Normal-normal Saja

Catatan

Oleh: Basri Amin

 

APAKAH yang “normal” sungguh-sungguh memintakan sebutan “baru?”. Belum begitu jelas siapa yang butuh siapa dan siapa yang mengharuskan apa.

Bacaan Lainnya

Bukankah   apa   saja   yang   masuk   akal   atau   hal-hal   yang   kita   rasa   wajar   dan   memberi keseimbangan,   layak   disebut  normal.   Yang   normal   tidaklah   identik   dan/atau   harus   berupa sesuatu yang biasa kita kerjakan.

Juga tidak selalu sebagai sesuatu yang kita setujui, biasakan, dan yang menyamankan kita. Nah,   manakah   yang   normal  antara  monogami   atau  poligami?  Manakah   yang   normal   antara berobat ke dokter atau menemui tukang pijat?

Manakah yang normal antara posisi direktur atau kondektur?   Atasan   marah   kepada   bawahan,   normalkah?

Pertanyaan   seperti   ini   terkesan mengada-ada dan rawan tertuduh mencari-cari beban pikiran dan urusan.

 

Padahal, kita hanya sedang mencoba belajar “menguji” nalar, situasi, alasan, motif-motif dan tujuan. Terbiasa untuk yang “tidak biasa” adalah normal bagi spesies bernama manusia.

Setiap hari,sepanjang usia kita, kita terbiasa tumbuh bersama dengan banyak perihal yang tak biasa. Itulah semua yang membentuk pertumbuhan dan kedewasaan kita.

Kita tersadarkan di tengah duniayang berubah setiap saat. Hal-hal “baru” adalah pembaru utama kenormalan kita. Normal adalah posisi dan potensi sekaligus.

Ia adalah “titik keberadaan” yang berfungsi sebagai penyebab di antara sekian banyak penyebab. Normal bermakna akumulatif, tidak tunggal danmanunggal di dalam dirinya sendiri.

Di dalamnya ada jejaring kapasitas yang mengarahkan kita melihat/memutuskan   banyak   kondisi   yang   memungkinkan  sesuatu  berubah   oleh   (gerakan)semesta, manusia dan/atau oleh kuasa dari yang Kuasa.

Membenarkan sesuatu tak harus disertai dengan menyalahkan yang lain. Di antara yang benardan yang salah masih terentang “banyak pilihan” yang layak menyegarkan pegangan-pegangan lama yang mendamaikan.

Dalam banyak hal,  kebenaran  akan ditemukan di sela-sela kebaikan sesuatu (kebijakan, kemasyhuran dan/atau kekuasaan).

Begitupula di balik kesalahan tertentu,kita (berpotensi) menemukan banyak kebenaran yang pesan-pesannya demikian halus ditemukan dan diyakini.

 

Ketika   rumusan-rumusan   heroik   di   balik   yang  “normal”   sedang   mengemuka   saat   ini,   yang sebetulnya terjadi adalah terbukanya pintu-pintu pencarian kompromi manusiawi di atas tekanan perubahan.

Kita tengah berada di ruang-ruang “kekalahan” tapi terus-terusan menolak kecemasanyang kita ciptakan sendiri.

Padahal, sejarah manusia adalah “sejarah tentang kesalahan!” Itulah sebabnya, manusia yang benar adalah yang terbuka bersedia-menerima untuk “dibenarkan” atau di-‘normal’-kan kembali.

Normal   bermakna   sadar   di-benar-kan;   jujur   kembali   dari   jalur-jalur   kesalahan.   Caranya? adaptasi   kepada   semesta   dan   apresiasi   kepada   daya   hidup   yang   diberikan   olehNya.

PemberianNya membuat manusia mampu berhenti (setiap saat) karena berdaya dan ia pun akan terus berjalan (sesuai pilihan sadarnya) karena manusia punya gaya-gerak yang fisikal dan yang non-fisikal.   Keduanya   bisa   menembus   beberapa   alam   dan   mematahkan   banyak   materi   danmisteri

 

Normal   bermakna   sadar   di-benar-kan;   jujur   kembali   dari   jalur-jalur   kesalahan.   Caranya?Adaptasi   kepada   semesta   dan   apresiasi   kepada   daya   hidup   yang   diberikan   olehNya.PemberianNya membuat manusia mampu berhenti (setiap saat) karena berdaya dan ia pun akanterus berjalan (sesuai pilihan sadarnya) karena manusia punya gaya-gerak yang fisikal dan yangnon-fisikal.

Keduanya   bisa   menembus   beberapa   alam   dan   mematahkan   banyak   materi   dan misteri.  Pencarian “Normal Baru”Informasi   adalah   kebutuhan   masyarakat  yang   sehat,   bukan   agitasi   yang   isinya   pengulangan(himbauan) dan tekanan (fisik, sosial, dan ekonomis).

Kekuatan ini yang butuh dibesarkan saatini. Sekaligus butuh “perawatan” handal agar imunitas masyarakat di tengah-tengah perubahantidak dilambankan oleh kerumunan pemberitaan dan persaingan pencitraan.Kepuasan,   keterlayanan   dan   pelampiasan,   secara  bersama-sama  berlomba   menemukan   jalanmasuk dan keluarnya masing-masing.

Ada resep cepat yang hendak ditemukan-segera, tak peduliapakah diagnosanya benar dan  tidak. Tak juga mau tahu  apakah  seseorang/kelompok  rentanbutuh “pendapat kedua” sebagai alternatif terbaik. Tak juga membayangkan efek samping darisetiap solusi yang ditawarkan. Tegasnya,  derita hidup  tak lagi dibaca sebagai tanda kehidupanyang sebenarnya.

Kaidah   bahwa   “ada   karunia   dariNya   yang  hanya  kita   peroleh   melalui   derita”   tak   lagi (sepenuhnya) dicamkan dan diyakini para hamba Tuhan.

Masyarakat   baru,   tampaknya,   akan   tumbuh   di   atas   ke-normal-an   yang   cacat,   jika   serpihan pengabaian demi pengabaian dibiarkan mengambang setiap harinya.

Jangankan pengetahuan danotoritas negara, benteng yang di-suci-kan sekalipun setiap  saat  goyah. Uniknya  karena  yangmengalaminya cenderung terbiasa memupuk kepercayaan-diri berlebihan.

Ia tertata sedemikian rupa   di   banyak   reklame   yang   ditegakkan   di   atas   lembaran-lembaran   persepsi,   derita   dan prasangka.

Di   sekitarnya   dipenuhi   jalan   lingkar   yang   juga   dikerjakan   dengan   pongah   tapikemudian dirayakan dengan waswas. Pengharapan jangan dijadikan propaganda di ruang publik.Energi (ruhani) kita tak akan pernah habis, meski kekuatan fisik, financial, sosial, dan intelektualkita sedang tergerus.

Pilihan “terburuk” yang paling menyakitkan sekalipun adalah bagian darisesuatu yang normal ketika pembenarannya diterima nalar dan nurani.

Penerimaan yang damai inilah yang kehadirannya sangat ditentukan oleh ujaran-ujaran positif yang selama ini mulai  berhasil  kita rawat bersama. Keyakinan normal berkata: dalam situasi guncangan –-entah karena Pandemi atau karena Peperangan–, adalah kesatria kalau sejak awal memandang   “kekalahan”   sebagai   kemungkinan.

Pelonggaran   peran   dan   partisipasi   tak   akanmenurunkan marwah kekuasaan. Tanpa   kekalahan yang   diakui-jujur-tulus,   tak akan  ada   perdamaian  yang bermakna.

Padahal dengan   itulah   pula   peperangan   berhenti   dan   akan   berubah   menjadi   narasi   bersama   yang melahirkan kekuatan, kebersamaan dan orientasi baru.

Energi (baru) pun akan terlahir! Inilah ke-normal-an (‘baru’) yang, sayangnya, acapkali diganggu oleh serangan balik bernama kepicik-hatian dan ketergesa-gesaan. Perebutan legitimasi telah disadari oleh banyak pihak.

Karena terpaan media  yang eksplosif,hampir semua orang sudah lama terkepung oleh kabar-kabar.

Terkadang menjadi “jemaah” darisitus-situs tertentu, atau pun menjadi “member” kepada otoritas dan kelompok tertentu.

Berdamai meniscayakan infrastruktur kejiwaan dan perangkat-pencerna yang mampu mencacah keadaan   dari   banyak   sisi   dan   persepsi.

Di   seberangnya,   yang   dinamakan   keuntungan   dankebutuhan tidak lagi berupa materi atau status, melainkan “rasa kurang” dan “rasa lemah” yangmewarnai setiap orang yang sehat dan sejahtera.

Yang di kota memuliakan yang di desa; yang diatas mengatrol yang di bawah; yang merasa tahu tak lantas membodohi; yang beroleh amanahbisa merendah; yang terhimpit diberi nafas.

Sehat? Sakit? Hidup? Mati? Itu normal! Menganggur, miskin, bodoh, itu bagaimana? Bagaimana   menghayati  sehat dan  menjalani   sakit   yang   “tepat?”   Pakai   masker,   cuci   tangan, bersih-bersih, jaga jarak, tes yang rutin, gizi yang cukup, adalah bagian dari ke-normal-an itu.

Bahwa ada tambahan dimensi dan frekuensi praktis yang melebar-membesar dan mengantarkan kita kepada praktik “disiplin yang terbina-terpola”, itu pun merupakan soal-soal yang normal.

Itu semua tak butuh ideologi gerak yang “terawasi” dengan bentakan, tendangan dan warna-warnibendera, bukan?.

Karena pemberian nasehat dengan istilah “baru” yang indah di telinga tapi getirdi pikiran lambat laun   akan  otomatis tertolak.

“Cerita tak  bisa   dimakan;   yang enak  adalahmakan sembari membagi cerita…” Bahwa “sehat yang sebenarnya” hanya mungkin dicapai justru ketika kita mampu menyikapisetiap   “yang   kurang”   dan   “yang   lemah”   pada   diri   kita.

Kita   juga   menjadi   “sejahtera   yangsesungguhnya” karena mampu menemukan dan menghidupi secara benar mereka-mereka “yangkurang” dan “yang lemah” di antara kita dan yang di sekitar kita.

Normal menjadi abnormal kalau kemanusiaan hanya dipilih dan dipilah di atas ukuran aturan-aturan dan dihitung menurut rumus-rumus untung-rugi dari mereka yang suaranya lantang dan dominan.

Karena, terakui atau tidak, justru dari sanalah bibit-bibit (wabah) penyakit bersumber. Sebuah siklus ketaksadaran yang meletihkan peradaban mutakhir kita di planet ini. Bagaimana   rumusan   baru   tentang   yang   “normal”   hadir   ketika   terjadi   pertemuan   antara ketidakpastian, kecemasan, keterbatasan?

Ketiganya menyisahkan luka yang tak mudah ditambaldengan plester alakadarnya. Kita   membutuhkan   aktivasi   (baru)   agar   kemampuan   normal   kita   yang   asli   tetap   berfungsi.

Dengan begitu reaksi-reaksi kita tidak sampai koslet dengan organ-organ yang lain. Ada aliranenergi   yang   terkendali   dan   berkemampuan   membuang   tumpukan   ampas   yang   membebani

kehidupan kita di zaman baru yang pelan-pelan (mulai) melambat atau yang tengah menunggudentuman besar yang memecahkan semua pencapaian.

Sadar dengan ini semua adalah normal.

Sisanya, yang kita harus urus adalah pangan, pekerjaan,pendidikan, tempat tinggal, rumah sakit, rasa aman, dst. Negara modern bertugas untuk itu. Dan agar kita damai, kita butuh kebebasan dan keadilan.

Di “negara yang normal”, antara yang normal dan yang tidak normal, semuanya ditempa melaluisejarah yang panjang. Hasilnya, fondasi ilmu  pengetahuan  dan kepemimpinan yang visioner, lebih mapan dan siap dengan getaran perubahan. Tragedi tak menebalkan trauma lintas generasi.

Karakter   masyarakat   yang   disiplin,   persisten,   kohesif   dan   percaya   kepada   pemerintahnya “menolong” mereka di setiap guncangan.

Indonesia kita, insya Allah akan seperti itu. Jika tidak di tahun 2020, kita bertekad melihatnya di 2021. Yang jelas, untuk hari-hari ini, kita (lebih) butuh yang normal-normal saja, bukan? Tak perlu minta yang lain-lain!

***Penulis adalah Partner di Voice of Hale-Hepu; Bekerja di Universitas Negeri Gorontalo.Pos-el: basriamin@gmail.com

Pos terkait