Oleh: Andi Muhammad Nur Bongkang
(Ketua eLPERISAI Manado/Pendiri ODMCC Sulut)
RAMADHAN. Bulan ini disebut yang penuh berkah. Kita umat Muslim tentunya telah menyiapkan diri secara spiritual. Itu agar kita dapat merasakan -sebagaimana disebutkan dalam khutbah Rasulullah Saw- Bahwa kita sedang berada dalam perjamuan Allah SWT– sebuah kado terindah dari langit. Sayang sekali jika kita tak menggunakan kesempatan istimewa ini untuk memperoleh ampunan, keridhaan, rahmat, kasih sayang, dan rezki dari Allah Swt, yang pada gilirannya mengantarkan akal, hati, jiwa, dan hidup kita, selalu dekat dengan Tuhan.
Kedekatan ini penting adanya, karena segala anugerah itu berasal dari Dia semata dan nikmat Allah inilah yang kemudian menggerakkan kehidupan ini.
Dalam Surat An-Nahl ayat 33 Allah berfirman,“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, dari Allah-lah (datangnya),dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan.”
Dalam surat yang sama, ayat 18, Allah juga menegaskan, “Dan jika kamu menghitung – hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.Sesungguhnya Allah benar – benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Simaklah bagaimana di tengah kompleksitas dunia modern ini Ramadhan menjadi sebuah persinggahan atau jeda di samping 11 bulan yang penuh noda –noda jiwa, pikiran, harta, noda jabatan dan lain-lain.
Di sinilah kita melakukan evaluasi dan menyadari bahwa di antara setiap waktu kerja, harus ada sedikit ruang untuk relaksasi dan kontemplasi spiritual.Bahwa semua mesin tubuh kita yang setiap hari tidak berhenti mengonsumsi segala macam jenis makanan perlu diistirahatkan. Tetapi ada sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab saat ini, ketika kita menjalani hari-hari puasa dari terminal pertama yang penuh rahmat ke terminal ampunan (Maghfirah),sebelum akhirnya sampai di terminal terakhir, itqum minannar, pembebasan dari api neraka.Benarkah kita telah menjalankan shaum dengan benar sesuai dengan kehendak Ilahi dan harapan Rasulullah Saw?Tentunya malu atau kelewat percaya diri rasanya bila kita berani mengatakan telah menjalankannya dengan benar. Karena bagi sebagian kaum muslimin ramadhan hanyalah bagian dari rutinitas hidup yang harus dilalui, dan satu-satunya yang membedakannya dari bulan lainnya hanya pergeseran waktunya. Waktu sarapan pagi bergeser menjadi sahur,sementara saat berbuka tidak lain dari makan siang yang tertunda. Bahkan tak jarang,berbuka pun dilanjutkan dengan makan malam, plus kumpul bareng bersama relasi di kedai-kedai kopi.
Sesungguhnya pada ramadhan tahun inilah kita mengalami jeda yang begitu nyata. Sangat boleh jadi kita tak menyadari bahwa pengurangan jam kerja dan jam belajar pada Ramadhan di tahun-tahun lalu ditujukan untuk memberikan kesempatan beribadah lebih besar. Namun sekarang, dengan adanya pandemi covid 19 sejak 2020 yang juga memaksa kita lebih banyak bekerja di rumah, pengurangan jam kerja dan belajar jadi berlipat. Kendati hal ini tidak berlaku bagi yang bekerja untuk pelayanan publik.
Tapi apa mau dikata, acapkali aspek menahan diri di atas kemudian tertelan-terselimuti dengan kecenderungan wisata kuliner yang kian populer itu. Coba perhatikan apa yang terjadi di Msnado tahun lalu. Khawatir dengan perkembangan pandemi covid yang kian memprihatinkan, pemerintah Kota Manado sempat melarang pasar takjil (2020).
Keputusan yang menurut pengamatan penulis tidak tepat, karena resiko penyebaran penyakit yang terjadi di arena pasar takjil masih belum seberapa dibanding pasar-pasar besar yang senantiasa jadi ajang transaksi yang membludak.
Mempertimbangkan beberapa alasan, pemerintah Kota Manado akhirnya mengkoreksi keputusannya: larangan dicabut, tapi penjual dan pembeli harus mematuhi protap kesehatanyang ketat.
Meski begitu dari kasus ini kita juga bisa menyimpulkan bahwa gairah melakukan wisata kuliner susah dibendung. Bisa dipastikan, pengunjung pasar takjil susah menahan diri manakala beberapa jenis hidangan dan kue yang biasanya sulit didapat justru menampakkan dirinya pada bulan ini.Apa boleh buat, fenomena merayakan ramadhan dengan pesta kuliner ini membengkakkan anggaran belanja rumah tangga dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.
Ramadhan telah datang, seluruh anggota keluarga menyambut dengan “pesta.” Mencermati hal tersebut, Walter Ambrust, akademisi yang pernah meneliti budaya konsumsi massa dalam hari-hari besar Islam, mengisyaatkan bahwa gejala semacam itu terjadi hamper di seluruh negeri yang berpenduduk muslim. Bahkan secara jeli, Ambrust juga menjelaskan bahwa gejala itu memperlihatkan kesenjangan antara perilaku nyata komunitas muslim dengan prinsip-prinsip ideal yang diekspresikan dalam wacana hakikat puasa sebagaimanadiajarkan dan menjadi tauladan dari Nabi Muhammad Saw.Bagi penulis, gejala ini sangat aneh dan ironis. Konsumsi makanan justru meningkat selama ramadhan, padahal Islam mewajibkan penganutnya untuk menahan diri dari berbagai kenikmatan, termasuk makan-minum di siang hari bulan ini.
Jika takjil yang dijajakan disepanjang jalan disambut dengan suka cita oleh kalangan menengah bawah dan bawah, kelas menengah-menengah atas biasa melakukan “wisata boga” dari hotel ke hotel, atau dari restoran ke restoran. Menyimak anjloknya aktivitas hotel dan restaurant, serta kedai-kedai kopi lantaran pelarangan dan pembatasan berkumpul oleh pemerintah tahun lalu, sebenarnya kita bisa mempertanyakan kebenaran temuan Ambrust. Namun di tahun kedua pandemi ini, terlihat bahwa penelitian Ambrust menemukan wajahnya kembali. Hampir di semua pelataran jalan-jalan kota Manado (bahkan mungkin di kota lainnya) pasar takjil kembali semarak dan tampak “normal.”
Bahkan di beberapa lapangan/tempatyang baru telah dibuka tenant-tenant untuk berkumpul berbuka puasa yang manahampir setiap hari selalu ramai dikunjungi sampai larut malam. Kelesuhan ekonomi akibat efek negatif dari pandemi, tidak menjadikan budaya konsumerisme Ramadhan itu berkurang, apalagi lenyap. Mumpung masih ada waktu, sekarang jadikanlah paruh kedua ramadhan kali ini momentum bagi ummat Islam untuk sesegera mungkin meninggalkan budaya safari konsumtif ramadhan dan menjadikan ramadhan sebagai bulan untuk bersafari spiritual. Dengan sendirinya, kita bisa menjadikan ramadhan sebagai momentum evaluasidiri, sebagai sarana diri untuk membangun pribadi yang mulia di mata Allah SWT dan bermanfaat bagi manusia lainnya. Marilah kita hiasi sisa ramadhan ini dengan sebaik-baikibadah, dengan cara saling membantu meringankan beban ekonomi saudara-saudara kitayang jatuh akibat dampak dari pandemi Covid19. Inilah saatnya kita berwisata ruhaniyah, dan mulailah berbulan madu dengan Tuhan disamudera lailatul qadr di sisa Ramadhan 1442 H ini. *)













