“Jadi, mulai dari perencanaan pengadaan kemudian suplainya invoice tagihan dan juga verifikasi kami semua yang melakukan. Nah kemudian, mulai goalnya ini sebenarnya milik Genko pembangkit dan ini dalam cash manajemen sistem ini langsung. Begitu ada tanda tangan kita terbayarkan,” kata Iwan dalam konferensi pers di Plaza Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (28/2).
Dengan besaran anggaran transaksi tersebut, Iwan optimis PLN Epi akan menjadi penyedia energi primer untuk pembangkitan terbesar di Asia Tenggara. Saat ini, PLN EPI memiliki skala bisnis terbesar karena anak perusahaan PLN ini telah menyuplai batu bara untuk pembangkit listrik jalan tol dengan kapasitas 44 gigawatt (WGW).
Selain itu, EPI juga berencana menyediakan suplai primer biomassa sebesar 10 juta ton di tahun 2025 mendatang. Suplai biomassa ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan co-firing di 52 titik PLTU yang tersebar di Indonesia selama dua tahun mendatang.
Direktur Biomassa EPI, Antonius Aris Sudjatmiko, mengatakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut pihaknya akan melakukan kerja sama dengan BUMN, Perhutani, PTPN, dan swasta.
Anton mengatakan, suplai terbesar dalam pembangunan 52 titik PLTU ini akan mengandalkan dari hasil hutan tanaman energi atau hutan tanaman industri yang diolah menjadi soda.