Butuh Pemimpin Bijaksana, Riska: Punya Hati Nurani

Riska Angelina Ogi

harimanado.com- PRESENTER dan mantan model, Riska Angeline Ogi mendukung pelaksanaan Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak di tengah pandemi Covid-19, 9 Desember 2020 nanti.
Riska-sapaan perempuan cantik kelahiran Manado, 12 Januari 1986, menegaskan Pilkada harus tetap digelar di akhir tahun ini.
”Tantangannya bagaimana pelaksanaannya menerapkan prosedur Covid. Itu hal pertama dan utama untuk diperhatikan penyelenggara dan kita semua sebagai pemilih.
Hal kedua yang tidak kalah pentingnya, Pemilu ini adalah pesta rakyat, pesta kita. Pemilih menggunakan hak pilihnya ini sudah diamanatkan oleh undang-undang. Namun, melihat situasi sekarang, “pesta” yang seharusnya meriah dengan kebebasan memilih, jujur, dan adil harus diwarnai dengan perang hoax, adu comment negatif di social media, adu mulut antar tetangga, teman hingga saudara,” kata Riska, kemarin (9/11).
Putri Bahari Indonesia 2002 itu mengimbau semua pihak termasuk milenial sebagai pemilih pemula mengunakan hak pilihnya di Pilakada pada 9 Desember 2020 nanti.
”Jangan Golput, Golput hanya milik pemuda-pemudi pengecut. Satu suara yang kita sumbangkan mampu merubah Sulawesi Utara khususnya Manado. Kenapa, karena pemimpin dipilih bukan dianugerahkan.
Mari buka mata, telinga dan hati nurani, gunakan pikiran yang sudah Tuhan berikan untuk memilih pemimpin kita,” ujarnya.
Kata Petembak Wanita Terbaik 2017 (Piala Pangdam Jaya), semua Pasangan calon (Paslon) di Sulut dan Manado adalah baik.”Tapi yang terbaik pasti akan menang,” sambungnya.
Bagi mantan presenter (freelance) program Cek & Ricek (RCTI) dan Esspresso (ANTV), calon kepala daerah yang cocok memimpin Sulut dan Manado yakni figur yang kuat iman dan mental. Selain itu, mampu melihat dan mendengar rakyatnya, bertumbuh, melayani, serta mampu memperbaiki kesalahan.
”Dan untuk para petarung, dalam setiap kampanye politik, politik identitas dan identitas politik memang hal yang mutlak dilakukan. Namun, ada hal yang tidak bisa diukur oleh teori satupun atau dimanage oleh tim kampanye manapun yaitu hati nurani. Jika kelak Tuhan mengijinkan saudara-saudari menjadi pemimpin, jadilah bijaksana. Kami tidak perlu yang pintar, charming, ganteng atau cantik, kaya, dan populer, kami butuh pemimpin yang punya hati nurani,” tuturnya.
Top Model Indonesia Sulut 2001 mengatakan, money politic (politik uang) kental dan rentan di situasi sekarang yang diterpa krisis.
”Merubah budaya yang sudah terbangun lama memang sulit. Memang, sekedar imbauan tidak akan mampu merubah, tapi jika kita menginginkan perubahan yang sungguh-sungguh, harus dari kita (diri sendiri) yang memutus. Say no tu doi merah, biru, ijo, dan coklat, tapi kalau janji kampanye berupa program direalisasikan selama masa kampanye, kita jangan menolak,” terangnya.(axm)

Pos terkait