harimanado.com, MANADO–Terhitung tinggal sepekan lagi rakyat Sulawesi Utara (Sulut) akan menentukan siapa pemimpinnya lima tahun kedepan. Pertempuran antar pasangan calon pun semakin terbuka. Teranyar, kubu paslon nomor 1 yakni CEP-SSL dan nomor 3 Olly-Steven saling berbalas pantun. 2 paslon ini terlibat perang lapangan. Saling serang dikandang masing-masing pun terjadi.
Olly-Steven menggempur wilayah Bolmong Raya (BMR) yang diklaim dikuasai CEP-SSL. Sebaliknya duet calon kepala daerah yang diusung Golkar, PAN dan Demokrat menyerbu zona merah yakni Minahasa, Minahasa Tenggara bahkan Kota Manado. Dimana daerah tersebut merupakan basis yang dicap milik PDIP. Bukan klaim, memang partai berlambang banteng moncong putih itu memenangkan pemilu legislatif 2019 di wilayah tersebut.
“Kami lihat sepekan terakhir eskalasi antara paslon di Pilkada Gubernur antara nomor 1 dan 3 begitu masif. Bukan menyepelekan nomor 2. Namun, yang ramai dipermukaan hanya dua kubu tersebut. Mereka saling menduduki kandang lawan. Hal ini bertanda antara kedua paslon ini masih dihantui ketidakpercayaan diri di daerah-daerah tersebut. Ini terbukti dengan turunnya kedua paslon tersebut sampai berhari-hari guna untuk meyakinkan masyarakat. Kelihatan perang terbuka semakin kencang,”kata Aktivis Muda Sulut Fino Mongkau, sore kemarin.
Sementara itu, kubu CEP-SSL saat dikonfirmasi melalui Jubir DPD I Golkar Sulut Feriando Lamaluta mengatakan, tidak ada ‘saling-serang’. Sebab, pihak CEP-SSL turun ke kabupaten/kota di Sulut, untuk mensosialisasikan ke masyarakat Program Sulut Bangkit.
“Sulut adalah daerah yang laksanakan pilkada. Sebanyak 15 kabupaten/kota adalah pemilik suaranya. Maka sangat wajar jika paslon kami menyampaikan program untuk Sulut Bangkit,” tutupnya.
Terpisah, Pengamat Politik Universitas Sam Ratulangi Ferry Liando mengatakan, hati-hati dengan operasi senyap. Bisa jadi praktek ini digunakan oleh paslon 2 Vonnie Anneke Panambunan. Ia sepertinya memang tidak terlibat perang terbuka, namun ia memanfaatakan perang dari lawan-lawan politiknya. Kata Liando, energi yang terkuras akibat perang yang makin memanas pada dua kubu yang lain berpotensi dapat dimanfaatkan kekuatan lain yang kelihatannya tak tampak, namun justru itu yang berbahaya.
“Wajar kalau saling klaim seperti itu. Karena semua calon selalu menginginkan kemenangan. Saling claim itu ada bentuk untuk mempengaruhi opini publik. Ada sebagian masyarakat yang ingin memilih calon yang berpotensi menang. Ia tidak mau suaranya jatuh pada calon yang akan kalah. Itulah Sebebnya saling klaim menang itu sering terjadi untuk belakangan ini,”tandas dosen pascasarjana itu.(ian/fjr)















