua penyakit mental bersumber dari perut?
Penulis buku ini mengungkap detil-detil urusan usus, metabolisme dalam perut, serta efek langsung terhadap psikis dan fisik.
Bukankah saat stres, tertekan, dan grogi, perut seperti mual, lambung nyeri, dan berbagai gejala lain kita rasakan? Istilahnya adalah Gut Feeling, seperti yang kita rasakan ketika harus berpidato di hadapan khalayak banyak.
Di buku ini, urusan makanan, pola makan, dan perut, adalah otak kedua. Gangguan kejiwaan bersumber dari masalah usus; stres mempengaruhi pola makan, perubahan perilaku juga berdampak pada obesitas (kegemukan, karena sering ngemil saat bosan dan cemas).
Secara ringkas, gangguan kejiwaan dan perilaku, menggiring pada gejala Compulsive Eating (makan berlebihan), lihat halaman 224.
Buku ini menyodorkan resep: optimalisasi mengatur makanan, pola makan, dan berhati-hati dengan urusan perut, disebut Optimalisasi 3 M (microbiota yang ada dalam bahan makanan, memasak, dan mengendalikan diri untuk tidak makan berlebihan.
Tentang Pra Komitmen
Ketidakpastian, perubahan mengkhawatirkan, dan ketakutan akan hari esok, menjadi sumber penyakit.
Musababnya, manusia memang butuh kepastian, atau jawaban konkret di depan mata.
Padahal, dalam banyak kasus, naluri mengambil atau memperoleh sesegera mungkin, justru bentuk ketidaksabaran kita. Menjadi terburu-buru nafsu.
Kita lemah dalam meramu pra komitmen (menahan diri, memilih menunda, dan memperhitungkan dampak di belakang hari).
Kemampuan bersabar, mengendalikan diri, dan merencanakan dengan matang, mestinya menjadi kuat dalam diri.
Seperti menabung, menghemat, dan tidak boros. Justru itu adalah solusi atas ketidakpastian hari ini. Serta yang paling penting, adalah persepsi atas kekuatan pertolongan Tuhan.
Inilah beberapa isu mendasar dari buku ini. Semoga bermanfaat….















