Manado- Tim Pengabdian Masyarakat dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Pusat Penelitian Mitigasi Bencana (PPMB), melakukan survei lapangan di Sulawesi Utara (Sulur) pada awal April 2026.
Survei ITB untuk memperkuat pemahaman dan kesiapsiagaan terhadap bencana di Indonesia.
Kegiatan pasca gempa bumi tektonik berkekuatan Mw 7,6 pada Kamis, 2 April 2026, berlokasi sekitar 129 km tenggara Kota Bitung, Sulut yang menyebabkan kerusakan di wilayah Sulut dan Maluku Utara.

Kegiatan yang didukung Asosiasi Ahli Rekayasa Kegempaan Indonesia (AARGI).tidak berfokus pada pengumpulan data teknis, tetapi juga proses pembelajaran langsung dari praktik-praktik baik yang telah berkembang di masyarakat.
Di antara yang dipelajari tingkat kesadaran masyarakat terhadap potensi tsunami pasca-gempa, yang dinilai cukup baik di beberapa wilayah di Sulut:
“Kesadaran untuk segera menjauh dari pantai setelah gempa adalah hal yang sangat krusial. Mereka sudah memiliki pemahaman bahwa jika goncangan tanah terasa lama dan air surut maka itu pertanda tsunami akan datang. Di beberapa lokasi, kami melihat pengetahuan itu sudah dipraktekkan oleh masyarakat, dan ini menjadi pembelajaran penting bagi daerah lain di Indonesia,” ujar Dr. Karina Aprilia Sujatmiko, bagian dari tim peneliti.
Selain itu, tim juga melakukan dokumentasi kerusakan bangunan secara detail, mencakup tipe bangunan, tingkat kerusakan, serta kondisi struktural.
Data ini akan digunakan untuk memperkaya basis data bangunan di Indonesia, yang hingga saat ini masih terbatas.
Pengumpulan data lapangan ini menjadi penting karena banyak model estimasi kerusakan belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi bangunan lokal.
Dengan data yang lebih akurat, kemampuan dalam memprediksi dampak bencana di masa depan dapat ditingkatkan.
“Selama ini, estimasi kita sering kali masih meng-underestimate potensi kerusakan. Dengan data lapangan yang lebih baik, kita bisa memahami kerentanan bangunan secara lebih realistis, dan merancang strategi mitigasi yang lebih tepat,” jelas Dr. Socio Jiwapatria.
Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi para insinyur dan peneliti dalam memahami langsung bagaimana bangunan berperilaku saat gempa terjadi—pengetahuan yang sulit diperoleh hanya dari simulasi atau teori.
Dalam pelaksanaannya, tim ITB juga menjalin koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Utara, termasuk BPBD kota Manado, kota Bitung, Kab. Minahasa, dan Kab. Minahasa Utara dalam memetakan lokasi kerusakan bangunan.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat hubungan kelembagaan serta membuka peluang kerjasama berkelanjutan dalam kegiatan mitigasi bencana di masa mendatang.
Melalui kegiatan ini, ITB menegaskan komitmennya untuk terus menghubungkan riset akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan—mulai dari peningkatan kesadaran masyarakat, penguatan data teknis, hingga pembangunan jejaring kolaborasi lintas lembaga.(ham)















