New Normal Menurut Islam: Tanggapan untuk Pak Guru JK di FB

Muhammad Nur Andi Bongkang.

Catatan untuk Muslim 

Oleh:
Muh Nur Bongkang

 

DUA malam lalu (3 Juni 2020) agak sulit tidur padahal sudah ngantuk, katanya new insomnia.

Bacaan Lainnya

Rasa ngantuk menguap, manakala membuka media sosial (Facebook/FB), akun ini di-tag karib dekat, pak guru Jefry Kadjuju (JK).

Malam itu, JK ‘mengusik’ rasa ingin tahu terkait masalah covid19.

Banyak sekali akun yang dicolek. Dalam komen Jay Bumulo dan teman-teman, kata pak guru; 

Bibb Ana baru bangun, Apa bibb mo bilang Fadillah Corona ini, Ada bibb,,,?

Ada yang mentakwilkan adanya Mahluq Allah ini C19 membuat kitorang lebe dekat dengan penentu Taqdir kata bibb, atau kebalikan stou,,, itu yg Bibb kore (ulas) akang sadiki, Tenang Antum Joe Dheien Rizky Zulkarnain Kadu habbib Nur somo olah.”

 (Bib/habib adalah kebiasaan Pak guru menyebut orang yang dia sayangi, yang dia maksudkan adalah Habibi).

Karena perintah pak guru, (pahlawan tanpa tanda jasa (Kecuali Pak Guru Jefry, banyak dapat dari Pak Seqi Ichsan dan pak Gub), akhirnya tulisan ini dibuat.

 

Pak Guru Jeff, jika kita mau membahas C19, habis waktu dan kopi, masalah ini belum akan berakhir, karena kami bukan ahlinya.

Tapi untuk sekedar berbagi informasi dan data kasus, mungkin bisa terlebih lagi ide penerapan NEW NORMAL.

Tapi kita yang beragama islam, sudah sepatutnya merujuk kepada teks-teks langit yang sudah jelas, karena pasti kita berdua tidak akan saling bantah membantah.


Pak Guru Jeff, Allah Ta’ala berfirman di Qur’an (Yunus : 61) “….. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar ZARRAH (atom) di bumi ataupun di langit.

Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

Tema serupa dibaca di QS. Al-Mujādila : 10.

Dari dua ayat ini kita bisa dapat point penting bahwa  C19 bagian dari catatan ilahi, dan sebenarnya masih banyak ayat-ayat Allah yang membahas hal ini.

Kita tidak boleh berduka cita dan semestinya menjadi hamba yang bertawakkal (tentunya dengan ikhtiar juga).

Karena sebaik-baik sandaran adalah Allah Swt.

Pak Guru Jeff, C19 yang menjadi pembahasan kita adalah makhluk Allah sebagaimana banyaknya makhluk yang lain (virus flu burung, dll).

Permasalahan yang terjadi adalah keresahan di tengah masyarakat terkait C19 diakibatkan maraknya informasi dan analisa (status medsos dan video) dari orang-orang yang secara sainsitific oleh Mantri Nizam Halla (FB : Nizam atau Zam) tidak punya kompetensi untuk menjelaskan atau setidaknya tidak memiliki otoritas untuk menjelaskannya.

Atau meminjam bahasa pakar neurosains Dr. dr Taufik Pasiak : stel tau dan stel jago kong rupa pande-pande.

Pak Guru Jeff, bagi saya, sebaiknya Pemerintah (IDI dan Gugus Tugas penangan pandemi C19) jelaskan secara medic terkait status C19 ini.

Diantaranya jelaskan status ODP dan PDP bukanlah hal yang buruk karena belum POSITIF. Sehingga pasien yang Wafat di masa ini apakah sebagai ODP atau PDP bisa dikuburkan secara normal sebagaimana keinginan banyak masyarakat, sepanjang belum ada hasil valid kalau jenazah dinyatakan POSITIF; karena ini jadi polemik di lapangan. (bisa dilihat contoh kasus di kampung Pak Guru dalam kasus RSPK, dan kasus Andi Basso di Makassar, yang sempat viral).

 

Tapi lagi-lagi itu bukan bidang kita berdua.

Pak guru Jeff, saya justru lebih tertarik kita berdiskusi tentang ide penerapan NEW NORMAL.

Karena ini  hal yang baru dan asyik untuk di bahas sambil ngopi.

 

Berikut penjelasan @kemdikbud.ri mengenai arti dalam bahasa Indonesia New Normal dikutip Wartakotalive, Rabu (27/5/2020). Istilah “New Normal” memiliki padanan dalam bahasa Indonesia, yaitu “Kenormalan Baru”.

Kenormalan baru menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud yaitu keadaan normal yang baru (belum pernah ada sebelumnya). Berikut salah satu contoh penggunaannya dalam kalimat: Pandemi korona mengharuskan masyarakat beradaptasi dengan kenormalan baru, seperti menggunakan masker ketika keluar rumah, selalu mencuci tangan, dan menjaga jarak fisik ketika berada di tempat yang ramai.

Yuk, kita terapkan kenormalan baru dalam keseharian kita di masa pandemi ini! Demikian Kemendikbud dalam postingannya.



Pak Guru Jeff, sekarang bagaimana kita menghadapi era new normal ini, apakah Al-Qur’an memiliki bahasan tentangnya?

 coba kita perhatikan QS. Ar-Rūm:41

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut  disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

KEMBALI ke jalan yang benar, satu kalimat pendek yang jadi kuncinya.

Lalu apa hubungannya dengan new normal. Anggap saja C19 adalah akibat dari perbuatan “sebagian” kita manusia, agar kita bisa kembali.

 

Kembali bukan dalam pengertian ke era sebelum C19.

Tapi kembali ke jalan yang benar dengan pola hidup yang tidak biasa kita lakukan tentunya, intinya adalah perubahan diri secara revolutif dan itulah yang saya anggap sebagai new normal.

Lalu bagimana melakukan perubahan diri Pak Guru Jeff ..?

Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.”  (QS. Al-Maaidah: 54).

Atau lihat juga (QS. Muhammad: 38).

Pesan-pesan ini nyata untuk new normal, kalau kita tidak segera berbalik arah; maka kaum yang disebutkan itu akan segera muncul dan menggeser posisi kita semua sekarang ini.

Pak Guru Jeff, saat ini sangat berbahaya, karena kerusakan tersebar di mana-mana; kerusakan sitem hidup serta kebijakan pemerintah, kerusakan wanita, kerusakan orang tua dan pemuda.

Dan, bila wanita dan pemuda telah rusak, tunggu saja kehancuran.

Perlu di ingat bahwa Musuh-musuh Islam (bukan khusus untuk agama lain) siang dan malam tidak bosan-bosan berupaya menghancurkan nilai-nilai Islam.

Serigala itu siap memangsa, sementara kita masih tertidur pulas. Pertanyaan kemudian Di manakah kita : para pemuda, para dai, dimana kaum intelektual, dimana ulama, dimana umara (pemerintah).

Mana dakwah kita, Mana aktivitas kita, Di mana kontribusi kita pada realitas hari ini?

Allah Swt sudah ingatkan : “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka.” (QS.Al-Hadiid: 16).

Dan juga ayat QS.An-Nisaa’: 133) serta QS.Ibrahim : 19-20.

Pak Guru Jeff, lihatlah dengan jelas teguran Tuhan dan “ancaman” itu; Allah akan menggantikan kita dengan kaum baru karena sifat mereka :  

“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah.” 

Di samping itu, mereka juga “Bersikap lembut terhadap orang-orang mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir(ingkar).”

Dimana Para Pemimpin yang mencintai Rakyatnya, Dimana sekarang orang-orang yang bersikap tawadhu kepada saudaranya sesama muslim…?

Di manakah orang-orang yang memaafkan saudaranya ketika ia salah…?

Di manakah orang-orang yang bersikap merendah dan menyenangkan kepada saudaranya, meskipun ia bepaling…?

Di mana orang-orang yang menjadi tauladan berkasih sayang diantara sesama hamba Allah, siapapun dia dan agama apapun dia..???

Sayidina Ali Bin Abi Thalib Karamallahu wajhahu pernah berkata :

“….sesungguhnya mereka-mereka yang tidak bersaudara denganmu dalam aqidah adalah saudaramu dalam kemanusian….”

Pak guru Jeff, perhatikan ayat-ayat tersebut, Sifat lain kaum baru itu dan ini yang terbesar adalah : berjihad (bersungguh-sungguh) di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang mencela.

Karena kelemahan hati adalah kelemahan cita-cita/semangat/kemauan,  yang mana kalau ada orang-orang yang mencela lalu mereka berhenti berbuat kebaikan.

Kalau ada yang mengkritik, mencela dan menghina, kekuatan langsung redup dan yang ada rasa malas berbuat kebaikan.

Imam Ahmad mengatakan  dari Abi Said al-Khudri ra berkata, Rasulullah Saw bersabda 

Ketahuilah janganlah ketakutan manusia mencegah kalian untuk mengatakan yang hak, bila ia melihatnya atau menyaksikannya. Karena, sesungguhnya ia tidak mendekatakan ajal dan tidak pula menjauhkan rezeki untuk mengatakan yang hak atau menyebutkan dengan sesuatu yang besar.”

Pak guru Jeff, lihat akhir dari QS.Al-Maaidah: 54 tersebut. Kepada siapakah loyalitas dan kebajikan harus kita berikan..? maka lihatlah lanjutannya QS.Al-Maaidah:55 Dan QS.Al-Maaidah:57.

Pak Guru Jeff, ini yang bisa sampaikan dalam permintan tanggapan semalam, maafkan jika ada salah dan hak-hak antum juga yang lain yang pernah saya rampas dan dzalimi.

 

Semoga Allah memaafkan semua kesalahan-kesalahan kita semua. Ya Allah, jadikan kebaikan sebagai akhir hayat kami dan jadikanlah sebaik-baik hari kami adalah hari berjumpa dengan-Mu, menatap WajahMU dan dapatkan Syafaat Rasulullah Saww serta RidhaMU.

Pak Guru Jeff, semoga Pandemi C19 ini segera berakhir dengan kebaikan, dan menjadikan kita sebagai manusia-manusia yang tercerahkan “ar-Rausyan Fikr” dimana kita semua bebas dari cobaan Pandemi C19 ini dalam keadaan bardan wa salaman.

Ilahi Aamiin. bi Haqq Muhammadin wa aali Muhammadin wa ‘ajjil Farajahum.

Pak Guru Jeff, tetaplah berbuat baik bagi semua dan “Jangan Lelah Mencintai Indonesia.

Wallahu a’lam.

Penulis: Aktivis Muslim Sulut

Pos terkait