Oleh Hamzah Latief ST
(FKUB Manado.
HAMPIR dua pekan menghadiri “Safari Ramadhan Kota Manado”, kegiatan rutin di bulan Puasa/Ramadhan. Kegiatan berkunjung ke sejumlah masjid seputaran Kota Manado sembari bertemu Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama. Diakhiri buka puasa bahkan sampai makan malam bersama..
Kegiatan tersebut dikomandani “duo pemimpin Kota Manado” yakni Wali Kota Andre Angow dan dr. Richard Sualang sebagai Wakil Walikota. Kadang dihadiri Sekretaris Kota Dr Micler Lakat, para Asisten, kepala dinas bahkan perangkat kecamatan, kelurahan dan kepala lingkungan senantiasa mendampingi dalam rombongan tersebut.
Keberadaan kami hadir sebagai Fungsionaris Forum Kerukunan Ummat Beragama (FKUB) Kota Manado yang bersama-sama Fungsionaris Badan Kerjasama Antar Ummat Beragama (BKSAUA), suatu organisasi kerukunan yang lahir dari kearifan lokal untuk merawat kerukunan maupun kerjasama para pimpinan ummat beragama di Kota Manado.
Kami senantiasa mendampingi para pimpinan Kota Manado tersebut. Ajang Safari Ramadhan inipun efektif dimanfaatkan sebagai sarana silaturahmi para pimpinan Kota Manado dengan masyarakat, bukan hanya yang beragama Islam, tetapi juga masyarakat non Muslim dilingkungan Masjid tersebut.
Disela-sela kegiatan, senantiasa Walikota ataupun Wakil Walikota akan memberikan wejangan dan arahan bagi warga masyarakat dan para Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat di lokasi kunjungan. Dengan tema wejangan yang disarikan dari hikmah ibadah puasa sebagai ibadah yang bersifat privasi yang hakekatnya bersifat tersembunyi antara hamba dan Tuhannya,
Walikota senatiasa mengaitkan dengan beberapa perilaku masyarakat yang tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah Kota Manado.
Yang tahu seseorang itu berpuasa, tidak makan, minum seharian hanya orang tersebut dan Allah SWT Tuhan Semesta Alam. Tapi sebaliknya, jika seseorang beribadah seolah-olah lagi berpuasa padahal sudah makan, minum sembunyi-sembunyi, hakekatnya dia membohongi diri sendiri dan orang lain, karena hakekatnya sebenarnya dia tidak berpuasa. Allah SWT Tuhan Semesta Alam pasti tahu apa yang telah dilakukan hamba ciptaannya tersebut.
Dalam keseharian dilingkungan kita, terkadang sengaja atau tidak, kita membuang sampah sembarangan. Atau mengendarai kendaraan dengan kenalpot “brom” atau memutar lagu yang sangat berisik. Mungkin masyarakat bahkan petugas tidak tahu siapa oknum pelakunya, tapi sadarlah bahwa “Tuhan tahu siapa yang melakukannya”. Semangat “Tuhan tahu apa yang seseorang perbuat” inilah yang senantiasa ditanamkan dalam arahan-arahan bapak Walikota Manado. Sesuai aturan perundangan, setiap warga Negara di NKRI ini wajib hukumnya untuk beragama dan tidak dibenarkan menganut paham Ateis. Dan setiapa penganut agama, apapun agamanya pasti memiliki keyakinan pada Tuhan sebagai sosok yang dipatuhi dan disembah. Dan sifat umum dari Tuhan itu menurut keyakinan semua agama adalah Maha Tahu, Maha Melihat dan Maha Mendengar setiap apapun yang diperbuat manusia di dunia ini.
Jika filosofi “Tuhan tahu apa yang sesorang perbuat” dijadikan filosofi hidup dan kehidupan masyarakat Kota Manado, maka pastilah segala tindakannya akan bermuatan kebaikan, mengikuti aturan dan tidak akan melakukan tindakan yang melanggar dan mengganggu masyarakat atau lingkungannya.
Dulu pernah ada istilah dilingkungan pegawai aparatur negara/ASN yang dikenal dengan istilah “Pengawasan Melekat” (Waskat) yang kemudian sering diplesetkan dengan “Pengawasan Malaekat”. Tetapi kalau Tuhan YME/Allah Swt yang melakukakan pengawasan, pasti tidak akan ada yang bisa luput dari pantuan-Nya. Karena itu Pak Walikota senantiasa mengingatkan kita masyarakat Kota Manado untuk selalu sadar dan bertindak sesuai aturan Agama dan Negara karena “ Tuhan Tahu apa yang torang perbuat” Dalam khazanah tuntunan Agama Islam, sifat Allah SWT itu Maha Mengawasi dikenal dengan terminologi Muraaqabatullah (pengawasan dari Allah Ta’ala). Ada contoh teladan yang mungkin bisa dijadikan pelajaran dalam mengejawantahkan filosofi “Tuhan Tahu apa yang torang perbuat” sebagai berikut : Contoh klasik dari sikap muraaqabatullah ini adalah kisah yang cukup terkenal, Syaidina Umar bin Khattab ra bertemu dengan seorang anak penggembala kambing. Umar berkata kepadanya, “Banyak sekali kambing yang kau pelihara. Semuanya bagus dan gemuk-gemuk. Juallah padaku satu ekor saja.” Anak tersebut menjawab,
“Saya bukan pemilik kambing-kambing ini. Saya hanya menggembalakan dan memungut upah darinya.” Umar membalas, “Katakan saja kepada majikanmu, salah satu kambingnya dimakan serigala.” Anak tersebut terdiam sejenak lalu berkata, “Di mana Allah? Jika Tuan menyuruh saya berbohong, di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan mau menjerumuskan saya ke dalam neraka karena telah berbohong?” Kisah ini merupakan teladan mengenai muraqabah terhadap pengawasan Allah SWT yang menjadikan seseorang tidak berani untuk melakukan kemaksiatan. Inga-inga … “Tuhan Tahu Apa Yang Torang Perbuat”. (Penulis Ir. H. Hamzah Latief – Fungsionaris MUI Sulut dan FKUB Kota.(HM)