Oleh: Hi Hamzah Latif ST
Pengurus FKUB Manado
PANGGUNG kontestasi Pemilu Legislatif dan Pilpres telah usai. Semua komponen masyarakat khususnya warga Kota Manado yang terlibat dalam proses tersebut pastilah diwarnai dengan berbagai perbedaan pilihan. Masuk sebagai tim sukses ataupun tidak, masing-masing punya perbedaan dalam menentukan sosok legislator, senator dan pilihan Presiden berikut Wakil Presidennya sendiri.
Masing – masing berharap, pilihannya akan memenangkan konstestasi tersebut.
Konstestasi Pemilu ibaratnya “pertandingan” pastilah mengandung kosekuensi menang atau kalah.
Dalam pertandingan, semua pastinya akan mengeluarkan segala daya upaya agar dapat memenangkan pertandingan. Dari keseluruhan pelaku pertandingan, tak mungkin bisa dihindari adanya saling sikut, saling salip
menyalip bahkan saling debat argumentasi yang berbuah ketersinggungan. Bukan hanya antar komponen masyarakat yang “retak” hubungan sosial kekerabatannya akibat ketersinggungan dan perbedaan pilihan, bahkan dalam hubungan satu keluargapun bisa saling marahan akibat beda pilihan.
Pesan Pak Wali Kota Kota Manado, Andrei Angow dalam berbagai sambutan pada kunjungan Safari Ramadhan masjid-masjid se-Kota Manado adalah, “Pertandingan konstestasi Pemilu telah usai, …. Saatnya kita beralih dari mode “BERTANDING” menjadi “BERSANDING”, mari kita rajut kembali hubungan sosial kekerabatan dan komunikasi antar komponen masyarakat kembali baik seperti sedia kala. Kedepan masih banyak agenda bersama yang perlu dikerjakan bersama antar komponen masyarakat, maupun antar masyarakat dan pemerintah, demi mewujudkan kesejahteraan dan kemashlahatan bersama. Di momen Puasa Ramadhan ini, merupakan momen terbaik kita saling bersilaturahmi, saling memaafkan dan kembali bersinergi menghasilkan kerja-kerja bermanfaat bagi kesejahteraan bersama.
Siklus hidup manusia bahkan mahluk hidup pada umumnya selalu berada pada dua keadaan tersebut yaitu “bertanding” dan “bersanding”. Potensi kodrati manusia sebagai “mahluk bertanding” itulah yang membuat manusia eksis sampai saat ini.
Dalam teori evolusi Darwin dikenal dengan istilah “struggle for life”. Pokok
pemikiran teori evolusi Darwin yang menyatakan struggle for life, yaitu
bahwa spesies yang hidup adalah yang dapat beradaptasi dengan lingkungan, telah berkembang menjadi survival of the fittest, spesies yang paling kuatlah (fit) yang dapat bertahan hidup. Bahkan demi mempertahankan eksistensinya-bertanding,
Manusia bisa menjadi “serigala” bagi manusia lainnya. Thomas Hobes dalam
karyanya berjudul De Cive (1651) mengistilahkan Homo homini lupus “Manusia adalah serigala bagi sesama manusianya”. Untuk itulah hikmahnya Allah SWT
Tuhan pencipta seru sekalian alam ini menganugerahkan agama, sebagi pedoman dan petunjuk, untuk mengendalikan potensi “serigalanya” tersebut menjadi sesuatu yang bermakna positif.
Disisi lain, potensi “struggle for life” manusia bisa disalurkan secara positif yakni dengan mendayagunakan kemampuan dan anugerah “akal budi” dari “Sang Pencipta Allah SWT” ke sesuatu yang bermanfaat. Dengan akal budi dan kemampuan berpikir manusia tersebut, manusia mampu menciptakan berbagai teknologi maju seperti teknologi pangan, pertanian, teknologi perumahan, transportasi sampai kesehatan yang semata-mata hal itu untuk menunjang keberlangsungan kehidupannya dengan nyaman dan aman. Potensi akal budi inilah
yang membuat manusia mampu menciptakan peradaban dan diwariskan turun temurun sesuai perkembangan sejarah dan perkembangan capaian teknologi manusia tersebut.
Tapi sehebat dan sekaya apapun manusia tak akan mampu untuk hidup sendiri.
Manusia kodratinya adalah mahluk sosial. Membutuhkan manusia dan mahluk lain untuk mendampingi dan membantu kehidupannya. Makanya manusia dimaknai juga dengan istilah Homo Homini Socius (Seneca-Thomas Hobbes) yang berarti manusia adalah teman bagi sesama manusianya. Homo homini socius inilah yang
mendorong manusia untuk bersanding. Bahkan dalam strata yang lebih maknawi peran manusia itu adalah “ sitou timou tumoutou “, artinya manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain”.
Dalam perspektif Agama Islam, jelas tersurat bahwa keberadaan manusia dimuka bumi ini adalah untuk menjadi “mahluk bertanding”. Seperti Firman Allah SWT
dalam Al-Qur’an surat Al Mulk ayat 1-2 :
“Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
- “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.”
Tersurat bahwa Allah SWT, Tuhan Pencipta manusia sengaja “mempertandingkan” manusia semasa hidup dimuka bumi ini untuk menguji manusia, siapakah yang lebih baik amaliahnya semasa hidup. Dalam meraih peringkat terbaik dalam amal
inilah motivasi rivalitas itu menjadi bermuatan positif. Dalam ayat lainnya surah Al-Baqarah ayat 148 Allah SWT ber firman :
“ Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. …. Berlomba-lomba dalam kebaikan dikenal dengan istilah Fastabiqul khairaat.
Namun disisi lain, ada juga manusia yang “bertanding” dalam konteks negative seperti Firman Allah SWT di Surah At Takasur ayat 1-2 berikut :
Ayat 1 : “Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu”
Ayat 2 : “sampai kamu masuk ke dalam kubur”. Bertanding dalam memperbanyak materi dunia dan menyebabkan manusia lalai
dalam beramal baik ataupun kerja bermanfaat inilah yang dilarang dalam agama. Karena tujuan manusia hidup dimuka bumi ini menjadi khalifah “wakil Allah” dalam urusan berbuat baik dan bermanfaat dalam mengatur dan mengolah isi bumi agar bermanfaat bagi manusia dan mahluk lain.
Akhirnya ukuran manusia yang baik itu dalam perspektif Islam, makin ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW sebagai berikut :
“Rasulullah saw bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni.)
Marilah masih dalam suasana bulan baik, bulan berkah, bulan Ramadhan, kita sama “bertanding” dalam melakukan amal baik dan sama “bertanding” menjadi manusia yang bermanfaat sesuai profesi, eksistensi dan potensi masing- masing.
Yang mendapat kepercayaan masyarakat menjadi legislator, senator maupun Presiden dan Wakil Presiden, hendaklah dalam lima tahun kedepan untuk “bertanding” menjadi pilihan masyarakat Indonesia yang paling bermanfaat dan membawa
keadilan serta kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Adapun siapa nanti yang menjadi pemenang dalam pertandingan menjadi orang yang bermanfaat, biarlah menjadi penilaian dan hak Allah SWT, Tuhan pencipta seru sekalian alam.
Inga-inga Tuhan tahu apa yang torang perbuat …. !!!. Wassalam.(*)
(Penulis Ir. H. Hamzah Latief – Fungsionaris MUI Sulut dan FKUB Kota














