JUMAT pagi ini (27/), sepertinya tak ada beda dengan Jumat sebelumnya. Langit biru cerah.Tugas saya menjadi driver khusus putra ke2 dan saudara sepupunya ke MTsN Manado di Bailang.
Karena saku kosong, terpaksa mampir di atm Kelurahan Islam. Selang satu menit berjalan, di tepi kiri jalan,tak jauh dari Indomaret Kel Islam, ada lapak jualan nasi kuning.
Penasaran bercampur rasa ingin coba berkecamuk dalam otak. Saya kaget karena baru pagi ini melihat ada jualan nasi kuning di seberang toko bangunan.
Biasanya jajanan nasi kuning berjejer mulai depan Multimart sampai depan mulut jalan Cereme.
Sepersekian detik otak saya harus memutuskan. Akhirnya keputuskan diambil untuk memarkir sebelum terlanjur jauh.
Ketika berjalan menuju ke arah lapak, saya baru sadar ada bapak muda. Usia kisaran 32 atau 33 tahun lah.
Jelas aku kenal baik orangnya. Yunior di kampus abu abu Unsrat. Juga adik ideologis di HMI.
Saat agak dekat ke tempat nasi kuning, Sahrul Dien nama si yunior langsung menyapa.
Sambil menunjuk dua kotak putih dia menegaskan ini gratis.
Sesaat ada keraguan. Karena kurang kedengaran dengan jelas gratisnya. (😃😃)
Di benak ini sempat bimbang. Antara beli nasi kuning atau kotak yang ditunjuk Sahrul.
Sahrul pun mengulangi ucapannya bahwa bubur gratis. Saya sekejap tersenyum.
Sambil memesan dua bungkus nasi kuning, Saya pun mengiayakan sedeqah anak muda ganteng ini.
“Insya Allah selama diberi rezeki Allah, akan gratis terus.”
Sambil menepuk otot perutnya, saya membalas insya Allah.
Saya melaju menuju Indomaret bolivard. Di tengah jalan sebelum tiba di tujuan, Dalam pikiran ini memuji amalan mantan karyawan Bank BRI Manado ini.
Saya terinspirasi bukan lantaran makanan gratis.
Saya yakin (moga tak salah)bubur gratis ini adalah buah dari rezeki yang halal dan thayiban.
Hasil keuntungan dari kerja keras yang dia lakukan bersama keluarga.
Mungkin banyak yang belum tahu kalau pria sudah berkeluarga ini mundur dari dua bank nasional. Pertama Bank Muamalat Manado. Berikutnya BRI Manado kira kira setahun lalu.
Dia mundur lantaran ideologi ekonomi yang diyakini. Dan saya salut dengan cara pandang anak muda ini.
Di tempat lain, di dalam keluarga saya ada juga bubur gratis.
Saya pun teringat istri dari kakak ipar.
Namanya Lina. Baik orangnya. Santun dan ramah dengan siapa saja. Sangat menghormati siapa saja.
Lina dan suamninya tiap Jumat pagi membagi bagi bubur gratis kepada tetangga dan kerabat sekitar.
Amal jariah ini sudah berlangsung sekian bulan.
Dan katanya akan berlangsung sampai niat mulia tunaikan rukun haji di Baitullah dilaksanakan.(…)
27 :9: 2019















