Oleh:
Basri Amin
KABAR paling awal yang tercatat adalah wabah tahun 1820.
Ini berdasarkan laporan Residen Gorontalo kepada Residen di Ternate pada 18 Maret dan 10 September 1820.
Dinyatakan, epidemi “Cacar” meluas di Gorontalo. Setahun setelahnya, kekeringan hebat menerjang. Panen gagal! Kelaparan di mana-mana!.
Semua persediaan makanan ditahan, tidak bisa dikirim keluar daerah. Cacar mematikan sekitar sepuluh ribu penduduk ketika menyerang Gorontalo pada tahun 1819-1820.
Kekeringan, sepanjang abad ke-19, begitu identik dengan alam Gorontalo. Begitu juga dengan kelaparan.
Pada tahun 1831-1832, dua penyakit mulai tampak di tengah-tengah masyarakat: kolera dan demam tinggi.
Berlanjut dengan kahadiran penyakit disentri tahun 1833. Kejadian ini dilaporkan Residen Manado kepada Gubernur Jenderal Belanda di Batavia, tertanggal 19 Oktober 1833.
Enam tahun kemudian, kekeringan hebat dan kelaparan datang kembali, disusul penyakit yang bertubi-tubi: Cacar, disentri, demam tinggi.
Korban sangat besar, paling sedikit lima ribu orang meninggal. Semua peristiwa ini dicatat dan dilaporkan kepada Residen Manado, 11/14 Januari 1840 dan 25 November 1841.
Setelah lima tahun, kekeringan datang lagi dan mematikan ratusan ternak penduduk.
Tak lama setelah itu, “penyakit perut” di awal tahun 1846 menerjang Gorontalo dengan kematian yang besar, setelah sekian bulan kekurangan makanan.
Ketika itu, di Limboto, nyaris “tak ada lagi beras” yang bisa dimakan karena gagal panen.
Benih padi dan beras harus didatangkan dari tempat lain (Minahasa). Kesedihan ini berlangsung intensif sampai tahun 1847.
Sejak itulah, “sagu” dicari/didatangkan dari luar dan mulai dimakan oleh penduduk (umumnya diimpor dari Togian).
Jika diringkas, periode 1833-1869 adalah masa yang sangat berat bagi Gorontalo karena kekeringan ekstrim.
1854 adalah tahun “penanda” akan krisis yang lebih hebat lagi. Kekeringan di bulan Januari-April, hujan lebat dan banjir di Mei-Juli. Setelahnya, sepanjang setengah tahun (1855) kekeringan menjadi-jadi.
Di tahun ini, kematian tinggi, penyakit disentri memakan korban banyak, juga kolera, campak/cacar air dan demam.
Di tahun yang sama, epidemi menerjang beberapa titik di Teluk Tomini, Bolaang Mongondow, Minahasa dan kepulauan Sangir.
1860 adalah “tahun kematian” yang memilukan. Serangan penyakit “Cacar” di bulan Desember (1859) yang berlanjut di bulan Januari sampai Mei 1860 mematikan paling kurang 2.800 orang.
Makanan pokok didatangkan dari luar Gorontalo. Epidemi yang memilukan datang lagi menyerang tahun 1866.
Kolera memakan korban 1.438 kematian (Oktober). Kolera terus menjadi momok dan berlanjut dengan kematian 542 orang antara bulan Januari-September 1867.
1869 adalah tahun di mana perubahan penting mulai terjadi. Menurut Henley (1997), tekanan cuaca ekstrim di Gorontalo sudah bisa dihadapi lebih baik karena perubahan komunikasi, impor makanan diperbesar, perbaikan perlakuan medis dan pengaturan penanganan kelaparan.
Tak lama setelah itu, tahun 1873, otoritas kolonial mulai menempatkan seorang “Dokter Jawa” di Gorontalo, dengan tugas utama memonitor dan melaporkan perkembangan kesehatan daerah ini lebih saksama.
Di tahun itu juga, obat-obatan mulai dimanfaatkan penduduk, terutama Pil Kina guna melawan malaria.
Ketika kekeringan hebat kembali menyerang tahun 1877-1878, otoritas kolonial (Belanda) kemudian membangun pabrik “batu bata”, bertujuan mempekerjakan warga lokal dengan gaji harian atau upahnya bisa ditukar dengan jagung yang didatangkan dari Minahasa.
Pada 1883-1884 adalah tahun penanda siklus epidemi di Gorontalo. Kekeringan berulang menimpa.
Impor beras dari Bali, Makassar, dan Saigon; sagu datang dari Togian; jagung dari Minahasa.
Ribuan anak-anak meninggal dan banyak orang dewasa tewas. Tahun-tahun berat berlanjut, ketika kolera mengepung Gorontalo (1885-1886). Jumlah penduduk berkurang signifikan.
Adakah upaya modern yang serius? Sebenarnya, vaksin cacar pernah dicoba diberlakukan di Gorontalo tahun 1822, tapi tidak terterima masyarakat.
Bahkan ketika epidemi (cacar) di periode 1839-1841, kecurigaan masyarakat kepada vaksin tetap besar.
Gejala ini tidak banyak berubah –bisa jadi karena faktor trauma tertentu dengan aparat Belanda–. Bisa dibayangkan, selama tiga tahun (1841-1845) hanya 423 orang yang berhasil divaksin di Gorontalo.
Penerimaan masyarakat yang terbatas karena masih “curiga” dengan injeksi modern seperti ini.
Walau ada ekspresi kebutuhan vaksin di masa krisis, tetapi permintaan vaksinasi tidak pernah membaik.
Sampai-sampai pada akhirnya tahun 1855 aparat kolonial meminta bantuan beberapa pemuka agama (Islam) di Gorontalo untuk terlibat menggerakkan vaksinasi (Henley, 2005).
Sebagai hasilnya, korban kematian karena cacar mulai menurun, setidaknya pada tahun 1859-1860, kendati angkanya masih menyedihkan: tiga ribu orang meninggal karena Cacar.
Kita loncat sejenak ke awal abad 20. Pandami 1918-1919, yang lebih terkenal dengan nama “Flu Spanyol” –juga disebut oleh pakar sebagai ‘Ibu seluruh pandemi dunia’–, menyebabkan kamatian mencapai 2,5 juta di Indonesia (Chandra, 2013).
Di masa itu, sekolah dasar (HIS) ditutup di Gorontalo karena pandemi Flu Spanyol ini. Jumlah kematian di Indonesia Timur sangat signifikan, antara lain sekitar 6 persen penduduk Makassar meninggal dan 60 persen terjangkit (jumlah penduduk 26.000 jiwa).
Di Pulau Seram, 10 persen penduduknya meninggal, sementara di Papua dan Maluku tercatat 10 orang dari 1000 penduduk meninggal (Historia, Lie, 2020).
Pandemi global “Flu Spanyol-1918” berdampak serius di Gorontalo. Dilaporkan 10-11 persen penduduk Gorontalo meninggal (jumlah penduduk di masa itu sekitar 125 ribu orang).
Dampak Flu-Spanyol tergolong kecil hanya tercatat di Buol dan di Minahasa (Henley, 2005).
Sekian tahun setelah itu, serangan Malaria masih hadir di Gorontalo, tercatat lumayan serius di Paguat dan Paguyaman.
Hampir semua anak usia sekolah terindikasi malaria di Paguyaman (1929) dan menerjang pekerja perkebunan tebu di Paguyaman (1930).
Kompilasi data kependudukan, lingkungan dan kesehatan, yang dikerjakan secara ekstensif oleh Prof. David Henley (1997; 2005) untuk periode yang panjang (1600-1930) untuk Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah sangat tegas menyimpulkan beberapa hal penting untuk Gorontalo.
Lebih dari setengah abad Gorontalo adalah kisah-kisah ekstrim tentang “kekeringan” dan lingkungan/cuaca-nya yang penuh “ketidakpastian”.
Pola curah hujan misalnya, sangat bervariasi. Sebagian besar dampaknya adalah berhubungan langsung dengan ketersediaan makanan di Gorontalo (gagal panen dan kelaparan).
Demikian juga, untuk beberapa jenis epidemi yang pernah menyerang, ada yang berhubungan langsung dengan faktor lingkungan,
terutama ketersediaan “air bersih” dan, faktor ini yang tak kalah seriusnya, adalah pola migrasi penduduk Gorontalo yang sejak awal laten menjadi sebab transmisi epidemi regional.
Hal mana sampai sekarang merupakan isu yang masih aktual.
Selama dua ratus tahun sejarah Gorontalo, tercatat bahwa daerah ini pernah menjalani masa-masa sangat sulit.
Penyakit mata, kulit, mencret, bisul/kutil, patek, rematik, dan malaria adalah penyakit yang tampak sehari-hari.
Bisa dikatakan bahwa separuh abad ke-19 Gorontalo adalah “sejarah wabah dan kematian” yang hebat.
Sepanjang abad, makanan pokok/utama Gorontalo adalah Jagung, bukan beras. Begitulah data yang bisa kita pelajari dari banyak sumber tertulis.
Menyatakan “100 persen” peristiwa di masa itu sudah tercover tentulah tidak tepat. Trauma besar nyaris tak ada kisahnya.
Daya juang masyarakat dan peran kelembagaan agama dan adat juga tak bisa kita baca dengan terang di periode tersebut. Tapi yang jelas, tradisi mencatat,
melaporkan dan mendokumentasi peristiwa penting seperti ini sudah berabad-abad ditradisikan di Barat dan aparat kolonial Belanda yang datang di negeri ini telah melakukannya dengan standar memadai.
Dalam soal krisis, tak jadi soal tentang kapan dan berapa lama kejadiannya. Yang terpenting adalah memetik “pelajaran” berharga.
Bahwa kita, manusia, memiliki daya cipta dalam menghadapi sesuatu. Di batas daya tahan kita yang terburuk, semesta dan alam pikiran sudah ditakdirkan olehNya untuk memberi/membukakan kita “jalan keluar” yang memungkinkan kehidupan (kembali) berjalan.
Ketika krisis datang lagi di abad ini –Covid-19–, siapkah kita untuk “jujur belajar” satu sama lain? Vaksin belum datang, perluasan pandemi tak bisa dipastikan.
Modal kita adalah usaha keras, jujur, kepemimpinan, ilmu pengetahuan, saling-percaya dan membantu. Tantangan (terberat) kita terletak pada kepemimpinan dan kejujuran. (*)
Penulis adalah Partner di Voice of Hale-Hepu, for The Future of Education. Alumnus East-West Center (EWC), Hawaii, U.S.A.E-mail: basriamin@gmail.com















