SEJARAH EPIDEMI , SULUT-GORONTALO (1)

Basri Amin

Oleh

 Basri Amin

Bacaan Lainnya

BAIK di abad ke-19 maupun ketika membayangkannya hari ini, epidemi yang pernah menerjang kawasan ini, dampaknya (selalu) mengerikan.

Terutama ketika membayangkan tiga kombinasi penyakit yang datang bersamaan atau bergantian, pada periode krisis yang hebat, antara tahun 1853-1855.

Krisis ini diperberat oleh perubahan iklim yang ‘menggagalkan’ usaha pertanian/perkebunan masyarakat.

Bermula pada Agustus 1853 epidemi “penyakit perut” menerjang distrik Tomohon di Minahasa, sekitar 107 orang terserang.

Sejak itu epidemi meluas hebat. Terus berlangsung sampai awal tahun 1854, disertai serangan disentri, malaria dan campak

Di akhir Juli 1854, epidemi mematikan paling tidak 9.456 orang, atau sekitar 10 persen penduduk Minahasa.

Sebuah peristiwa sangat memilukan tentang wabah di kawasan ini.

Gorontalo, di tahun yang sama (1854) kombinasi epidemi yang tak kalah seriusnya juga menyerang penduduk.

Bahkan pada bulan Mei 1854, beberapa titik di Teluk Tomini dan Gorontalo dilaporkan mengalami bencana yang lebih mengenaskan lagi.

Bukan hanya serangan epidemi yang datang, tapi banjir besar juga merusak ratusan rumah dan mematikan ribuan ternak (17 Mei 1854).

Celakanya, penyakit yang menyerang Gorontalo adalah kombinasi kolera, malaria, disentri dan campak/cacar air.

Karena banjir, masalah sanitasi kemudian menjadi lebih rumit, akhirnya memicu serangan kolera di Gorontalo.

Pada periode yang berat ini, tercatat antara 40-50 orang yang mati setiap bulannya. Di bulan Juli 1854, serangan serupa meledak di Bolaang Mongondow dan selanjutnya meluas sampai di Kepulauan Sangir.

Bahkan kematian terus bertambah sampai tahun 1855 di Sangir dan Gorontalo. Karena tekanan iklim, sejumlah penduduk Gorontalo akhirnya “mencari makanan” di hutan.

Laporan-laporan kolonial di abad 19 secara variatif menuliskan serangan penyakit cacar dan tuberkulosis yang hebat-meluas di Minahasa sepanjang abad.

Epidemi lain yang mengerikan adalah malaria. Meski rata-rata laporan cenderung menyebutkan bahwa malaria banyak menyerang pemukiman di dataran rendah,

tapi tak sedikit pula laporan bahwa malaria berdampak di kawasan lain.

Secara khusus dilaporkan bahwa tuberkulosis adalah pembunuh paling mematikan di Minahasa sebagaimana dinyatakan oleh Graafland tahun 1867-1869.

Cacar adalah epidemi mengerikan di kawasan ini pada periode 1859-1860, tetapi temuan vaksin bisa menguranginya dengan signifikan.

Meski demikian, angka kematian di Gorontalo masih mencapai 3.000 orang di masa itu akibat Cacar.

Vaksin cacar mulai masuk di Jawa tahun 1804 dan kegiatan vaksinasi di Minahasa dimulai sejak tahun 1822.

Cerita suksesnya adalah bahwa pada 1824, tercatat 3.823 anak-anak berhasil di-vaksin dengan melibatkan 15 orang pekerja kesehatan.(bersambung/hm)

 

Pos terkait