Senator DJA Komit Bersama Umat! Ini Isarat Djafar di FGD

FGD: Para panelis diskusi Kemana Suara Muslim 9/12 di aula DPD Perwakilan Sulut, Jumat (4/9) sore. Dari kiri: Dr Taufik Pasiak, Senator Djafar Alkatiri, Dr Musdalifah Dachrud dan moderator Syafril Parasana. (dok)

Peserta FGD KEMANA SUARA MUSLIM 9/12 ? akan Tunggu Komando Senator 

 

Harimanado.com- Forum dialog umat yang bertajuk “Kemana Suara Muslim di 9/12 ?”seperti membakar semangat elit dan tokoh Muslim Manado.

Bacaan Lainnya

Mereka yang hadir di aula DPD RI perwakilan Sulut, Jumat (4/9) merasa dipompa semangat oleh panelis Wakil Ketua Komite 1 DPD RI Ir Djafar Alkatiri. Pakar neurosains Dr dr Taufik Pasiaak dan Dosen Psikologi Dr Musdalifah Dachrud dan moderator Syafril Parasana.

 

Para undangan FGD, Kemana Suara Muslim di 9/12

Ratusan yang hadir dari aktivis muslim Sulut (AMS) di antaranya Dirut Malut Post Tauhid Arief, Ketua Kahmi Minut Kalo Tahirun, Ketum PP GPII Masri Ikoni, Wabend PG Sulut Iswadi Amali, aktivis PD Sulut Mursyid Laiya, presidium Kahmi Manado dr Zainal Ginsu.

Ketua PKS Sulut Syarifudin Saafa, anggota DPRD Manado dr Suyanto Yusuf, Joko Sutrisno, Sekum Pemuda Muslimin Sulut Fadly Kasim, Ketua Pemuda Muslimin Manado Hadi Prestasi,

PEMBUKAAN: Pengantar oleh Saleh Nggiu

Pengurus BKPRMI Manado Hendra Suma, Comel Irwan Pakaya, Sek BM PAN Manado Gilang R Hiola, politisi PPP Irwan Bau, Bachrudin Manono, politisi sepuh PPP Hi Basman, Hi Sardino Lihawa, Bikers Subuhan, puluhan pengurus PKS Sulut dan banyak lagi.

Djafar menegaskan di Pilkada 2020 ini, umat jangan dikecewakan.

Suara senator sangat tegas mengatakan dia Istiqomah bersama umat.

“Posisi umat sangat menentukan. Saya akan selalu bersama umat. Tidak akan membuat umat kecewa dan keliru memilih,”tandas mantan anggota DPRD Sulut 2009.

Forum yang digagas Jurnalis Muslim Sulut  dan DPD RI perwakilan Sulut diawali dengan doa oleh Ketua PKS Manado Abu Hasan Syafii.

Dilanjutkan pengantar Saleh Nggiu yang mewakili jurnalis muslim.

”Acara ini kami gagas sejak empat pekan lalu. Karena gelisah dengan politik identitas yang kian deras. Kami pun tidak ada kepentingan mengarahkan untuk siapa,”kata Saleh.

Orator ulung ini sangat faham posisinya. Mayoritas telunjuk umat Islam Manado mengarah kepadanya.

Lantaran dia pemilih 52.000 suara di Pileg 2019 tanpa membayar.

“Saya sadar yang hadir di sini bukan satu satunya atas nama umat. Di masjid. Yang berjualan di pasar. Di majelis pengajian itu juga atas nama umat,”tegasnya.

Di Pilkada ini posisi umat sangat menentukan.
Konteks apapun umat harus dihargai.

”Saya sadari saudara-saudara menanti kemana pilihan saya. Di masjid. Di tempat diskusi. Di acara apa saja, saya selalu ditanya. Mau kemana kita pak Djafar?”kata Djafar yang tanpil elegan.

Djafar mengaku terjadi kejutan pada Kamis malam.

Diluar dugaan ada pasangan calon Muslim. SSK (Sonya S Kembuan) dan Syarifudin Saafa (SS).

Yang diusung partai gabungan Partai Golkar, Partai Hanura dan PKS.

Meski demikian, Djafar tidak akan gegabah untuk mengakadkan pilihan dia dan 52.000 pendukung untuk empat paslon.

Dia mengatakan ada dua hal yang harus diingat oleh umat.

”Ada dua hal penting. Rasa ingin bersatu dan pilihan yang rasional. Sekali lagi, kita harus pertimbangkan rasionalitas dan rasa. Kita harus melihat substansi paslon bukan sekadar simbol identitas paslon,”katanya.

Dia mengkritik oknum aktivis muslim yang bersuara sudah terlambat bicara umat.

Tidak ada gunanya bicara umat.

Djafar balas mengkritik mereka yang nyinyir. Bahwa silakan berkomentar nynyir.

“Saya mengatakan tidak ada kata terlambat. Saya akan tetap dengan umat. Silakan anda tidak mau berbicara umat,”tuturnya.

Senator sempat meyentil sebagian umat Muslim kecewa pasca PDI Perjuangan batal meminang ULAMAA (Ulyas Abid Machmud dan Ayub) di Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Manado 2020.

Dia meminta umat harus bedah semua paslon. Jangan lagi setelah memilih tapi kecewa.
“Ingin semua umat Islam dihargai,”katanya.
Suasana forum berlangsung hangat. Sesekali audiens meneriakkan kalimat yang membakar semangat.
Di sesi dialog, Tauhid Arief mempertegas bahasa Djafar soal rasa dan rasional.
Kata Tauhid, keduanya sangat dibutuhkan. Apalagi dibawa ke ranah politik identitas.
”Jagan sampai karena rasa membuat umat mengalami politisasi,”tandasnya.
Kalo Tahirun juga mendorong senator memimpin umat.
“Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kebetiulan hanya satu pasangan,”katanya.
Herry Anwar mengimbau, pertarungan pilkada jangan ada rasa dendam kalau kalah.
“Jangan sampai ada yang mengancam atau bahasa dendam kalau menang, akan menyusahkan yang kalah,”ingatnya.
Ada juga beberapa penanggap dari PKS Sulut.
Acara berakhir bertepatan azan Magrib. Dan para jurnalis muslim yang hadir, Koordinator Jeffry Alibasayah, sekretaris Mudatsir Suleman, Rahmadian Polontalo, Syahril Kadir, Suhhan, Angel, Irvan Loho, Saleh Nggiu, ust Halim, Indra Asiali dan Angga.(tr21)

Pos terkait