Ekonomi Indonesia Tri 4 Naik Landai 5.39 %, Ada Tiga Komponen Penopang

Harimanado.com,Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi (PE) Indonesia untuk kuartal 4 2015. pada Kamis (5/2/2026).

BPS mengumumkan PE tumbuh di atas 5.39 % dibanding periode yang sama (year on year/Yoy) 2024.

Bacaan Lainnya

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) adalah Rp 6.147,2 triliun.

Lebih tinggi pertumbuhan kuartal III-2025 sebesar 5,04% yoy.

Dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter-to-quarter/qtq), ekonomi Indonesia naik 0,86% pada kuartal IV-2025.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2025 secara global di 3,3%. Negara berkembang tumbuh 4,4%. Relatif lebih tinggi dari capaian global,” kata Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS, dalam jumpa pers di kantornya, Kamis (5/2/2026).

 

Kinerja perdagangan global pada kuartal IV-2025 tetap tumbuh. Secara umum, harga komoditas utama terlihat gas alam dan bijih besi naik sementara  minyak sawit dan batu bara mengalami penurunan.

Dari sisi domestik, kinerja perekonomian pada kuartal IV-2025 menunjukkan penjualan ritel tumbuh baik. Transaksi online naik 12,2% qtq.

Aktivitas produksi menunjukkan ekspansi. Produksi padi tumbuh 7,27% yoy pada kuartal IV-2025 Realisasi investasi pada kuartal IV-2025 tumbuh 9,74% yoy dan 12,66% secara kumulatif.

Sebelumnya, konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2-2025 di 5,1% yoy. Secara kuartalan, ekonomi diperkirakan tumbuh 0,65%.

“Performa yang lebih kuat pada kuartal IV-2025 didorong oleh permintaan domestik yang meningkat, terutama dari rumah tangga. Belanja pemerintah dan investasi juga meningkat,” sebut Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Faisal Rachman.

Sementara itu, kontribusi net ekspor terhadap PDB agak termoderasi karena implementasi tarif resiprokal oleh Amerika Serikat (AS) dan penurunan permintaan global.

“Konsumsi rumah tangga kembali tumbuh di kisaran 5%. Sejumlah indikator seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), penjualan ritel, penjualan mobil, penjualan sepeda motor, dan impor barang konsumsi menunjukkan perbaikan,” lanjut Faisal.(Bloomberg/ham)

 

 

Pos terkait