Pilkada : Partisipasi Naik, Politik Uang Menjadi

Ferry Daud Liando dan Awaludin Umbola
harimanado.com, MANADO–Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 9 Desember telah usai dihelat. Saat ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) tengah merampungkan tahapan perhitungan suara mulai dari tingkat bawah. Namun, sejumlah permasalahan tak luput dari hajatan lima tahunan kali ini khusus di Sulawesi Utara (Sulut). Terdapat beberapa temuan pelanggaran serta masalah saat tahapan pencoblosan digelar.
Pimpinan Bawaslu Sulut Awaludin Umbola mengatakan pihaknya berkesimpulan Pilkada kali ini berjalan sesuai dengan harapan yang ada. Namun, kata dia pengalaman pemilihan legislatif maupun pemilihan kepala daerah sudah pasti ada kurang-kurangnya dan bolong-bolongnya. Tetapi pelaksanaan Pilkada ini berjalan sesuai rencana. Pertama tidak ada keterlambatan logistik secara masif dan itu yang pihaknya peroleh dari teman-teman Panwascam dan Panwas Desa/Kelurahan di lapangan.
“Yang memang ada kekurangan-kekurangan teknis dibeberapa titik seperti Pemungutan Suara Ulang (PSU). Namun itu menjadi evaluasi kita bersama penyelenggara pemilu, bagi mereka yang ber-KTP Sulut, tapi tidak mengantongi A5. Dan ini harus bisa menjadi evaluasi bersama, apakah mereka yang tidak memiliki A5 tapi bisa memilih. Perlu digaris bawahi jika disejumlah daerah terjadi mobilisasi masa, itu yang harus difikirkan dan dipagari,”kata Umbola tadi malam.
Lanjut mantan Ketua KPU Boltim itu, terkait protokol kesehatan, Bawaslu mendapati hampir seluruh TPS menggunakan protap ini. Namun, ada beberapa titik agak terjadi sedikit kerumunan dan terjadi antrian dalam proses pengecekan C6, KTP dan lain-lain. Namun, setelah proses itu masyarakat tidak lagi saling bercerita di TPS, kursinya diatur berjauhan.
“Tapi yang saya temui dan laporan dari jajaran kita ada beberapa TPS yang kondisinya tidak dapat mengikuti protokol kesehatan. Misalnya yang diadakan di gedung tertutup dan ruanganya sempit. Hal-hal ini tentunya harus menjadi evaluasi bersama. Memang hal demikian yang menjadi resiko ketika Pilkada dijalankan di tengah pandemi,”terang Ewin sapaan akrabnya.
Sementara itu, Dosen Kepemiluan Universitas Sam Ratulangi Ferry Liando mengatakan, meski banyak kekurangan namun secara umum tahapan pemungutan suara bisa dikategorikan berhasil. Kata dia,  permasalahan-permasalahan yang terjadi pada tahapan pencoblosan adalah penyakit-penyakit lama yang belum terpecahkan. Misalnya terkait dengan keakuratan data pemilih, ketepatan waktu pencoblosan serta kelalaian oleh sebagian petugas di TPS. Itulah sebabnya ada sebagain TPS harus dilakukan pemungutan suara ulang.
Pilkada 2020 memang tidak dilaksanakan seperti biasanya. Bimbingan teknis terhadap penyelenggara di tingkat adhoc tidak maksimal dilakukan karena ada larangan diadakannya pertemuan yang melibatkan banyak orang. Kekurangpahaman sejumlah petugas menyebabkan terjadinya kelalaian. Apalagi tidak semua pemilih mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan. Misalnya menggunakan hak pilih orang lain saat pencoblosan tidak boleh dilakukan. Namun itu terjadi karena kekurangpahaman terkait larangan-larangan dalam aturan,”urai dosen pascasarjana itu, Minggu tadi malam.
Lanjutnya, ada juga masyarakat yang tidak berhak memilih tapi diberikan kesempatan oleh petugas untuk tetap memilih. Hal yang mengagetkan adalah tingginya angka partispasi pemilih. Hal itu kemugkinan terjadi karena pertama masifnya penyelenggara baik KPU maupun Bawalsu dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Kedua, kemungkinan masih menonjolnya dugaan politik uang. Banyak pemilih yang datang karena telah menerima suap dari tim sukses. Atau karena telah dijanjikan sesuatu jika berhasil memilih calon tertentu.
“Buktinya banyak kamera yang lolos di TPS yang digunakan untuk mengambil ganbaran atas apa yang dipilih. Kuat dugaan pengambilan gambar itu sebagai dasar untuk mendapatkan uang dari tim sukses. Kemudiam perang antar pemilih di medsos menjadi salah satu pemicu tingginya pengguna hak pilih. Karena saling memanasi maka ada ketakutan atau gengsi jika calon yang didukung oleh lawan-lawan seteru itu menang. Maka ia berusaha mengajak rekan-rekannya untuk mencoblos calon yang didukung,”terang Liando.(fjr)

Pos terkait