Perry menjelaskan, lesunya mata uang Garuda beberapa waktu terakhir dipengaruhi beragam faktor global dan domestik.Pertama, untuk sentimen global, Perry mengatakan faktor terkait kondisi geopolitik global. Kedua, kebijakan tarif dagang oleh Amerika Serikat (AS), disertai tingginya US Treasury yield atau surat utang AS dalam 2-3 tahun terakhir.
Ketiga, BI juga menandai potensi suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) yang lebih rendah. Begitu juga dengan beragam sentimen lain yang menyebabkan dolar AS menguat, disusul aliran modal keluar dari negara berkembang dan masuk ke Negeri Paman Sam.
“Seperti kami sampaikan pada 2026 ini terjadi net outflow (dana keluar) 1,6 miliar dolar AS, data hingga 19 Januari 2026. Itu lah faktor-faktor global,” kata Perry dalam Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (21/01/2016).
Keempat, Perry lanjut membeberkan sentimen Tanah Air yang menjadi penyebab rupiah melemah, termasuk aliran modal asing yang keluar lantaran tingginya kebutuhan valas dari sejumlah korporasi.
“Termasuk oleh Pertamina, PLN maupun Danantara,” jelas Gubernur BI.
Dia juga menambahkan, kelima, sentimen dari persepsi pasar terhadap kondisi fiskal hingga proses pencalonan deputi gubernur BI yang baru. Perry menegaskan bahwa proses pencalonan tersebut sudah sesuai Undang-Undang Tata Kelola dan tidak memengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan BI.
“Tentu saja, pelemahan nilai tukar juga terjadi berbagai negara,” ujarnya.
Ke depan, Perry menegaskan bahwa BI tidak akan segan untuk melakukan intervensi dalam jumlah besar di pasar keuangan. Itu mencakup intervensi non delivery forward di pasar negeri, pasar spot, dan DNDF.
“Kami jaga stabilitas nilai tukar dan akan membawanya menguat, didukung kondisi fundamental ekonomi kita yang baik, termasuk imbal hasil menarik, inflasi rendah dan prospek ekonomi membaik,” tandas Perry.
Nilai tukar rupiah berada di level Rp16.936 per dolar AS pada Rabu (21/1) sore. Mata uang Garuda menguat 20 poin atau 0,12 persen dari perdagangan sebelumnya.
Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp16.963 per dolar AS.
“Rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS setelah dalam RDG, pernyatan BI dipandang less dovish, BI masih perlu mencermati peluang untuk memangkas suku bunga dan peluang ini ditafsir sebagai tekanan pada rupiah. Sehingga data-data ekonomi seperti inflasi mungkin tidak akan lagi menjadi faktor,” ujar Lukman.(cnn)
















