Om Aristides Minta Wartawan Ajak Netizen. Ini Pesannya..

Harimanado- Insan jurnalis baru kehilangan tokoh wartawan nasional Aristedes Katoppo.

KENANGAN: Bersama Aristides Katoppo di Ragunan,Jakarta Selatan, 26 September 2016

Om Tides sapaan akrab salah satu legenda wartawan Indonesia wafat tadi Minggu (29/9) di rumah sakit.

Bacaan Lainnya

Kepergian putra Tomohon ini meninggalkan banyak kisah. Beragam cerita. Dan warna warni pendapat.

Kawan Soe Hok Gie dan Herman Lantang bisa menjadi mata sejarah transisi orde lama ke orde baru.

Dia pun mampu menjadi pustaka sejarah berbagai intrik di istana zaman Soekarno dan awal orde Soeharto.

Om Tides hampir menjadi tumbal perang TNI dan Permesta.

Nyawanya nyaris melayang ketika kendaraan melintasi Kota Tomohon menuju Tondano. Waktu itu bersama Jenderal Ahmad Yani.

Bertemu dengan Om Tides adalah kehormatan. Apalagi Saya diterima di kediaman pribadi di daerah Ragunan, Jakarta.

Pertemuan dengan wartawan sekelas Tides terjadi 4 tahun lalu. Tepatnya 26 September 2015.

Kami bertemu berkat jasa Ibu Dorothea Samola. Atas permintaan bu Erik sapaan bu Dorothea, saya bisa dijamu di kediamannya yang sederhana di Jalan Melati no 78 Ragunan, Jakarta Selatan.

Rumahnya terawat baik. Dinding bangunan seperti jarang dicat. Perabot rumah amat sederhana. Lemari kayu dan meja dihiasi taplak tua.

Dua mobil terparkir di garasi dan halaman belakang. Ada pohon besar rindang menjorok ke dalam halaman.

Kehadiran kami (Clevel teman dari Manado Post) telah ditunggu. Dari dalam rumah, pria yang rambutnya sudah memutih berjalan pelan tapi masih tegap.

Tak kentara kalau usianya sudah sepuh, waktu itu berusia 77 tahun lebih.

Yang mengagumkan, vokal suara masih jelas. Suara basnya enak didengar. Ingatannya cukup kuat.

Selama 3 jam kami mendengar dan menanyakan apa saja terkait sejarah transisi orde lama ke orde baru.

Pikirannya begitu kuat menjahit remah remah sejarah istana, pergolakan antara TNI PKI dan Permesta di Minahasa.

Cuma sayangnya, tak semua yang diceritakan harus dipublikasikan. Salah satu bidan AJI ini lebih kepingin menceritakan masa depan industri koran.

Wajah tua Om Tides kelihatan gelisah. Sorot matanya memancarkan ketakutan dengan invasi teknologi media sosial.

Masa depan koran membuat batinnya menangis. Jiwa jurnalis terusik. Hatinya nelangsa. Dia pun menitip pesan untuk melawan invasi media sosial.

Dia menaruh harapan kepada generasi kita. Generasi masa depan. Bahwa jurnalistik tak pernah punah.

Berikut saya kutip lagi berita yang pernah dirilis di Manado Post dan Jawapos.com pada 28 September  2015

“Medsos  Ancaman Kematian Jurnalistik”

JAKARTA- Media sosial (medsos) telah menjadi ancaman terbesar jurnalistik. Masyarakatmenggangapinformasi yang diungkap di medsos seperti facebook, twitter, adalah karya jurnalistik. Kalau ini tidak disikapi dengan serius oleh para jurnalis sendiri, maka jurnalistik tinggal kenangan.
“Maka ini menjadi awal matinya jurnalistik. Ini mungkin dianggap berlebihan,” ungkap wartawan senior Indonesia Aristedes Katoppo , di kediamannya yang asri di Jalan Melati No 78, Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (26/9) pagi.
Selama dua jam pendiri surat kabar Sinar Harapan (SH) tahun 1961 ini mengulas tentang ancaman kematian jurnalistik.Ia mengaku publik lebih tertarik menjadikan medsos sumber informasi.
Eks wartawan Biro Pers Indonesia (sekarang Antara) tak persalahkan fenomena medsos, karena itu kebutuhan zaman. Dia hanya ingin publik paham benar informasi di medsos lebih banyak isu tanpa sumber yang kompeten.
Oleh sebab itu, kata pria yang akrab disapa Pak Tides ini, apa yang disampaikan di medsos bukan karya jurnalistik.
“Sudah jelas medsos itu bukan karya jurnalistik. Namanya karya jurnalistik sangat jelas membedakan fakta dan opini. Bahkan fakta itu harus diverifikasi, siapa sumbernya. Ingatkualitas sumber penting dketahui.
Sumber kompeten dan sumber yang berwenang,” kata pria kelahiran Tomohon, Sulut, 14 Maret 1938 silam ini.
Informasi di medsos juga sangat jauh dari dalil-dalil jurnalistik. Begitu gampangnya membeber informasi tanpa fakta. Entah pendapat berbau fitnah atau opini, publik langsung menilai itu karya jurnalistik juga.
“Padahal informasi di medsos itu baru sebatas desus atau gosip, tidak masuk kualifikasi berita jurnalistik. Hanya sebatas informasi,” tandas dosen ilmu jurnalistik di UI ini.
Karya jurnalistik sangat jelas framenya. Harus terkait dengan kepentingan publik, nara sumber teridentifikasi dengan jelasserta tidak beritikad buruk menjatuhkan orang lain.
Sebaliknya medsos acap kali tidak memenuhi itu. Di medsos mereka campur baurkan antara fakta dan opini.Dan sering mengingkari dalil jurnalistikbahwa sesuatu dianggap benar kalu sudah ada klarifikasi.
“Kadang karena ingin menjatuhkan orang, kita pergunakan media. Itu juga tidak benar dan bisa menghancurkan integritas dan kredibilitas koran,” ujar Tides yang rambutnya telah memutih semua.(bersambung)

Pos terkait