
Sambil berbincang bersama warga di sekitar pabrik, bau limbah hasil produksi memang terasa sekali. Warga pun menujukkan titik dimana air hasil produksi itu mengalir ke selokan sampai ke sungai Pineleng.
“Air dibiarkan mengalir di selokan. Kalau hujan, itu mengalir sampai di pemukiman warga. Ini sangat bau sekali. Sudah pernah diprotes warga. Tapi pihak pabrik tak menggubris,” beber Evendy Weley Warga Desa Pineleng Dua.
Akibat dari limbah tersebut, di seputaran pabrik sudah tak bisa lagi gali sumur. Parahnya lagi, kalau musim hujan baunya menyengat sekali.
“Dan ini tidak mungkin kalau tak pakai zat kimia. Sebab mereka melakukan pencucian botol-botol.
Harusnya limbah dikelolah atau cari cara supaya tidak bau dan tercemar yang mengakibatkan mengganggu warga sekitar,” ucapnya.
Menurut Evendy bersama warga lainnya, karena sudah ketahuan, pihak pabrik langsung buat pagar lebih tinggi. Dan disayangkan, warga curiga tak ada tempat penampung, penyaring.
“Seharusnya buat sistem oil trap. Air limbah yang keluar itu harus putih. Karena ada saringan. Jadi dari awal masuk air kotor, tersaring, keluar bersih. Baru bisa di lepas/buang. Kalau ini tidak. Tak diolah kemudian langsung dibuang,” terangnya bersama warga lainnya. (un1)















